Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Puisi - Antara Taman dan Kota

puisi-antara-taman-dan-kota
Antara Taman dan Kota. Foto: Pixabay

Ketika mentari pelik menyapa, sang keraguan mencipta sebuah api semangat berjuang. Kuarahkan pandangan ke sekitar jalan tua. Tak terlihat apapun selain gersang dan mencekam.

Terlangkah kaki ke arah di sana. Arah yang tak tahu apa namanya. Bukan selatan, utara, barat dan juga timur. Ah entahlah, tapi hati dan naluri membawaku ke sana. Dibawanya aku kesebuah taman kosong yang hanya berisikan rumput kering.

Hey, apa ini! Hanya terdengar jarum jam yang berdetak dari pusat kota tua. Tak kusadari perlahan taman itu berubah menjadi hijau.

Rembulan datang menyapa. Ah, inilah waktu di mana insan semesta bergelut memanjakan diri di tempat tidur kesayangan. Namun, diriku masih tetap terjebak di alunan kota tua.

Tak tahu harus ke mana lagi, kumasuki taman yang menjadi hijau itu. Kududuki ayunan kayu, sudah rapuh tentunya. Ada sebuah kertas tergeletak, manambah penasaran benakku.

"Kotamu, gersangnya, kau sendiri yang menanam tandus, maka ubahlah isi hatimu."

Puisi Karya: Khairia Nurlita

2 komentar untuk "Puisi - Antara Taman dan Kota"

  1. Hati yg hijau dan ceria dapat mengubah apapun menjadi cihuy jg ya, Khairia, hehehee!

    BalasHapus
    Balasan
    1. cihuy juga. Hehehe. Aku aja perwakilan yg balesin ya Bu. wkwk

      Hapus