Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tidak Banyak Orang yang Bisa Tetap Berdiri di Atas Keteguhannya

tidak-banyak-orang-yang-bisa-tetap-berdiri-di-atas-keteguhannya-ozyalandika-baik-itu-sederhana
Keteguhan. Foto: Pixabay

Sering berubah-berubah, begitulah hati manusia. Kadang begini, kadang begitu, dan kadang begini lagi. Jarang ada karakter manusia yang sangat mudah ditebak. Beberapa orang mungkin bisa menebak kecenderungan perilaku orang lain. 

Tapi, itu hanyalah kecenderungan semata, kan?

Maka dari itulah, perilaku seseorang sangat bergantung dengan hasrat yang ada di hatinya. Dalam kalam Nabi dikatakan, hatilah yang menentukan baik atau buruknya kecenderungan perilaku seseorang. Dari sana, sangat dianjurkan bagi tiap-tiap kita untuk selalu membersihkan hati.

Namun, permasalahannya adalah, tidak semua orang mau mengikuti kata hati yang memiliki kecenderungan baik.

Semisal, seseorang pernah membaca story atau postingan di media sosial tentang kebaikan. Hatinya menyetujui untuk melakukan, tapi sayang, untuk memulai sesuatu yang baik tadi susahnya sungguh setengah hati. Padahal, tinggal memulai saja, kan?

Memulai Sesuatu Itu Mudah

tidak-banyak-orang-yang-bisa-tetap-berdiri-di-atas-keteguhannya-ozyalandika-baik-itu-sederhana
Be Kind. Foto: Pixabay

Memulai sesuatu itu mudah. Semua orang bisa melakukannya. Bahkan, terkadang tak perlu ada motivasi besar bagi seseorang untuk memulai sesuatu yang baru. Mengapa demikian?

Jawabannya sederhana. Banyak juga perwujudan perilaku yang sebenarnya kita mulai gara-gara ikut-ikutan.

Misalnya kita diajak teman untuk mancing. Padahal awalnya kita tidak ingin. Tapi, karena mungkin suasana hati tidak sampai pada kadar kegembiraan, akhirnya kita pun iseng-iseng ikut hingga kemudian menjadi termotivasi untuk terus ikut mancing.

Kegiatan lain, bahkan perilaku lain pun juga demikian. Diawali dengan keisengan yang sejatinya tanpa melibatkan motivasi instrinsik, seseorang tanpa sadar telah memulai suatu kegiatan/perilaku baru.

Hanya saja, hal ini kembali lagi kepada bagaimana kinerja lingkungan dalam mempengaruhi perilaku seseorang. Kalau temannya baik, bisa jadi seseorang akan tergoda untuk ikut menjadi baik. sebaliknya, kalau kebanyakan temannya kurang baik, maka seseorang tadi juga akan begitu.

Contoh, ada 5 pemuda yang baik bersahabat dengan 1 pemuda yang nakal. 5 kebaikan lawan 1 kenakalan, lama-kelamaan, pemuda yang 1 tadi bisa jadi baik.

Tapi jika kita balik, 5 pemuda nakal versus 1 pemuda baik, maka pemuda baik tadi akan rawan berubah menjadi pemuda yang berperilaku nakal. Alhasil, kembali lagi kepada gagasan bahwa sejatinya memulai sesuatu itu mudah. Tinggal, bagaimana suasana sekitar mempengaruhinya.

Tapi, semoga saja apa yang kita mulai itu adalah sesuatu yang baik, ya!

Tetap Melakukan Apa yang Dimulai Itu Susah, Tapi Bisa!

tidak-banyak-orang-yang-bisa-tetap-berdiri-di-atas-keteguhannya-ozyalandika-baik-itu-sederhana-
Keteguhan itu sulit, tapi bisa. Foto: Pixabay

Memulai itu mudah, tapi untuk tetap berdiri dan istiqomah di atas apa yang telah kita mulai, itulah yang susah. Mengapa susah? Pertama, karena hati ini mudah terbolak-balik. Dan kedua, berkompetisi melawan diri itu tidak selalu membuahkan kemenangan.

Semakin terjal dan berbahaya suatu jalan, maka semakin besar pula tantangan dan usaha yang diperlukan untuk melaluinya. Butuh keberanian, sehingga tidak banyak orang yang bisa tetap bertahan pada keteguhannya.

Susah, kan? Tentu saja susah, apalagi kalau hanya dipikir saja. Hahaha. Tidak, ya. Maksudnya, bertahan dalam keteguhan (kecenderungan yang baik) itu susah karena kita harus berkompetisi dengan diri sendiri sekaligus menepikan isu-isu buruk dari lingkungan.

Berkompetisi dengan diri sendiri ialah pertandingan kita melawan sesuatu yang namanya kebosanan. Ada saat di mana seseorang merasa jenuh dan bosan untuk untuk berbuat baik dan berteguh pendirian atas kebaikan. Untuk memenangkannya, kita perlu kembali kepada niat.

Selain itu, pengaruh lingkungan juga luar biasa menggodanya. Kebaikan, tidak semua orang mau memandangnya secara tulus. Wajar, kan? Barangkali orang-orang iri dengan buah dari kebaikan yang telah kita dapatkan. Soalnya, buah kebaikan itu pasti manis. Dunia dan akhirat.

Nah, kebaikan saja masih dipandang sebelah mata, apalagi keburukan!

Jadi, meskipun tidak banyak orang yang bisa tetap berdiri di atas keteguhannya, kita jangan pula mau ikut-ikutan dengan “kebanyakan” itu. Mendingan kita tetap menjadi orang “yang tidak banyak”, karena orang-orang yang teguh alias istiqomah itu spesial.

Kalau niat sudah ada, kalau sesuatu yang baik sudah dimulai, maka kita hanya perlu memfasilitasi apa yang telah dimulai. Caranya? Kita bisa mendekati orang-orang baik, bergaul dengan mereka, serta jangan lupa untuk terus berdoa kepada Allah. Berdoa agar hati ini tetap teguh atas kebaikan.

“Yaa Muqallibal Qulubi Tsabbit Qalbii ‘alaa diinika”

“Wahai Dzat yang Membolak-balik Hati, Teguhkan Hatiku dalam Agama-Mu”

Salam.


4 komentar untuk "Tidak Banyak Orang yang Bisa Tetap Berdiri di Atas Keteguhannya"

  1. Maka, jadilah yang sedikit itu..
    iya gak hehe
    Terimakasih, nice article

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama2 mbak. Tumben komentar serius 🤭
      Makasih ya

      Hapus
  2. Krna udh kesekian kali serius tapi ga di anggap, uhuhuhuu


    😄

    BalasHapus