Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Puisi - Nirwana dalam Sebuah Fiksi

nirwana-dalam-sebuah-fiksi
Nirwana dalam Sebuah Fiksi. Foto: Pixabay

Di atas nirwana kalbu, tercipta sebuah tajuk dilukiskan sang penghanyut rasi. Tiada yang melakoni, Dengan cerita yang mengayomi. Seorang pun tiada yang tahu, siapa wujud asli. Semua orang pecaya, dia hebat menentu aksi.

Jika benar bukan fantasi, kenapa dia selau bernarasi. Terkadang sedih mendominasi. Kadang tawa pula menghiasi. Jika hanya sebuah fiksi, mengapa rasa tak dapat dipungkiri. Di kala sampai di tengah puisi, dia terduduk seakan mengingat suatu hati.

Tak ada yang melihat, tapi semua mengetahui. Tak ada yang mendengar, tapi bumi pun ikut bersedih. Apa sebenarnya tajuk kiasan yang dialaminya. Hingga akan berakhir prosa dari bibirnya, makin kalut semua kesadarannya. 

Serasa batin berkata. Saat telontar akhir dari aksara hatinya. Bersama mentari yang bersedih tak lagi menampakkan tangisannya. Dan rembulan yang senantiasa menunggu akhir kata manisnya. Saat itu pula, singa kecil itu berkata sembari mengeluarkan keluh matanya.

 "Mentari yang datang tak dapat dijadikan sandaran. Narasi yang diciptakan tak dapat menjadi pedoman. nirwana yang indah tak dapat dijadikan tempat berpulang. Dia yang dirindukan tak lagi kembali meski jutaan kiasaan aku ungkapkan."

Puisi Karya: Khairia Nurlita

Posting Komentar untuk "Puisi - Nirwana dalam Sebuah Fiksi"