Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Puisi - Seorang Pemuda yang Masih Betah dengan Sepi

puisi-seorang-pemuda-yang-masih-betah-dengan-sepi
Seorang Pemuda yang Masih Betah dengan Sepi. Foto: Pixabay

Satu demi satu dedaunan telah jatuh dan turun ke jalan. Mereka mendatangkan keramaian, juga kesepian bagi para penanti takdir. Ada berbagai sanggah untuk menyelesaikan sepi. Tiap daun berbeda kisah dan tujuan.

Ranting-ranting tak bisa memaksakan, apalagi menggoyang-goyang. Daun akan jatuh ketika hari itu tiba. Hembusan angin hanya perantara, sedangkan hembusan rasa adalah benarnya.

Seorang pemuda yang masih betah dengan sepi adalah sehelai daun itu. Dia masih betah berdamping dengan ranting. Dia masih kokoh walau diombang-ambing angin. Dia berdiri sendirian, walau harus berteman dengan sepi.

Saban hari, ada saja dedaunan yang menemukan rumah baru. Tapi tidak dengan pemuda yang masih betah dengan sepi. Dia mungkin ingin menjatuhkan diri ketika melihat dua cincin tergantung di udara. Tapi nanti, belum takdirnya.

Biarlah dia tetap menjadi pemuda yang masih betah dengan sepi. Daripada dia betah dengan keramaian tapi kesepian. Dia daun yang berbeda, tapi punya asa. Bersandar kepada Sang Kuasa.

Ditulis oleh Ozy V. Alandika

2 komentar untuk "Puisi - Seorang Pemuda yang Masih Betah dengan Sepi"