Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Puisi - Toko Sulap Keputusasaan

puisi-toko-sulap-keputusasaan
Toko Sulap Keputusasaan. Gambar oleh Alexas_Fotos dari Pixabay 

Setelah semua berlalu, kembali terjerat di ambang perhatian. Tak ada kepercayaan juga rasa yang menenangkan. Menginginkan kesendirian yang berkepanjangan, berteman dengan keputusasaan.

Kuarahkan manik coklat, ke arah galaksi bima sakti. Tenggelam di sebuah kota, kota kuno dengan penyihir di dalamnya. Kaki membawa diri bercengkrama di taman kota. 

Seperti pohon ceri, mawar, sejuk embun, mulianya pagi kuingin seperti mereka. Entahlah, berada di keputusasaan mendalam, dengan keraguan penghiasnya.

Keinginan yang menjadi amarah dan irasional, membuatku kembali melangkah ke arah tempat, sedikit aneh? Tertera palang "your magic" penanda namanya.

Tak ada siapa-siapa, hanya setumpuk buku yang menggambarkan ketidaksemangatnya diri. Ah, semua jawab ada di sini. Di waktu tulus yang tersisa, ternyata kuncinya dari hatiku sendiri. 

Jika aku takut pada semuanya, sihir di hatiku akan menjadikan awan mendung menjadi pelangi 7 cahaya. Jika rasa keputusasaan kembali melanda, tongkat sihir kuayunkan mengubah kelaraan hati menjadi semangat berambisi. 

Jika keraguan membelenggu batinku, kuucapkan mantra di bola kristal, hingga berubah keraguan menjadi keteguhan.

Dan terbangun dari toko sulapku sendiri, kembali menghilangkan kegundahan atas keputusasaan. Merajut sebuah cerita menjadi jutaan rasi bintang indah. 

Puisi Karya:   Khairia Nurlita.

2 komentar untuk "Puisi - Toko Sulap Keputusasaan"