Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerpen - Seruni Emas

seruni-emas
Seruni Emas. Foto: Pixabay

Seorang pemuda kecil sedang berkutat bersama kertas dan pena di tengah taman indah. Dengan nyaman duduk berselanjar , menatap matahari indah yang sedikit tertutup pohon apel merah. Tak ditemani siapa-siapa. Sendirian, Hmm, iya, hanya sendirian. Lama di sana.

Sedang ada seirang wanita cantik dengan gaun emas berpita merah dengan anggunnya melangkah menghampiri. Murah senyum, dan lembut berbicara. Pribadi yang baik, sungguh!

"Hai Tuan, boleh aku duduk di sini? Ah, jika tidak tak apa." Senyuman manis dan hangat dari perempuan itu. Pria yang duduk di sana menoleh hingga akhirnya menatap pemandangan di depan kembali.

"Tentu, Nona, silakan. Ini tempat umum, tak ada yang bisa melarangmu." Lelaki itu menjawab masih dengan mata menatap indahnya matahari.

"Ah, B-Bukan begitu. Saya hanya tidak ingin anda risih, Tuan," sungguh tidak enak perasaan gadis jelita itu sekarang.

"Ganan ,  saya ganan," Wanita itu terkejut saat pria itu mengenalkan diri.

"Saya Alva, Tuan" Wanita itu langsung menduduki diri di sebelah Ganan.

"Hm, apa saya boleh bertanya, Tuan?" Ganan melirik sekilas.

"Tentu, Nona, silakan." Senyum sumrigah wanita itu.

"Apa Tuan suka taman juga?" Ganan terkekeh.

"Tidak, saya tidak terlalu menyukainya, Saya hanya sedang mencari ketenangan dan ide untuk karya karya saya," Jawaban ganan membuat Alva tercengang.

"Wah, Anda hebat, haha," Wanita berpita emas itu membulatkan matanya yang bersinar.

"Tidak nona saya tidak hebat, Saya hanya suka," Alva hanya mengangguk mengerti.

"Bagaimana dengan Anda?" Tanya Ganan, sembari mendapat respon ceria dari Alva.

"Ah , saya, Tuan? Saya suka bunga-bunga di sana. Apalagi bunga peony dan seruni sangat indah," Dengan semangat Alva menunjuk bunga-bunga di hadapan mereka.

Ganan terkekeh mendengarnya. Menurut Alva, senyumannya sangat manis, haha, membuat orang orang pangling jika melihatnya.

"Hmm, Tuan, bagaimana dengan Anda? Apa juga menyukai bunga?" Pertanyaan dari Alva bersamaan dengan Ganan yang menghela nafas.

"Ah, sepertinya saya banyak bertanya. Maafkan saya, Tuan. Maafkan daya jika anda risih dengan tingkah saya. Jika begitu saya bisa beranjak dari sini," Ganan menoleh dan tersenyum

"Tidak apa, Nona, saya tidak risih. menetaplah di sini, saya sungguh tak apa. saya suka."

"Suka? Suka Bunganya? Wah bunga apa yang tuan sukai? Mawar? Tulip? Matahari? Anggrek atau yang lainnya?" Tanya Alva riang dan antusias. Hemm, sungguh menggemaskan.

"Awalnya saya kurang suka bunga" Alva mengernyit kebingungan. Ganan langsung melanjutkan kalimatnya.

"Namun sekarang saya menyukai bunga seruni emas," Alva tambah bingung dibuatnya.

" Tuan Ganan,  tidak ada bunga seruni emas, haha , ada-ada saja Tuan ini" Alva tertawa lepas.

"Ada dan saya menyukainya saat mekar seperti sekarang."

Ah, peka lah wahai manusia, haha. Astaga, Apa Alva peka dan mencoba seolah-olah tidak peka? Atau memang dia tak mengerti maksud Ganan? Entahlah, hanya dia dan hatinya yang tahu.

"Gurauan Tuan sungguh-sungguh, haha" Ganan tetap terkekeh.

"Mari saya beritahu, Nona," Alva melihat ke arahnya.

"Apa, Tuan?" Tanya Alva.

"Seruni emas bertangkai merah. Dengan anggun menyapa singa di rumput hijau. Dengan senyuman mekar menyenggol kalbu. Membawa naluri membuka kitab hati, surat menyayangimu sepenuh hati, ayat menjadikanmu satu satunya di hati," Haha, Alva blushing dibuat Ganan. Dasar Ganan.

Cerpen Karya: Khairia Nurlita

2 komentar untuk "Cerpen - Seruni Emas"

  1. Aduhaii bisa aja si Ganan, ya.
    Awas gombalan maut 😁🤭
    Cerpen yg unik dek khairia

    BalasHapus