Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Puisi - Jam Usang dan Kursi Tua

puisi-jam-usang-dan-kursi-tua
Jam Usang dan Kursi Tua. Foto: Pixabay

Tik tok tik tok, lihat jam itu usang dan tua. Setiap hari menjadi saksi bisu jatuhnya embun netraku. Bau tanah yang bersentuhan air Tuhan menjadikan senja ini menjadi lebih apik dibandingkan saat mentari menampakkan diri.

Kursi tua ini pula menjadi saksi, di mana kaki berpijak di alunan musik klasik dengan orkestra menjadi pengiring tangis pilu. Merasa diri adalah orang yang paling tak beruntung.

Menyelesaikan taman di ujung pulau, dengan fakta taman itu sebuah taman milik serigala. Saat kembali ke taman sendiri, hati tercengang apa yang terjadi.

Ternyata, bahagia bukan diukir dari sebuah peluh tangis, keluh dan kesah. Taman hatiku sendiri indah bersama jam tua sebagai ciri khas, embun netra yang menghias, air Tuhan yang berkunjung, kursi tua yang menemani.

Puisi Karya: Khairia Nurlita.

2 komentar untuk "Puisi - Jam Usang dan Kursi Tua"