Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Semua Ada Waktunya, tapi Waktu Belum Tentu Ada untuk Semuanya

semua-ada-waktunya-tapi-waktu-belum-tentu-ada-untuk-semuanya-ozyalandika-baik-itu-sederhana
Semua ada waktunya, tapi waktu? Foto: Pixabay

Berkisah tentang waktu, agaknya tidak sedikit orang yang suka berkata bahwa “semua ada waktunya”. Segala sesuatu, entah itu harapan, cita-cita, buah dari kerja keras, hingga keajaiban cinta semuanya butuh waktu.

Alhasil, karena ada waktu, kita pun mulai mengenal yang namanya proses, perbuatan, hingga masa tunggu.

Setiap niat, butuh proses agar menjadi perbuatan. Setiap perbuatan butuh proses agar dapat menghasilkan. Dan setiap hasil, harus mengalami masa tunggu agar nantinya mampu berbuah kebahagiaan.

Ujung-ujungnya, niat yang akan kita wujudkan harus berbarengan dengan kata “sabar”, kan?

Begitulah kenyataannya. Fakta bahwa segala sesuatu itu butuh waktu tak bisa kita pungkiri. Barangkali beberapa orang sempat bilang bahwa jalan pintas selalu lebih baik. Tapi sayangnya? Tidak ada jalan pintas yang tak perlu proses. Bahkan, mendatangkan niat juga butuh waktu!

Meski begitu, para pembaca sekalian pasti menyukai proses serta jalan yang “baik-baik”, kan? Tentu saja, dan saya meyakini pasti begitu. Soalnya, hati seseorang itu pada dasarnya adalah baik. Kata-kata dan motivasi yang keluar dari hati kecenderungannya lebih kepada kebaikan. Kecuali?

Hati tadi sudah kotor, atau seseorang itu sendiri yang sengaja mengotori hatinya. Semoga kita tidak termasuk, ya!

Kembali mengulik tentang waktu. Setiap orang yang menghargai waktu biasanya juga akan menghargai proses. Apalagi kalau waktu yang dimaksud adalah waktu ibadah, maka sudah pasti kesempatan kita hidup di dunia ini begitu singkat.

8 jam sehari untuk tidur menurut ukuran normalnya. Lha, kalau kita kalikan 60 tahun? Setidaknya, 20 tahun waktu yang kita lalui hanya untuk tidur saja. Sisanya adalah 40 tahun, dan entah apa saja yang telah seseorang perbuat dalam waktu selama itu. Semoga dijauhkan dari kesia-siaan, ya!

Sejatinya, ada kekhawatiran yang mendalam andai seseorang terlalu menyia-nyiakan waktu. Kita semua sepakat bahwa segala sesuatu butuh waktu. Tapi, pernyataannya adalah, apakah waktu selalu membutuhkan kita?

Sontak saja, sekilas, jawaban yang muncul adalah, kita yang butuh waktu.

Ketika mau tidur, seseorang butuh waktu untuk mendatangkan rasa kantuk. Ketika mau bekerja lembur, seseorang butuh waktu untuk menyegarkan badan serta mengembalikan staminanya. Ketika mau jadi orang sukses, seseorang juga butuh waktu dan proses perjuangan yang panjang.

Waktu Tidak Menunggu Kesiapan Seseorang

semua-ada-waktunya-tapi-waktu-belum-tentu-ada-untuk-semuanya-ozyalandika-baik-itu-sederhana
Waktu Tidak Menunggu Kesiapan Seseorang. Foto: Pixabay

Waktu tidak akan menunggu kesiapan seseorang, begitulah kenyataannya. Ketika seseorang menyia-nyiakan waktu, maka waktu akan berlalu semudah dan seentengnya. Waktu, biarpun telah berlalu satu detik, maka satu detik itu tidak akan bisa kembali. Kecuali?

Penyesalan.

Ya, secara otomatis, waktu yang berlalu dengan cuma-cuma akan berakhir dengan penyesalan. Dulu di waktu muda sering bermalas-malasan, ketika dewasa, sesal yang datang. Dulu sering rebahan tak keruan, hari ini malah kesal karena banyak waktu sia-sia yang terbuang.

Alhasil, selambat maupun secepat apapun waktu berlalu, sang waktu tak akan mau menunggu kesiapan seseorang. Sederhananya, kalau kita ingat waktu, maka kita akan siap. Tapi kalau lupa waktu, maka waktu akan berlalu meninggalkan kita sembari menyisahkan sebukit penyesalan.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib sempat mengatakan bahwa:

“Betapa bodohnya manusia, dia menghancurkan masa kini sambil mengkhawatirkan masa depan, tapi menangis di masa depan dengan mengingat masa lalunya.”

Singkatnya, dalam ungkapan ini Sayyidina Ali menerangkan bahwa sejatinya penyesalan atas kesia-sian waktu yang dihabiskan di masa lalu maupun di masa sekarang adalah bagian dari kebodohan.

Bahkan, untuk menguatkan bagaimana keharusan seorang hamba agar mau bersiap diri seiring berjalannya waktu, Allah telah bersumpah dalam Surah Al-Ashr: 1-2 dengan kalam-Nya:

“Demi masa (waktu). Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.”

Artinya waktu itu benar-benar tak akan menunggu kita untuk siap. Waktu, terutama di dunia akan berjalan begitu singkat ketika seseorang sedang sibuk. Tapi, sebaliknya, waktu berasa akan berjalan agak lambat ketika seseorang sedang santai. Meski begitu, seberapa banyak yang bisa kita manfaatkan?

Inilah salah satu kejelasan bahwa sejatinya seseorang perlu bersiap diri menghadapi waktu. Bahkan, untuk menghadapi ujian sekolah atau ujian semester saja seorang murid membutuhkan waktu demi melakukan persiapan. Apalagi untuk akhirat!

Kalau ujian di sekolah, waktunya relatif jelas. Satu minggu lagi baru ujian, dua minggu lagi, atau bahkan tiga bulan lagi. Lebih dari itu, saat murid menjalani pre-tes pun masih diberikan waktu 5-15 menit oleh gurunya untuk melakukan persiapan. Lha, kalo waktu ini adalah ajal, bagaimana?

Waktu yang seperti inilah yang semestinya mengerikan bagi kita. datangnya kematian maupun hari kiamat adalah dua waktu yang hanya Allah Sang Maha Mengetahui. Ketika dua kejadian ini datang, seorang hamba tak akan dapat mundur ataupun maju selangkah demi minta kelonggaran.

Semoga saja waktu yang Allah hadirkan kepada kita hari ini bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, ya.

Kesempatan akan Datang Pada Waktunya Ketika Seseorang...

semua-ada-waktunya-tapi-waktu-belum-tentu-ada-untuk-semuanya-ozyalandika-baik-itu-sederhana
Kesempatan akan datang untuk orang yang siap. Foto: Pixabay

Ketika seseorang berkisah tentang waktu, ketika itu pulalah dirinya akan menantikan kesempatan. Semisal, waktu tunggu datangnya angkot, maka kesempatan yang dinantikan adalah, agar si penunggu tadi bisa naik angkot. Dan semoga saja angkot yang ditunggu masih ada ruang kosong.

Artinya, baik waktu, kesempatan, dan harapan, ketiganya memiliki hubungan yang erat dalam kehidupan manusia.

Ingin mendapatkan kesempatan? Semua ada waktunya.

Ingin menggapai harapan? Semua ada waktunya.

Meski begitu teorinya, suatu saat, yang namanya kesempatan dan harapan akan pupus ketika seseorang enggan untuk mempersiapkan diri. Alhasil, kesempatan dan perwujudan dari harapan hanya akan datang ketika seseorang sudah siap, alias mempersiapkan dirinya.

Nah, kegiatan mempersiapkan diri inilah yang dapat kita jadikan usaha untuk memanfaatkan waktu yang sia-sia.

Seperti contoh, ada anak murid yang ingin mendapatkan beasiswa. Kesempatan yang ia nantikan adalah tanggal pengumuman serta batas waktu dari pihak penyelenggara. Harapannya adalah, si anak ini mampu lolos seleksi dan mendapatkan jatah beasiswa untuk kelanjutan pendidikannya.

Tapi, pertanyaannya adalah, apakah si murid tadi sudah siap? Kalau sang murid tidak melakukan persiapan apapun, maka kesempatan dan harapannya untuk mendapat beasiswa akan lewat dan berlalu begitu saja. Adakah sesal di sini? Mungkin, ada.

Hanya saja, kembali lagi kepada perkataan Sayyidina Ali tadi. Untuk apa kita menyesali sesuatu yang kita sendiri tak pernah mencoba ataupun mempersiapkannya di masa lalu? Ya, sesal yang seperti ini sungguh melelahkan. Juga sia-sia tentunya.

Syahdan, tidak beda jauh dengan persiapan seorang hamba untuk menggapai kematian yang khusnul khotimah. Kematian, barangkali hanya sedikit sekali orang-orang yang mau mengharapkan atau menantikannya dengan senang hati. Tapi, khusnul khotimah-nya dicari, kan?

semua-ada-waktunya-tapi-waktu-belum-tentu-ada-untuk-semuanya-ozyalandika-baik-itu-sederhana
Kematian. Semoga Khusnul Khotimah. Foto: Freepik

Tentu saja. Pasti setiap hamba ingin sekali diwafatkan dalam keadaan baik, dalam keadaan sedang berbuat baik, dan dalam keadaan sedang beribadah kepada Allah.

Maka dari itulah, doa “Ya Allah, Wafatkanlah diriku dalam keadaan Khusnul Khotimah” semoga selalu kita lantunan di kala sempit maupun lapang.

Kesempatan khusnul khotimah pasti bisa diraih oleh setiap hamba. Tapi, sama seperti yang telah diutarakan tadi, bahwa kesempatan hanya akan datang kepada mereka yang telah mempersiapkan diri.

Jadi, marilah kita siapkan diri kita dengan sebaik-baiknya sehingga apa yang kita lakukan, apa yang kita usahakan menjadi bekal dan amal baik untuk kehidupan akhirat nantinya. Aamiin.

Salam.

2 komentar untuk "Semua Ada Waktunya, tapi Waktu Belum Tentu Ada untuk Semuanya"

  1. Dapat penyegaran qolbu dari tulisan ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah. Alhamdulillah. Makasih Bu Yana. Asik asik🙏

      Hapus