Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Puisi - Penyesalan

puisi-penyesalan-ozyalandika
Puisi - Penyesalan. Ilustrasi: Pexels

Terlangkah kaki ke pucuk sepi, mengantar diri di hening hati. Lamunan terukir, menghias sunyi, mengirim gundah di lara batin.

Jutaan semut kecil di mata Sang Pencipta, bersujud tangis di sepertiga malam hening. Mengukir nama indah, dibibir ranum pucat tak berwarna.

Seorang menarik perhatian, terbaring lemah, tak berdaya menahan perih. Tak ada yang mendampingi, tak ada yang menemani, dan tak ada yang mengasihani.

Sendiri, sendiri, dan hanya sendiri. Dibungkus pakaian yang sederhana, di persinggahan akhir sebelum hari terombang-ambing.

Tak ada gunanya! Mereka, mereka orang yang dibanggakan, tak menoreh kata dan menolong. Dunia yang diidam-idam kan, tak bisa menjadi jaminan kebahagiaan kekal abadi.

"Ampun!"
"Tolong!"
"Aaaakh!"
Berteriak meminta pertolongan, tak ada yang bisa menolong. 

Menangis dalam bisu, tak kuasa diri menahan perih. Mengapa? Mengapa baru sekarang. Ketika pecutan belati menghantam kulit bahkan menembus daging dingin itu. Mengapa? Mengapa kau baru akan bertaubat.

Ke mana? Ke mana selama ini? Di kala kesempatan selalu mengalir setiap detiknya, Ke mana kau pergi? Apa tak sempat? Berapa banyak sholat yang kau tinggalkan? Tak terhitung jumlahnya, bukan? Berapa detik kau berbuat maksiat, Bahkan kau saja tak dapat menghitungnya.

Baru sekarang, saat semua telah berakhir, saat ribuan kesempatan kau sia-siakan, saat telah habis waktumu, saat tak guna lagi semua yang kau perjuangkan, dan saat kau lupa akan kewajibanmu kepada Yang Maha Esa.

Kau ingin kembali, kau menjerit akan bertaubat, kau memohon meminta kesempatan terakhir, kau berharap pecutan kan berhenti. 

Dan tetap saja. Hingga hari hancurnya seantero bumi nanti, kau menjadi orang paling menyesal dengan ribuan kehancuran yang tak kunjung henti di dunia kekal.

Puisi Karya:    Khairia Nurlita.

Posting Komentar untuk "Puisi - Penyesalan"