Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Puisi - Tentang Hamba yang Ingin Dicintai Tanah dan Langit

Kuburan tanpa nama di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tegal Alur, Jakarta Barat. (Suara.com/Fakhri)
Kuburan tanpa nama di TPU Tegal Alur, Jakarta Barat. Foto: Suara.com/Fakhri

Hamba terbit dari nutfah. Seantero massa berterus terang bahwa itu hina. Tapi ternyata tidak. Hamba tersusun dari kumpulan butiran. Karunia cinta sejagat raya.

Tentang hamba. Sesosok insan lemah yang berpayah-payah. Ketika datang masanya, hamba akan jadi tanah. Seberkas yang lain akan bersemayam di alam barzah.

“Aduhai, sungguh mengerikan!”

Tak ada yang tahu bahwa hamba telah beramal langit atau berkebaikan demi pijakan atas tanah. Mulut mudah meludah. Isi hati mudah berkelit. Malaikat mencatat.

Ternyata pahala itu buram. Ada hamba yang kelihatannya mencari dunia, tapi ternyata dalam hatinya mengumpulkan amalan langit. Ada hamba yang kelihatannya mengumpulkan amalan langit, tapi ternyata dalam hatinya berkisah tentang dunia.

Malaikat mencatat
Malaikat selalu mencatat
Malaikat selalu mencatat tanpa salah
Sedangkan hamba?

Sesosok insan hina berpenuh dosa. Terus dan tak henti bersalah. Terkadang suka memfitnah. Membiarkan maksiat bergelabah. Bahkan, hingga Allah murka.

Tiap hamba ingin dicintai oleh tanah. Hamba takut tidur sendiri bersama siksa. Sepi bersama himpitan dosa. Gelap tanpa hadirnya amal baik yang berpahala.

Tiap hamba ingin dicintai oleh langit. Ialah ketika kunya hamba disanjung bersama tasbihnya penduduk langit. Tanpa henti. Hingga nanti dihadirkan secarik pandangan tentang taman surga.

Hamba begitu rindu untuk dicinta. Semoga jalan hamba dimudahkan untuk mencinta. Mudah-mudahan jalan hamba tidak salah untuk benar-benar cinta.

2 komentar untuk "Puisi - Tentang Hamba yang Ingin Dicintai Tanah dan Langit"

  1. Begitulah gak ada yang tau gmna pribadi manusia sebenernya yaa kecuali Allah..

    Puisi yang menyentuh sekali Abang pujangga ehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ngeri, ya Mbak. Jangan sampai kita salah niat. Aamiin. Makasih, Mbak Pujanggawati. :-)

      Hapus