Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Puisi - Harap yang Kemarin Dirindukan

harap-yang-kemarin-dirindukan
Harap yang Kemarin Dirindukan. Foto Diolah dari Pexels

Tak terasa segunung diksi menghadiahkanku kabar gembira. Segembira para semut yang kejatuhan manisnya air gula. Setelah kemarin mengembara, tibalah aku di jelang akhir episodenya.

Bukan akhir untuk kisah penyelesai, melainkan akhir dari kerinduan harap setelah duduk manis bersanding dengan dua belas purnama.

Sudah terang. Seberkas kertas lusuh jelas tahu bahwa aku kesepian. Meskipun aku lebih tahu, sebenarnya kertas putih tanpa tinta itu lebih lusuh daripada bercak rindu di sanubariku.

Aku dan kertas tidaklah sama. Kertas hanya menanti tinta, sedangkan relung pikir menghadiahkan aku diksi saban hari.

Kutulis cinta, kemudian dihadiahkan oleh diksi tentang bagaimana caraku merindu. Syahdan, rindu itu berbalas dengan menghadirkan keramaian. Kata demi kata sudah menghiburku.

Hingga tibalah aku di jelang purnama sebentar lagi. Bulan hari ini masih sabit, sembari menyodorkan seberkas harap yang kemarin dirindukan.

Aku mungkin boleh berharap, sebagaimana diksi harap merindukanku. Aku juga boleh merindu, sebagaimana harap mengetuk-ngetuk kata menanam di lahan inspirasi.

Purnama sempurna sudah dekat, jadi aku perlu bersiap menjemput seutas rinduku sendiri. Mungkin kesempurnaan itu akan jadi kabar baik. Tapi, mungkin juga tidak akan terlalu baik.

Seuntai doa bisa saja menenangkan. Juga, memberitahu bahwa harap yang kemarin dirindukan mungkin melebarkan waktu tunggu lebih jauh.

Sudah. Aku tak perlu menunggu. Bisa berkarat segunung diksiku. Aku hanya perlu memperbaiki prasangkaku sebagaimana harap memperbaiki waktu tunggu untu merindu.

By ~ Ozy V. Alandika

4 komentar untuk "Puisi - Harap yang Kemarin Dirindukan"