Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Upah Minimum Tahun Depan Tidak Naik? Sudah Saatnya Kita “Melek” Emas

upah-minimum-tahun-depan-tidak-naik-sudah-saatnya-kita-melek-emas-ozyalandika
Sudah Saatnya Kita “Melek” Emas. Dok. Ozyalandika.com

Upah Minimum tahun depan tidak naik, begitulah keputusan pokok yang tertuang dalam Surat Edaran Menteri Ketenagakerjaan RI No. M/ll/HK.04/X/2020 tentang Penetapan Upah Minimum Tahun 2021 Pada Masa Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Surat Edaran yang langsung ditandatangani oleh Menaker Ida Fauziyah ini telah ditujukan kepada para Gubernur seluruh Indonesia, untuk kemudian disosialisasikan lebih lanjut.

Sejatinya, ketetapan akan Upah Minimum Provinsi dilakukan oleh Gubernur masing-masing provinsi. Meski begitu, SE Menaker yang telah beredar ini mengharapkan agar para pemangku kebijakan bisa menyesuaikan kebijakan dengan mempertimbangkan kemerosotan ekonomi nasional.

Saat ini, menurut tuturan Bu Ida yang dikutip dari Kompas.com, sampai tanggal 28 Oktober 2020 kemarin sudah ada 18 provinsi yang setuju bahwa Upah Minimum tahun 2021 sama dengan 2020.

Memang, ketika kita melihat gebrakan dan kebijakan dari beberapa daerah seperti DKI Jakarta, DIY, hingga Jateng, para pemangku kebijakan terkait menaikkan UMP dengan syarat dan ketentuan tertentu. Hanya saja, para pekerja sedikit banyak akan dibuat resah.

Di sisi lain, kita tak bisa memungkiri fakta bahwasannya pemerintah masih terus memberikan subsidi alias bantuan kepada para pekerja secara intens.

Baik karyawan dengan gaji di bawah lima juta, para honorer, hingga UMKM masih terus diberikan subsidi demi menopang ekonomi rumah tangga. Lebih dari itu, di sektor pendidikan pun juga diberikan bantuan berupa subsidi kuota internet demi mendukung pembelajaran.

Ketika kita menatap berbagai sisi kebijakan, rasanya pemerintah sudah cukup berjuang. Meski begitu, ketika kita menatap eksistensi perekonomian di tengah pandemi, hal ini malah mendatangkan dilema.

Terang saja, tidak semua sektor perekonomian warga yang masih dapat merengkuh kata “stabil”. Tak perlu jauh-jauh, kita tatap saja dari sektor ekonomi pertanian. Para petani hingga saat ini masih gusar karena harga sayuran “mampet” dan “macet”.

Syahdan, di sisi pendidikan juga begitu. Sebagai imbas dari pandemi, banyak guru honorer yang akhirnya tidak mendapat gaji. Begitu pula dengan guru-guru bimbel. Semenjak UN dihapuskan, minat terhadap bimbel mulai berkurang. Alhasil, semakin banyaklah timbul keresahan.

Di prospek pikir yang lebih jauh, keresahan atas tidak naiknya UMP akan terus berdatangan. Mengapa dikatakan demikian? Ya, kita cukup khawatir dengan pergerakan inflasi.

Dalam setiap tahun, pergerakan persen inflasi cenderung naik. Kalau inflasi meningkat, otomatis pengeluaran kita akan bertambah. Dengan demikian, gaji alias penghasilan kita juga harus ditambah, kan? Inilah permasalahan utama sekaligus harapan mengapa Upah perlu dinaikkan.

Kita hadirkan contoh sederhana. Semisal, bulan ini harga gula pasir adalah Rp.12.000/kg. Gara-gara inflasi dan pergolakan pandemi, bisa saja harga si gula naik menjadi Rp.15.000-20.000/kg, kan? Begitulah. Peluang kenaikan adalah kencenderungan yang bisa terus terjadi.

Kalaulah kemudian kecenderungan kenaikan ini berimbang dengan penghasilan kita, enak juga. Semisal, ada petani sayuran yang penghasilannya tiap bulan naik, gara-gara harga sayuran juga naik. Dari sini, si petani akan cenderung aman walau terguncang oleh fenomena inflasi.

Tapi, bagaimana bila kasus yang terjadi malah sebaliknya? Harga kebutuhan pokok naik, sedangkan penghasilan kita berkurang di setiap bulannya? Tentu saja akan repot dan kesusahan, kan? Maka dari itulah, mulai saat ini, kita perlu mengatur strategi finansial diri dan keluarga.

Upah Minimum Tidak Naik, Diperlukan Strategi Finansial yang Bijak

Bagaimana mengatur strategi finansial diri dan keluarga yang mantap? Pertama, hal yang wajib untuk kita lakukan adalah memanajemen kebutuhan dan keinginan. Kedengarannya cukup sederhana, kan? Ya, begitulah. Sederhana namun krusial.

Penjelasannya seperti ini. Misal, dalam waktu satu bulan, kita menghasilkan gaji Rp.1.500.000 dengan rincian kebutuhan pengeluaran Rp.750.000, dan keinginan pengeluaran sebesar Rp.500.000. Sedangkan sisanya, adalah untuk uang jaga-jaga.

Kalau kita menatap pergolakan pandemi dan kebijakan Upah Minimum yang tidak naik, maka manajemen finansial ini harus diubah, kan? Tentu saja. Kalau tidak, kita akan rugi dan terus kekurangan, bahkan sampai mencari-cari utang demi menutup lubang.

Lalu, apa yang perlu kita manage? Kebutuhan, atau keinginan? Tentu saja keinginan. Kalau rincian dana kebutuhan yang kita kurangi, sama saja dengan kita mengurangi jatah makan maupun jatah kebutuhan pokok lainnya.

upah-minimum-tahun-depan-tidak-naik-sudah-saatnya-kita-melek-emas-ozyalandika-1
Atur strategi keinginan dan kebutuhan. Dok. Ozyalandika.com

Hal ini tentu tidak baik bagi keterlanjutan hubungan rumah tangga. Sederhananya, masa iya keluarga di rumah tak lagi bisa makan enak walaupun hanya sehari?

Maka dari itu, yang perlu diporsir adalah gaya hidup, alias keinginan. Apa yang kita inginkan, belum tentu kita butuhkan. Maka dari itulah, akan gawat bila keinginan kita lebih tinggi daripada kebutuhan. Artinya, sama saja dengan hura-hura alias membuang-buang uang untuk hal yang tak penting. Alhasil, ingin kita jangan banyak-banyak, ya. Soalnya kebutuhan harian sudah banyak.

Sudah Saatnya Kita “Melek” Emas

Selain mengatur prioritas kebutuhan keuangan di rumah dengan menekan gaya hidup, saya rasa, sudah saatnya hari ini kita mulai “melek” dengan emas. Emas alias logam mulia adalah jalan yang mantap bagi kita untuk menyelamatkan uang.

upah-minimum-tahun-depan-tidak-naik-sudah-saatnya-kita-melek-emas-ozyalandika-2
Ilustrasi emas versus inflasi. Dok. Ozyalandika.com/pic.Pexels

Barangkali, di luar sana banyak orang memahami bahwa emas adalah jalan untuk investasi. Itu benar, tapi, tidak sepenuhnya benar. Sebagaimana kita ketahui, sejatinya investasi identik dengan keuntungan yang bisa kita peroleh dalam kurun waktu tertentu.

Tapi kalau emas? Emas bernilai investasi sekaligus bernilai keberkahan. Bukankah ada kalam Nabi yang menerangkan bahwa di akhir zaman tidak ada yang bermanfaat kecuali dinar (emas) dan dirham (perak)? Inilah poin penting sekaligus yang saya maksud dengan keberkahan.

Hadirnya emas di simpanan tabungan kita dapat menjadi keberkahan sekaligus tameng dalam menghadapi inflasi. Dari dulu sampai sekarang, harga kambing tetap senilai 2-3 gram emas saja, kan? Begitulah. Tapi dalam nilai rupiah, harga kambing terus mengalami kenaikan
Hal ini juga berlaku andai kita dan keluarga punya impian tinggi di masa depan. Semisal, beli rumah, beli mobil, dan naik haji. untuk mendapatkan impian ini, tidak cukup dengan waktu 1-2 bulan saja, kan? Begitulah. Setidaknya butuh waktu 3-10 tahun untuk mencapainya.

Pertanyaan saya? Apakah mungkin dalam 3-10 tahun ke depan harga rumah, mobil, maupun biaya naik haji masih sama? Tentu saja tidak. Hari demi hari, harga kebutuhan semakin naik. Harga bahan baku pembuatan rumah, naik. Harga mobil, naik. Bahkan harga mobil-mobilan pun naik.

Maka dari itulah, jalan yang bijak bagi kita untuk mengabulkan impian di tengah kemerosotan ekonomi adalah dengan mulai menabung emas.

Mengapa tidak menabung uang di bank saja? Perhitungannya seperti ini. Semisal, kita ada uang Rp5juta di bank. Kalau kita ambil 3 tahun lagi, berapa nilai tabungan kita. Mungkinkah naik hingga 10 juta? Tidak mungkin, Bro. Malahan turun.

Lho, kok turun? Hitung saja. Uang potongan admin, berapa. Uang potongan pakai kartu ATM, berapa. Kalau kita tetapkan saja ADM di bank tiap bulannya adalah 5ribu, berarti dalam waktu 3 tahun, uang kita yang Rp5juta tadi akan berkurang senilai (5ribu x 36 bulan) Rp.180.000.

Rugi, kan? Ya. Hari ini, uang segitu bisa dapat 18 mangkuk bakso.

Beda kisahnya jika uang Rp5juta tadi kita belikan emas. Anggaplah 5juta itu kita tukar dengan 5gram emas. Kita tabung, dan emasnya kita simpan sendiri. 3 tahun kemudian, akankah emas kita bertambah? Tentu tidak.

Lho, kok tidak? Ya, emas 5 gram ya tetap 5 gram itulah, kan. Tidak mungkin bertambah jadi satu kilogram. Hehehe. Woles, Bro. Berat emas tidak akan bertambah, tapi nilai emas ketika kita uangkan akan bertambah.

Bukankah kecenderungan harga emas itu naik? Tentu saja. Kita bisa perhatikan grafik emas berikut ini:

upah-minimum-tahun-depan-tidak-naik-sudah-saatnya-kita-melek-emas-ozyalandika-3
Analisis pertumbuhan dan pergerakan emas. Dok. EOAGold.id

Menurut ulasan sekaligus analisis EOAGold, pertumbuhan emas murni rata-rata berdiri di angka 15 % sampai 40% per tahun. Kenaikannya cukup tinggi, kan? inilah salah satu kehebatan emas.

Kalau kita bandingkan dengan kenaikan harga barang, misalnya kenaikan harga barang berkisar 3-6 % pertahun. Kalau kita beli emas, kita masih dapat untung, kan?

Satu lagi, nih. Biar puas dan lega. Kita bandingkan emas dengan tabungan uang di bank. Berapakah suku bunga ketika kita menabung di bank? Bahkan, kalau tabungan kita sudah ada Rp500juta, suku bunganya paling-paling berkisar antara 2-2,5 % saja. Kecil, kan?

Belum lagi dosa riba, nya. Mengerikan! Jangan, deh. Kalau kita ada banyak tabungan, mending belikan emas. Untuk apa kita banyak uang, kalau uang itu adalah uang riba, kan! Hemm.

***

Dari tadi cerita emas, memangnya si pencerita sudah mulai menabung emas apa? Oh, ya. Sudah. Saya sudah memulai menabung emas baru-baru ini. Saya mencoba untuk melek emas sekaligus memporsir gaya hidup.

Kebetulan, emas yang saya tabung adalah logam mulia bernama EOAGold. Ini emas murni, asli, 24 karat.

Mengapa saya tidak menabung produk emas lainnya?

Menurut saya, EOA Gold lebih baik dan lebih berkah. Di EOA Gold, tersedia emas ukuran mini 0,1 gram sampai 5 gram. Dan yang lebih hebatnya lagi, founder EOA Gold adalah seorang muslim.

Syahdan, perusahaan EOA Gold sendiri bukanlah perusahaan investasi. Jadi, ketika kita menjual lagi emas yang telah dibeli, kita tidak akan dikenakan potongan pajak. Belinya emas EOA Gold akadnya pun mudah. Tinggal bayar transfer ataupun tunai, lalu si emas akan sampai di rumah.

Beli sama siapa, Bro?

Oh, tenang. Anda bisa beli dengan saya. Untuk area Curup, Kepahiang, Lebong dan sekitarnya, Insyaa Allah, emas akan saya antar sendiri ke rumah. Tenang! Saya akan kasih ilmunya juga. Ilmu menabung emas. Gratis..tis...tis.

Anda tertarik? Alhamdulillah. Boleh japri saya di WA. 085764236790. Atau, klik saja icon WA yang ada pada bagian bawah artikel ini. Semoga berkah, ya. Aamiin.

Posting Komentar untuk "Upah Minimum Tahun Depan Tidak Naik? Sudah Saatnya Kita “Melek” Emas"