Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Inilah 7 Dosa yang Kerap Dilakukan Tubuh Menurut Imam Al-Ghazali

7-dosa-yang-kerap-dilakukan-tubuh-imam-al-ghazali-ozyalandika
7 Dosa yang Kerap Dilakukan Tubuh Menurut Imam Al-Ghazali. Dok. Ozyalandika.com

Bismillah. ðŸ˜Š

Dear temanku, sebagai manusia, tentunya kita tak pernah bisa lepas dari salah dan dosa. Hal ini tak bisa dimungkiri karena sejatinya tiap-tiap kita sudah dikaruniai akal dan nafsu oleh Allah.

Nafsu ini kecenderungannya ada yang baik, juga ada yang buruk. Agar lebih banyak memunculkan kebaikan, maka tiap-tiap hamba perlu memanajemen hawa nafsunya, menekan nafsunya, serta meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang bisa meninggikan nafsu keburukan.

Bagaimana caranya meninggalkan perbuatan-perbuatan dosa? 

Setidaknya kita harus paham terlebih dahulu bahwa seluruh organ tubuh dan organ gerak yang kita miliki saat ini adalah karunia Allah. Kesempurnaan panca indera maupun anggota badan adalah amanah dari Allah yang wajib kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya.

“Sebaik-baiknya” yang dimaksud adalah organ tubuh yang digunakan untuk terus melakukan ketaatan serta menjauhkan diri dari kemaksiatan. Pada akhirnya nanti, anggota tubuh inilah yang akan menjadi saksi tentang baik atau buruk kelakuan kita di dunia.

Sebagaimana Kalam Allah yang tertuang dalam QS An-Nuur ayat 24:

“Pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.”

Juga dalam QS Yaasiin ayat 65:

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.”

Anggota tubuh manusia akan menjadi saksi dan menjelaskan tentang apa-apa saja dosa dan kebaikan yang telah kita perbuat di dunia. Sedangkan mulut yang berisikan lidah tak bertulang ini akan dikunci. Mengapa dikunci? Lidah tak bertulang, mudah untuk berkelit dan berdusta.

Maka dari itulah, untuk memaksimalkan anggota tubuh yang telah dikaruniai oleh Allah, seorang hamba juga perlu terus berjuang mengemban amanah dengan cara menutup dosa-dosa yang kerapkali dilakukan oleh tubuh.

Setidaknya, ada 7 anggota tubuh yang kerapkali menjadi peluang dilakukannya dosa.

Pertama, Dosa Mata

Tidak bisa dimungkiri, mata adalah salah satu organ tubuh yang sangat penting bagi eksistensi seorang hamba. Dengan adanya mata, kita bisa melihat yang indah-indah, bisa melihat betapa hebatnya ciptaan Allah, serta bisa melihat tubuh kita sendiri agar senantiasa meningkatkan syukur.

Tapi, di sisi lain, ternyata kehadiran mata yang sehat juga bisa menjadi peluang dilakukannya dosa.

Ya, dosa mata, ketika kita melihat keburukan yang memancing nafsu, kemaksiatan, melihat sesuatu yang seharusnya tertutupi (aurat), atau memandang seseorang dengan tatapan mengejek, maka di sanalah peluang dosa dari organ tubuh yang bernama mata mulai tercipta.

Maka dari itu, berhati-hatilah kita dengan dosa mata. Barangkali di luar sana ada orang-orang buta yang sempat mengeluh mengapa matanya tak bisa melihat. Tapi, sesungguhnya mereka bisa sedikit berbahagia karena lepas sedikit dosa darinya. Yaitu dosa melihat hal yang tak pantas dilihat.

Mata sebaik-baiknya mata ialah mata yang digunakan untuk melihat kebaikan yang dengan kebaikan itu bisa membuat diri semakin bersyukur, semakin takjub dengan ciptaan Allah, serta semakin takut untuk melakukan keburukan.

Kedua, Dosa Telinga

Mirip-mirip dengan mata, sesungguhnya keberadaan indera yang bernama telinga juga memberikan peluang manusia untuk terjerumus dalam perbuatan dosa. Ya, seseorang bisa saja dengan mudah mendengar sesuatu yang seharusnya tidak didengar.

Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa telinga seorang hamba harus dijaga. Jangan pergunakan telinga untuk mendengar ucapan-ucapan bi’dah, mesum, perghibahan, ancaman berbau negatif, serta kejelekan orang lain.

Sejatinya telinga dihadirkan oleh Allah agar seorang hamba selalu mendengar firman-Nya, Sunnah Rasululullah, Hadis, hingga mutiara hikmah. Syahdan, telinga juga diciptakan agar seorang hamba bisa mendengar ilmu, untuk kemudian memetik maslahat darinya.

Masih dari Imam Al-Ghazali, ditegaskan dalam sebuah riwayat bahwasannya dosa itu bukan dihitung dari mereka yang berbicara, tapi juga mereka yang mendengarkannya. Apalagi ketika seorang pendengar tadi ikut-ikutan menggunjing. Semoga kita dijauhkan dari dosa telinga!

Ketiga, Dosa Lidah

Kata orang, lidah itu tak bertulang. Mungkin, karena itulah lidah bisa jago silat. Hehehe. Maksudku, jago bersilat lidah. Karena tak bertulang, organ sekaligus indera pengecap dan perasa ini begitu mudah digerakkan. Bahkan, kata-kata pun bisa diplesetkan olehnya.

Meski demikian, justru kemudahan inilah yang juga mengundang peluang dosa yang lebih besar.
Gara-gara lidah, seseorang bisa dengan mudahnya berdusta.
Gara-gara lidah, seseorang bisa dengan mudahnya berkhianat
Gara-gara lidah, seseorang bisa dengan mudahnya berghibah
Gara-gara lidah, seseorang bisa dengan mudahnya merendahkan orang lain
Gara-gara lidah, seseorang bisa dengan mudahnya merasa diri suci
Gara-gara lidah, seseorang bisa dengan mudahnya mengutuk orang lain
Gara-gara lidah, seseorang bisa dengan mudahnya mendoakan orang lain agar celaka
Gara-gara lidah, seseorang bisa dengan mudahnya mengejek dan mengolok-olok

Dan lain sebagainya.

Untuk menghindari bertubi-tubi peluang dosa ini, seorang hamba perlu memanajemen kelakuan lidah. Sejatinya lidah digunakan untuk senantiasa berzikir, membaca Qur’an bershalawat, berkata yang baik-baik, hingga mendoakan yang baik-baik.

Baca juga: Nitip Kata-Kata kepada Teman kok Bertambah, ya?

Dikatakan oleh Imam Al-Ghazali, bila lidah digunakan untuk sesuatu yang dimurkai oleh Allah, maka kelak manusia akan diseret ke neraka dengan menggunakan lidahnya yang menjulur keluar.

Oleh karena itu, jagalah lidah semaksimal mungkin supaya lidah tidak digunakan untuk menyeret diri kita ke dasar neraka Jahannam.

Keempat, Dosa Perut

Baiqlah, sekarang saatnya kita berbicara tentang organ tubuh yang bernama perut. Kalau sudah bicara tentang bagian tubuh penampung usus, lambung, hingga berbagai macam makanan yang sudah dihancurkan oleh mulut, maka sesungguhnya kita juga berkisah tentang rezeki.

Mengapa demikian? Rezeki yang biasanya kita cari di sudut-sudut penjuru bumi Allah ini akan kita jadikan bahan penghidupan, terutama untuk makan dan minum. Dari makanan, jadi darah, jadi daging, lalu jadi tulang. Tapi, pertanyaannya, halal atau haramkah rezeki yang kita dapatkan?

Allah berkalam:

“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang telah Allah rezekikan kepadamu.” Potongan ayat ini tertuang dalam QS Al-Maidah ayat 88, juga di dalam QS An-Nahl ayat 114.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa mencari rezeki yang halal di muka bumi hukumnya adalah wajib bagi setiap muslim.

Dalam buku Bidayatuh Hidayah goresan Imam Al-Ghazali dikatakan bahwa, beribadah dan menuntut ilmu disertai dengan memakan sesuatu yang diharamkan itu laksana membangun sebuah bangunan di atas air.

Kalau dalam waktu satu tahun diri sudah merasa cukup dengan mendapatkan selembar baju butut, sudah merasa cukup dengan memakan dua potong roti murahan, atau tidak memerlukan lauk pauk lezat, maka diri tak perlu bersusah-payah mencari yang halal melebihi apa yang dibutuhkan.

Demi menghindari dosa-dosa perut, maka carilah rezeki yang halal lagi baik, dan tak perlu berlebih-lebihan dalam mengonsumsinya.

Kelima, Dosa Kemaluan

Allah berkalam:

“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya. Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.” Kalam ini tertuang dalam QS Al-Mu’minun ayat 5-6, juga QS Al-Maarij ayat 29-30.

Dari ayat di atas ditegaskan bahwa menjaga kemaluan dari apa-apa yang diharamkan Allah adalah suatu kewajiban. Dosa kemaluan agaknya berhubungan erat dengan dosa mata, karena dari penglihatanlah hawa nafsu akan memuncak.

Maka dari itu, kesuksesan seorang hamba dalam menjaga kemaluan itu sangat bergantung pada keberhasilan menjaga mata dari memandang sesuatu yang diharamkan, menjaga hati dari pikiran negatif,  serta menjaga perut dari sesuatu yang syubhat maupun kekenyangan.

Keenam, Dosa Tangan

Hadirnya tangan sebagai organ penggerak tubuh adalah karunia yang luar biasa dari Allah. Kedua tangan yang Allah titipkan kepada kita adalah amanah, di mana, dengan kedua tangan tersebutlah kita bisa lebih gencar mencari ridho Allah.

Maka darinya, jangan gunakan tangan untuk memukul teman kita sesama muslim, jangan gunakan tangan untuk meraih harta-harta yang diharamkan, jangan gunakan tangan untuk menyakiti makhluk Allah, jangan gunakan tangan untuk menulis keburukan, karena tangan ibarat pena dari lidah.

Semoga kita semua terselamatkan dari dosa tangan. Pandai-pandailah mengontrol diri untuk senantiasa dapat menjaga tangan dari dosa.

Ketujuh, Dosa Kaki

Imam Al-Ghazali menerangkan bahwa, kita dilarang untuk menuntun kaki berjalan ke rumah penguasa zalim. Alasannya, berjalan menuju pintu rumah penguasa zalim tanpa ada keperluan atau paksaan adalah perbuatan maksiat yang sangat besar.

Dari sana, sama saja dengan kita tunduk dan memuliakan mereka atas kezaliman yang telah mereka lakukan. Hal ini didasarkan pada Kalam Allah QS Huud ayat 113:

“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.”

Lebih dari itu, memperjalankan kaki untuk mendapatkan sesuatu yang haram juga termasuk ke dalam dosa kaki. Hal seperti itu sudah semestinya kita hindari. Intinya, gerak dan diamnya anggota tubuhmu adalah bagian dari nikmat yang dikaruniakan Allah kepada kita.

Alhasil, geraklah yang baik-baik, lalu jangan arahkan organ-organ tubuh menuju sesuatu yang dilarang oleh Allah. Sejatinya gerak-gerik tubuh berkaitan erat dengan kualitas hati. Jadi, mari senantiasa membersihkan hati.

Salam. Semoga Bermanfaat

Sumber:

Al-Qur’an dan Terjemahannya
Imam Al-Ghazali. Bidayatuh Hidayah. (Diterjemahkan oleh Abdul Rosyid Shiddiq, Jakarta: Khatulistiwa Press, 2012)

8 komentar untuk "Inilah 7 Dosa yang Kerap Dilakukan Tubuh Menurut Imam Al-Ghazali"

  1. Terimakasih sudah diingatkan 👍👍

    BalasHapus
  2. Bermanfaat. Terima kasih sudah di ingatkan Bang☺️☕

    BalasHapus
  3. Wah terimakasih banyak udah diingetin bang

    BalasHapus
  4. Artikelnya bagus, sangat bermanfaat terutama bagi umat muslim^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Bang Rayya atas hadirnya. Salam. :-)

      Hapus