Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Puisi untuk Guru - Insan Mulia, Memberi Tanpa Mengharap Kembali

Puisi untuk Guru - Insan Mulia, Memberi Tanpa Mengharap Kembali
Insan Mulia, Memberi Tanpa Mengharap Kembali. Foto: Diolah dari Unsplash.

Layaknya hujan itu, jasanya mengalir deras tak terhenti. Jika bintang malam telah bersuka ria menampakkan diri, maka dia satu yang paling bersinar di antaranya. Di taman yang selalu ramai akan bunganya, dialah matahari yang membantu metamorfosis bersama kehangatan.

Payung akan hancur diterpa hujan badai, tapi hatinya tetap kukuh meski dihantam jutaan umpatan. Semua yang terencana dapat hancur, hanya karena pengkhianat. Namun ilmunya tak pernah terputus, hingga akhir hayat.

Terkadang kelopaknya merah, terkadang juga putih. Namun terhanyut batin, karena putih yang mendominasi. Kasihnya, sayangnya, sabarnya, mengalahkan amarah hatinya.

Dia insan mulia, memberi tanpa mengharap kembali.
Dia cahaya teknologi, tak ada kehadirannya tak ada globalisasi.
Dia superhero semesta, dengan bangga menyandang julukan 'guru' terkenal akan segala ilmu, terkenang dengan penuh kasih.
Menciptakan sebuah generasi, yang berbakti dan mengabdi.

Hanya satu kalimat lagi " terima kasih karena selalu hadir di dunia kami".

Puisi Karya: Khairia Nurlita.

Posting Komentar untuk "Puisi untuk Guru - Insan Mulia, Memberi Tanpa Mengharap Kembali"