Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

3 Alasan Logis Mengapa Berharap Kepada Manusia Itu “Menyakitkan”

3-alasan-logis-mengapa-berharap-kepada-manusia-itu-menyakitkan
Ilustrasi Kecewa. Foto: Pixabay

Pernahkah Anda berharap kepada manusia? Kurasa, pasti pernah, ya. Masing-masing dari kita punya perasaan, dan perasaan itulah yang sering menimbulkan beratus hingga beribu harap.

Harapan kepada manusia, barangkali akan lebih banyak berbicara tentang kebahagiaan materi, ketulusan, dan cinta. Hal ini tidak bisa kita mungkiri, karena di satu sisi kita diciptakan sebagai makhluk yang berperasaan.

Hanya saja, di sisi yang lain, semakin seseorang berharap kepada manusia, semakin menyakitkanlah fakta dan pengalaman yang ia alami. 😕

Kita hadirkan contoh sederhana. Misalnya, kita menanti seseorang di sebuah taman dengan waktu yang telah ditentukan. Kita tentu berharap pertemuan ini bisa berjalan tepat waktu, kan? Sayangnya, penantian kita tidak jarang mengakibatkan perasaan kecewa gara-gara “ngaret”.

Kita sedih? Barangkali, iya! Terlebih lagi ketika kita menaruh harapan besar atas pertemuan tadi. Mungkin, di pertemuan itu kita berharap akan menjalin kerjasama. Mungkin, di pertemuan itu kita berharap akan lebih akrab. Atau, itu pertemuan krusial untuk mengungkapkan cinta? Wah..Wah.

Pada dasarnya, pengharapan kepada manusia itu menyakitkan. Bahkan, Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah mengutarakan bahwa:

“Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup, dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia.”

Tuturan Sayyidina Ali tak mungkin bohong, kan? Dan yang pasti, masing-masing dari kita pernah merasakannya. Pernah merasakan bagaimana sakitnya berharap namun tak terwujud. Hehehe

Meski begitu, di sini, akan kusajikan lagi alasan logis mengapa berharap kepada manusia itu “menyakitkan”. Disimak, ya.

Pertama, Hati Manusia Itu Mudah Terbolak-Balik

3-alasan-logis-mengapa-berharap-kepada-manusia-itu-menyakitkan-3
Ilustrasi perasaan yang suka terbolak-balik. Foto: Pixabay

Hari ini bilang A, sore nanti ucap B, hari ini niat C, besoknya niat itu hilang, begitulah manusia. Hati manusia mudah plintat-plintut alias tidak tetap pendiriannya. Terkadang, niat seseorang bisa berubah karena kondisi, dan bahkan, niat itu bisa saja malah batal untuk terwujud.

Ketika kita kita sandarkan kepada hadis, Rasulullah menerangkan bahwa:

“Sungguh, hati manusia itu lebih mudah terbolak-balik daripada air dalam bejana yang telah mendidih.” HR. Muslim no. 24317

Yang menarik adalah analogi yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW, hati seseorang lebih mudah terbolak-balik dibandingkan gumpalan molekul air yang telah mendidih. Padahal, ketika kita saksikan sendiri, air yang mendidih saja sudah tidak beraturan lagi terbolak-balik.

Apalagi hati manusia! 😧

Dengan begitu, alasan bahwa berharap kepada manusia itu menyakitkan sesungguhnya semakin menjadi masuk akal. Sedangkan ketika kita berharap agar air mendidih tidak terbolak-balik saja sudah tidak mungkin, lalu bagaimana dengan hati manusia?

Lumrah bila kemudian harapan itu disandingkan dengan kata sakit. Jangan berharap kepada manusia, karena hati dan rasanya mudah berubah arah.

Kedua, Terkadang Manusia Berucap yang Manis-Manis di Kala Senang

3-alasan-logis-mengapa-berharap-kepada-manusia-itu-menyakitkan-1
Manusia sering berucap manis di kala senang. Foto: Pixabay

Alasan kedua mengapa berharap kepada manusia itu menyakitkan adalah, seorang manusia terkadang suka berucap yang manis-manis di kala senang. Kesenangan ini bisa didasari oleh hal-hal baik yang telah mereka dapatkan, baik itu tentang materi, jabatan, maupun kecintaan.

Hanya saja, masih berkaitan dengan alasan pertama, hati yang mudah terbolak-balik akan membuat seseorang kadang senang kadang sedih. Perasaan pada dasarnya memang begitu, kan? Sebentar senang, tiba-tiba langsung marah-marah, kecewa, kesal, bahkan sakit hati.

Keadaan ini begitu mengkhawatirkan sehingga selalu ada kesempatan bahwa sejumput ucapan manis tadi bisa terlupa atau pun sengaja dilupakan oleh si pengucap.

Maka dari itulah, Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah berujar bahwa:

“Jangan mengambil keputusan ketika sedang marah, jangan membuat janji ketika senang.”

Saat kita hubungkan dengan betapa mudahnya hati manusia terbolak-balik, maka semakin jelaslah pernyataan bahwa sesungguhnya berharap kepada manusia itu menyakitkan. Ada kekecewaan yang siap hadir di belakang harap, apa lagi ketika harapan itu sudah terlalu dalam. Hemm

Ketiga, Berharap Kepada Manusia Malah Seringkali Tak Sesuai denganyang Diharapkan

3-alasan-logis-mengapa-berharap-kepada-manusia-itu-menyakitkan-2
Harapan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Foto: Pixabay

Ketika kita berharap kepada seseorang, tidak mesti harapan tadi akan terkabul alias tercapai 100 persen persis dengan apa yang kita harapkan.

Semisal, ada seorang direktur perusahaan yang berharap agar selama satu bulan ini karyawannya tidak pernah absen dan sukses menjalankan program kerja. Untuk menunjang harapan ini, sang direktur membuat peraturan yang ketat sehingga karyawannya bisa lebih disiplin.

Pertanyaannya, apakah dengan cara ini program kerja akan berjalan sesuai dengan harapan? Belum tentu, kan?

Bahkan, sang direktur malah akan sangat kecewa bila saja dari awal ia terlalu menggantungkan harapan besar kepada para karyawan. Sedangkan para karyawannya ada pula yang angin-anginan. Ibarat kata, ketika sang direktur tadi berharap, seakan-akan ia telah patah hati secara sengaja.

Jalan Terbaik Adalah Berharap Hanya Kepada Allah

“Wamaa ‘indallahi khoir”

“Wa ilaa robbika farghob”

Apa yang ada di sisi Allah lebih baik. Dan hanya kepada Allah-lah hendaknya kita berharap. Sengaja aku kutip dua potongan Kalamullah di atas untuk menegaskan betapa pentingnya kita menaruh harapan yang sesuai arah.

Sebaik-baiknya berharap adalah berharap kepada Allah. Mengapa? Alasannya, karena berharap kepada Allah tidak pernah mengecewakan.

Barangkali, ada beberapa di antara kita yang merasa bahwa apa yang diri ini minta, apa yang diri ini harap tidak dikabulkan oleh Allah. Kita yakin, sesungguhnya harap itu belum dikabulkan karena waktunya kurang tepat, atau malah akan Allah gantikan kepada perihal yang lebih baik.

Tambah lagi, dalam Kalam-Nya ditegaskan bahwa Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya, kan? Artinya, makin sering kita berharap kebaikan dan berprasangka baik (yakin, doa, ikhtiar), maka Insyaa Allah akan ada kebaikan yang akan menghampiri kita.

3-alasan-logis-mengapa-berharap-kepada-manusia-itu-menyakitkan-4
Apa yang ada di sisi Allah itu lebih baik. Foto: Pixabay

Maka dari itulah, jalan terbaik adalah berharap hanya kepada Allah. Selalu libatkan Allah dalam setiap harap duniawi kita, sehingga apa-apa saja yang kita harapkan bisa bernilai pahala di sisi Allah. Aamiin.

Salam.

Ditulis oleh Ozy V. Alandika.

12 komentar untuk "3 Alasan Logis Mengapa Berharap Kepada Manusia Itu “Menyakitkan”"

  1. Terima kasih untuk artikelnya Bang. Bermanfaat☺️🙏

    BalasHapus
  2. Betul manusia suka PHP hehe.. Inspiratif

    BalasHapus
  3. Nyess
    Buat cwe2 pengharap cocok nih 😂
    Nice article, bermanfaattttttt

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwk. Berharap boleh, tp jangan salah sandaran🤭🤭

      Hapus
  4. Setuju..
    Kerap kali berharap kepada manusia malah mengecewakan, wkwk..
    Salam 🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah kayaknya sering kecewa ya mbak. Wkwk
      Canda
      Makasih ya
      Salam hangat selalu

      Hapus
  5. Solusinya cakep sekali. Jalan terbaik adalah berharap kepada Allah swt

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahsiyyap mantab bin cakep. Makasih atas apresiasi dan hadirnya, Pak Hari.
      salam hangat :-)

      Hapus