Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Puisi – Pemuda yang Duduk Manis Menyambut Arunika November

puisi-pemuda-yang-duduk-manis-menyambut-arunika-november-ozyalandika
Pemuda yang Duduk Manis Menyambut Arunika November. Dok. Ozyalandika.com/diolah dari canva

Hujan, cinta, dan rindu selalu menghiasi langit-langit November. Segenap tanah tandus merindukan mendung. Segerombol kelopak bunga menunggu basah.

Setumpuk rindu dalam penantian telah ditinggalkan oleh purnama terakhir Oktober. Masih terbawa rinai hujan. Juga tak terlupa tentang cinta dan rindu.

Tapi, tidak dengan pemuda yang sedang duduk manis. Dia membenci hujan. Dia tak ingin bersahabat dengan elegi. Dia bersengketa dengan rindunya sendiri. Karena hujan, elegi, dan rindu telah menerbitkan sepi.

Sang pemuda masih punya cinta. Karena dia tahu bahwa cinta itu tak pernah menghadirkan hujan, sepi, juga elegi. 

Karena cinta, dia terus duduk manis menyambut arunika November. Dia tak kesepian, walau mungkin basah. Dia tidak gelisah, walau mungkin bermuka ratap di sebalik wajah.

Pemuda yang duduk manis menyambut arunika November. Surya adalah cerahnya. Sedangkan swastamita adalah jarak tunggunya sembari mengukur purnama.

Seberapa dekat jarak bangku dengan cinta. Seberapa panjang jarak cinta dengan takdirnya. Dia tetap duduk manis bersandarkan doa, yang mungkin bisa mengubah kuasa.

Salam.
Ditulis oleh Ozy V. Alandika

*Arunika: Waktu Matahari Terbit


4 komentar untuk "Puisi – Pemuda yang Duduk Manis Menyambut Arunika November"

  1. Kali ini, tentang pemuda dengan cita dan cinta. Keduanya menyatu dalam satu harap pada Yang Kuasa. Ia percaya, suatu waktu cita-cita cinta akan tersenyum memeluk takdirnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahsiyyap, mantab, mbak. Mencoba menepis hujan, rindu, dan sepi.
      Terengkyuh 😀

      Hapus
  2. Balasan
    1. Ada, Pak. Kalo nanti ngilang, cari baru. 🤭🤭🤭

      Hapus