Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Story Whatsapp, Metode Pembelajaran dari Rumah yang Sederhana bin Asyik

story-whatsapp-metode-pembelajaran-dari-rumah-yang-sederhana-bin-asyik-ozyalandika
Story Whatsapp, Metode Pembelajaran dari Rumah yang Sederhana bin Asyik. Dok. Ozyalandika.com/canva

Semenjak hadirnya pandemi di Bumi Pertiwi, paradigma pembelajaran jadi bergeser. Visi belajar-mengajar yang kemarin lebih sering berfokus pada sistem tatap muka sekarang sudah berganti menjadi ulikan metode pembelajaran dari rumah.

Lambat laun, pemanfaatan media literasi dan belajar digital makin fleksibel seiring dengan meningkatnya kemampuan multitasking seorang pembelajar. Kemarin lebih sering bekerja di luar, sekarang lebih bertitik tumpu pada layar digital memanfaatkan jaringan internet.

Dalam rangka menghadapi revolusi industri 4.0 rasanya perubahan paradigma belajar dari rumah ini malah menjadi kabar baik.

Terang saja, para pelaku pendidikan di seluruh penjuru Bumi Indonesia seakan dipaksa untuk beradaptasi dengan teknologi demi cita-cita digitalisasi pendidikan. Dengan demikian, dimanfaatkanlah berbagai aplikasi sembari mencipta metode pembelajaran dari rumah.

Sejatinya metode mengajar di era Pembelajaran Jarak Jauh tidak harus yang terlihat “wah” atau “wuizz, keren abizz!”. Menimbang unsur kebermanfaatan, metode pembelajaran dari rumah haruslah metode yang sederhana namun asyik.

Mengapa saya sebut sederhana? Ya, metode pembelajaran di era pandemi harus bersandar pada pembelajaran yang efektif, inovatif, serta tidak memberatkan siswa.

Kita tahu bahwa sejatinya belajar dari rumah sifatnya lebih fleksibel dan tidak terikat. Hanya saja, kecenderungan yang terjadi hari ini adalah, para siswa malah bosan belajar dari rumah. Hal ini dapat kita cermati dari survei, salah satunya survei UNICEF beberapa bulan yang lalu.

survei-unicef-belajar-dari-rumah-ozyalandika
Survei UNICEF. Dok. Ozyalandika.com/canva

Survei yang melibatkan ribuan siswa untuk mengetahui pelaksanaan PJJ dan perasaan para siswa ini berkesimpulan bahwa sebanyak 87% responden begitu menginginkan agar sekolah dibuka. Artinya, para siswa ingin segera belajar tatap muka, kan?

Begitulah. Seakan-akan pembelajaran dari rumah tidak menyenangkan saja! Masih bersandar pada survei UNICEF, pembelajaran dari rumah tidak optimal karena siswa kurang dibimbing oleh guru, sinyal internet buruk, ketidak-tersediaan kuota internet, hingga tugas yang terlalu banyak.

Kalau sudah seperti ini, bukankah kegiatan belajar dari jauh jadi tidak asyik dan menyenangkan? Terlebih lagi jika gaya pembelajarannya full online, barangkali akan lebih bosan lagi. Maka dari itulah, belajar dari rumah dengan sistem hybrid boleh dicoba sebagai variasi mengajar.

Misalnya, pembelajaran dari rumah divariasikan dengan sistem guru kunjung dan sesekali menerapkan kelas terbatas. Agaknya cara ini akan lebih mendukung pencapaian pembelajaran yang efektif.

Meski demikian, ketika hendak berkisah tentang pembelajaran efektif, maka kita perlu mengulik lebih jauh tentang metode pembelajaran guru dalam rangka belajar dari rumah.

Ada banyak aplikasi dan platform digital yang bisa guru pakai untuk memaksimalkan kegiatan belajar dari rumah. Sebut saja seperti Youtube, Zoom, Powtoon, Google Meet, Microsoft Team, Zenius, Ruangguru, Rumah Belajar, hingga yang lainnya.

Baca jugaPJJ, Bukti Digitalisasi Pendidikan Semestinya Bukan Sekadar Teori

Karena tersedia banyak “menu” aplikasi digital, maka guru bebas untuk memilih mana yang terbaik sebagai media ajar dalam jaringan. Tetapi, ada satu hal yang kiranya perlu dipertimbangan, yaitu kekesuaian media ajar dengan kesanggupan siswa.

Maksudnya seperti ini, sehebat apapun sebuah aplikasi maupun platform digital, kalau dari sisi siswa menyatakan ketidaksanggupannya, maka media digital tadi jadi tak bernilai efektif.

Contoh, guru menggunakan metode pembelajaran dari rumah dengan melibatkan Zoom Meeting, sedangkan di tempat tinggal para siswanya tidak didukung oleh sinyal internet yang kencang. Kalau kejadiannya seperti itu, maka guru perlu mengganti metode pembelajarannya.

Syahdan, metode pembelajaran apa yang bisa guru pilih?

Story Whatsapp, Metode Pembelajaran dari Rumah yang Sederhana bin Asyik

Salah satu aplikasi kekinian yang bisa memaksimalkan kegiatan belajar dari rumah secara efektif dan efisien adalah Whatsapp. Dalam hal ini, kita sebagai guru bisa memanfaatkan story Whatsapp untuk membagikan materi ajar, terutama materi yang berbentuk video.

Mengapa harus Whatsapp? Kita tidak berbicara sebuah keharusan, melainkan berkisah tentang metode pembelajaran mana yang lebih efektif dan sesuai dengan tingkat kesanggupan siswa.

Secara umum, semua aplikasi dan media digital itu baik dan tidak ada yang jelek, kecuali para pengguna yang menjelekkannya. Tapi secara khusus, guru perlu mempertimbangkan kecenderungan aplikasi yang sering dipakai oleh siswa dalam kegiatan sehari-hari.

Menilik dari hasil survei yang dilakukan oleh rombongan Kemendikbud tentang aktivitas belajar siswa selama PJJ, didapatilah data bahwa hampir semua siswa maupun guru menggunakan aplikasi Whatsapp saat belajar dari rumah.

aktivitas-belajar-dari-rumah-ozyalandika
Survei Aktivitas Belajar oleh Kemendikbud. Dok. Ozyalandika.com

Rinciannya, 85,9 persen siswa SD, 86,4 persen siswa SMP, 87,5 persen siswa SMA, dan 86,9 persen siswa SMK lebih memilih aplikasi Whatsapp dalam menjalankan aktivitas belajar dari rumah.

Berarti, aplikasi Whatsapp sukses besar, dong? Mr. Jan Koum selaku pemilik WA pasti senang. 😃

Eh, tapi, sebenarnya data ini bisa dijadikan dasar bin rujukan bagi guru untuk memilih metode pembelajaran yang sederhana bin asyik. Karena kecenderungan aplikasi belajar yang dipakai sehari-hari adalah WA, maka mengapa tidak guru maksimalkan saja fitur yang ada di WA.

Salah satu contoh, fitur story Whatsapp.

Sebenarnya banyak fitur lain yang biasanya kita manfaatkan sehari-hari. Mulai dari voice note, video call, berkirim foto, video, PDF, Grup WA, hingga broadcast messages. Tapi, sebagian dari fitur ini tidak cukup asyik untuk dipakai dalam metode pembelajaran, kan?

Bisa dibilang demikian. Semisal, belajar menggunakan WA Grup, lalu gurunya sekadar mengirimkan foto tugas, dokumen tugas, atau bahkan sekadar menuangkan link youtube video pembelajaran.

Boleh bacaMenerapkan Strategi Inkuiri

Terkadang, siswa mudah bosan dengan hal yang begituan. Terang saja, selain berkesan hanya memindahkan tugas dari media konvensional ke media digital, keberadaan grup WA seringkali bikin “rusuh”. Terlebih lagi jumlah pesan di sana suka menumpuk. Haduh, males mo scrolling.

Maka dari itulah saya tawarkan metode pembelajaran dengan menggunakan story Whatsapp.

Sebagaimana kita ketahui, story Whatsapp adalah sebuah fitur share foto, tulisan, dan video yang akan bertahan selama 24 jam. Jadi, siapapun teman kita alias mereka yang menyimpan nomor WA kita bisa melihat story WA hingga satu hari penuh.

Adapun untuk fitur unggah video di story Whatsapp, durasi video dalam setiap satu story WA hanya 30 detik saja. Kalau kita mempunyai video durasi 1 menit, maka untuk menjadi story, video tadi harus kita bagi dua ketika diunggah. Namun, aplikasi WA secara otomatis akan membaginya.

Nah, kalau kita kaitkan dengan pembelajaran, bukankah durasi 30 detik cukup asyik dan sederhana untuk membuat seorang siswa fokus?

Begitulah. Setidaknya, ketika seseorang melihat story Whatsapp yang (mungkin) ia penasaran, maka story tadi bakal ia ulang hingga beberapa kali. Terkadang, kalau merasa terinspirasi, seseorang tadi pun bisa japri kita untuk mengirimkan video dalam durasi utuh.

Ketika proses pembelajaran dari rumah juga seperti ini bayangan kasusnya, bukankah lebih asyik? Pastinya. Materi yang simpel, sederhana, berbobot, padat, dan tidak terlalu memakan waktu lama biasanya akan membuat fokus para siswa terarah sepenuhnya.

Saya kira, keasyikan dan kesederhanaan metode pembelajaran ini ada pada fitur story Whatsapp. Selain tidak memakan banyak kuota (seperti halnya Instagram, Youtube, hingga Zoom), kecenderungan siswa untuk membuka WA juga besar, serta muatan materinya bisa kita padatkan.

Dan terpenting, kesederhanaan dan keasyikan mengajar menggunakan story WA juga berkesan mewah ketika guru mampu melakukan inovasi serta meng-kreasikan video pembelajaran semenarik mungkin. Tak perlu panjang-panjang durasinya, yang penting mudah dipahami siswa.

Lalu, bagaimana cara membuat videonya? 

Tenang, di Google Playstore sebenarnya sudah tersedia banyak sekali aplikasi pembuat video versi Android. Di Google juga demikian, banyak juga aplikasi peracik video yang bisa kita install di laptop. Meski begitu, ada yang lebih mudah lagi daripada kedua aplikasi ini. Penasaran?

Ya, guru bisa menggunakan aplikasi Microsoft PowerPoint untuk membuat video pembelajaran yang menarik dalam rangka belajar dari rumah. Meskipun PowerPoint kelihatannya sederhana, namun andai kita bisa memilah dan memilih animasi yang keren, maka jadi keren pula video kita.

Contohnya, bisa kalian simak pada video berikut ini:

 

Kebetulan saya menggunakan Microsoft PowerPoint edisi 2013. Di sana sudah tersedia fitur insert Video, Insert Audio, transisi, hingga berbagai animasi slide.

Dalam hal meracik video pembelajaran dari rumah, langkah-langkah yang bisa kita tempuh antara lain:

  • Buka Microsoft PowerPoint
  • Klik New – Blank Presentationpower-point-belajar-dari-rumah-2-ozyalandika
  • Atur ukuran slide di menu Design – Slide Size. Pilih ukuran sesuai dengan layar Android kita.
  • Format Background Slide. Caranya, klik kanan slide – pilih Format Background. Anda bisa memilih Background warna solid, warna gradasi, pattern, maupun gambar.
  • Masukkan gambar, tulisan, dan materi pembelajaran dalam slide kita.power-point-belajar-dari-rumah-ozyalandika
  • Atur animasi dengan meng-klik gambar/tulisan, lalu pilih menu Animation. Pilih jenis Animasi yang berwarna hijau, dan format Animasi tadi dengan setelan With Previous. Kita bisa menyetel Duration dan Delay sesukanya. Lakukan langkah yang sama di slide kedua.
  • Kita juga bisa menambahkan transisi. Caranya, klik Transitions, lalu pilih fitur transisi mana yang kita suka.power-point-belajar-dari-rumah-1-ozyalandika
  • Insert Audio. Kita bisa menambahkan Audio dan memutarnya di belakang layar. Caranya, klik insert Audio. Nanti pada menu Playback, kita klik Play in Background dan pilih Start Automaticaly. Kita juga bisa menentukan durasi Audio dengan klik Trim.
  • Jika sudah selesai, kita bisa save slide dengan format MPEG-4 Video. Silakan tunggu beberapa menit.

Ketika video telah siap, kita bisa mengunggahnya di story Whatsapp. Sederhana bin asyik, kan? Tentu saja. Mengerjakannya pun hanya sebentar, namun muatan materinya tidak kalah dengan webinar di Zoom. Tinggal bagaimana kreasi guru dalam menyajikan materi tersebut.

Pokoknya, semangat selalu, ya. O, ya. Di bawah ini juga saya sajikan contoh slide PowerPoint. Kalian bisa langsung download secara gratis serta memodifikasinya menjadi semenarik mungkin. Silakan klik “download”. Semoga Bermanfaat.

DOWNLOAD SLIDE VIDEO PEMBELAJARAN.PPT

14 komentar untuk "Story Whatsapp, Metode Pembelajaran dari Rumah yang Sederhana bin Asyik"

  1. Bermanfaat. Trimakasih untuk artikelnya Bang..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas hadirnya, Pak. Salam hangat 😀

      Hapus
  2. Mantull, tutorial video pptnya bisa banget dicoba..
    Terengkyuh 😁

    BalasHapus
  3. Wah Bang Ozy sangat bermanfaat dan pengetahuan baru. Didasari data argumen ilmiah....pas sekali rasanya menggunakan media wa dan memadukan. Video pendek. Mohon bimbingannya bikin video dengan ppt nggih terima kasih ilmunya. Seandainya ini diangkat ke lomba mungkin sukses. Salam sukses selalu nggih .....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Pak Hariyanto. Siap Pak, PPT bisa didownoad pada akhir artikel.:-) Aamiin. Semoga di lain kesempatan ya Pak.
      Salam hangat dan salam sukses selalu Pak :-)

      Hapus
  4. Bikinin donk, Pak, buat belajar anak saya 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nanti anak Bu Yana gak belajar, cuma liatin snap wkwk.
      Canda, Bu
      Makasih selalu 😀

      Hapus
  5. Keren, trimakasih aku sudah mencicipi menu di Ozzy Alandika

    BalasHapus