Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Puisi - Tentang Orang yang Celaka di Kehidupan Abadi

puisi-tentang-orang-yang-celaka-di-kehidupan-abadi
Tentang Orang yang Celaka di Kehidupan Abadi. Foto: Khusen Rustamov dari Pixabay 

Dingin membelenggu tubuh di antara hitam dan putih. Keabu-abuan pandangan kornea, menjadikan dunia hijau menjadi pudar. Hanya terlihat merah darah yang jelas di mata cokelat pekat itu.

Hitam tinta terukir menodai kertas putih di hati. Memengaruhi seluruh tekanan batin. Menjadikan yang suci sebagai seorang yang tak pantas dikasihi.

Awalnya putih mendominasi menjadi abu-abu yang berambisi. Masih di dalam sebuah kenaifan, yang kurang teguh pendirian jiwa dan hatinya.

Hijau luaran sana yang indah, dianggapnya tak menarik kembali. Akibat kekalutan hitam di hatinya. Ditanya, sebab berubah putihnya. Ternyata tak dikuatkannya iman taqwa kepada Sang Pencipta.

Merah darah? Ah, tidak. Bahkan akibat pengaruh perubahan bukan hanya merah darah yang dihadapinya. Tapi juga laut api kekelaman menghampirinya.

Sehingga netral cokelat, tak lagi bisa membantunya. Ketidakpercayaan terhadap Qadarullah menjadikannya terjerumus ke lubang hitam. Lingkaran kesesatan. Tak ada lagi yang bisa menyadarkannya. Allah menutup pintu hatinya.

Menjadi orang celaka di kehidupan abadi didapat akhirnya.

Puisi Karya:   Khairia Nurlita.

Posting Komentar untuk "Puisi - Tentang Orang yang Celaka di Kehidupan Abadi"