Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Puisi - Perihal Bertanya

puisi-perihal-bertanya
Puisi - Perihal Bertanya. Gambar oleh Free-Photos dari Pixabay 

Ia memandang ke arah jumantara. Bertanya, tanpa tahu jawabannya. Sekali lagi, bertanya pada yang diam itu. Biru seperti laut.  Tapi, ia bukan laut. Putih seperti kapas. Tapi, ia bukan kapas. Ya, jumantara sebutannya. 

Ia mengagumi alam semesta. Yang luasnya tak terkira. Tapi lebih luas lagi surga. Yang tak tahu kelihatannya. Tapi ada.

Menjadi Pluto. Yang tak dianggap kehadirannya. Atau menjadi matahari, yang menyinari. Ah, entahlah. Ini seperti misteri.

Matahari, dikitari bumi. Bumi, dikitari bulan. Dan bulan? Mengitari diri sendiri.

Tapi ia juga empati pada bumi. Yang rela dirusaki, oleh penghuninya sendiri.

Kau tahu tidak?

Abad itu, 100 tahun.

Tahun itu, 12 bulan.

Bulan itu, 30 hari.

Hari itu, 24 jam.

Jam itu, 60 menit

Menit itu, 60 detik.

Dan, kapan aku bisa melupakan hadirmu?

Puisi Karya: Aulia AN.

2 komentar untuk "Puisi - Perihal Bertanya"