Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Profesionalisme Guru Abad 21 dan Seperangkat Tantangannya (Sebuah Resume)

Profesionalisme Guru Abad 21 dan Seperangkat Tantangannya
Profesionalisme Guru Abad 21 dan Seperangkat Tantangannya. Dok. Ozyalandika.com/canva

Ketika kita berbicara tentang guru abad 21, agaknya kita juga berkisah tentang bagaimana harapan Indonesia maju dari sektor pendidikan secara khusus. Harapan atas kemajuan ini perlu direncanakan dengan lebih matang karena hari ini hubungan manusia dengan teknologi semakin erat.

Prof. Ir. Tian Belawati, M.Ed.,Ph.D dalam kursus online GuruInovatif.id menerangkan bahwa, demi menghadapi abad 21, revolusi industri, dan masyarakat 5.0, maka perlu diciptakan sistem pendidikan berkualitas tinggi yang terjangkau dan menjangkau setiap orang menggunakan sistem e-learning maupun teknologi terkini.

Lebih dari itu, kualitas pendidikan yang diharapkan juga perlu mendukung pembentukan pola pikir dan keterampilan untuk melakukan apapun’, berbekal STEM dan Keterampilan Revolusi Industri 4.0.

Saat kita menatap harapan-harapan akan kualitas pendidikan abad 21 ini, sekilas, upgrade kompetensinya cukup kompleks, kan?

Begitulah. Setidaknya, masing-masing dari kita, terutama pembelajar perlu mengasah diri untuk memiliki berbagai kompetensi yang mendukung Revolusi Industri 4.0.

Namun, kompetensi utama yang paling pokok sekaligus perlu kita benahi pertama kali adalah mindset. Ya, cikal bakal lahirnya kemajuan adalah pola pikir. Tantangan dan situasi abad 21 menginginkan setiap pembelajar untuk bisa menaikkan level pikirnya ke critical thinking.

“Critical thinking has been called the art of thinking about thinking (Ruggiero, V.R., 2012)

Kedengarannya berat, ya? Lagi-lagi kita terjebak dalam pola pikir yang tertuang dalam pepatah Melayu “Orang hendak seribu daya,Orang tak hendak seribu dalih.” 

Dr. (Cand.) Zulfikar Alimuddin, B.Eng., M.M selaku direktur HAFECS mengatakan bahwa, kunci untuk berubah adalah belajar, belajar, belajar, latihan, latihan, dan latihan.

Apa yang perlu dipelajari dan dilatih? Guru abad 21 bisa memulainya dengan mendesain rancangan pembelajaran. Selama ini, barangkali kita mengenal 4 kompetensi utama seorang guru yang terdiri dari kompetensi pedagogi, kepribadian, sosial, dan profesionalisme.

Tapi, demi menghadapi kompleksnya tantangan mengajar, guru abad 21 perlu menambah 2 kompetensi lagi, yaitu Pedagogical Content Knowledge (PCK), dan Higher Order Thinking Skills (HOTS).

PCK dihadirkan sebagai alat pencipta Experiental Learning (pembelajaran yang menekankan penemuan dan kebermaknaan) di kelas, sedangkan HOTS dituangkan sebagai alat untuk menciptakan critical thinking.

Dengan membiasakan diri mengajar dan belajar berpikir kritis, perlahan para pelajar mulai terasah maupun terbiasa untuk membaca sebuah fenomena hingga gejala sosial di lapangan. Belajar memahami fenomena menjadi penting agar siswa bisa mencari penyelesai sebuah masalah.

Seperangkat Tantangan Profesionalisme Guru Abad 21

Sejatinya, segala sesuatu yang menuntut perubahan tidak akan jauh-jauh dari masalah. Tidak hanya di bidang pendidikan saja, melainkan di berbagai sektor kehidupan.

Meski demikian, untuk memaksimalkan profesionalisme guru abad 21 kita perlu terus belajar dan keluar dari zona nyaman hari ini. Abad 21 seakan menuntun para guru untuk lebih gesit, serta lebih adaptif dalam menyikapi situasi pembelajaran.

Dengan ramainya siswa yang tergolong generasi Z dan generasi Alpha, maka ramai pula kecenderungan gaya hidup maupun gaya belajar baru.

Beberapa hal yang terang terlihat dari sikap kedua generasi ini adalah cepat belajar namun mudah bosan, lahir di era baru, sejak kecil sudah akrab dengan teknologi, mengenal dunia digital lebih dalam daripada orang tua, individualis, mencintai kebebasan, hingga disruptif.

Atas hal-hal baru ini, ketika kita kaitkan kedua generasi ini ke dalam dunia belajar, maka gaya mengajar guru perlu menyesuaikan dengan gaya belajar siswa. Semisal, karena siswa mudah bosan, maka sistem belajar tak bisa lagi selalu runtut dan berdasarkan teori buku pedoman.

Guru perlu membawa seperangkat fenomena-fenomena sosial yang aktual, faktual, namun juga dekat dengan siswa. Dari sanalah guru bisa membawa siswa ke “alam” belajar.

Lebih dari itu, tantangan guru abad 21 ini memang cukup ruwet karena harus menggelar Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di tengah pandemi.

Tapi, keadaan hari ini sejatinya adalah hikmah bagi pendidikan. Di satu sisi, PJJ butuh segunung adaptasi, sedangkan di sisi lain, PJJ adalah jalan bagi guru dan kita semua dalam rangka mengakrabkan diri dengan teknologi.

Dengan demikian, 4 keyword sekaligus pesan untuk guru yang bisa saya petik dari kursus online ini secara keseluruhan adalah penataan mindset, critical thinking, belajar, dan latihan. Saya rasa, 4 kolaborasi keyword ini sangat krusial dalam mencapai harapan kemajuan pendidikan.

Salam.
Ditulis oleh Ozy V. Alandika

6 komentar untuk "Profesionalisme Guru Abad 21 dan Seperangkat Tantangannya (Sebuah Resume)"

  1. Yupp, perbaikan mindset, itu yang paling penting yaa..
    Keren, makasih sudah berbagi resumenya, salam pendidikan bang guru

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oke siap mbak. Terengkyuh hadirnya. 😀😀

      Hapus
  2. Cukup padat dan bermakna. Terima kasih... Beberapa teori baru saya temukan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas hadirnya, Pak Galih
      Salam hangat selalu 😀

      Hapus
  3. Balasan
    1. Terima kasih atas apresiasinya, Pak. Salam :-)

      Hapus