Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Puisi - Lubang Kekejaman

Diorama Peristiwa G/30S PKI Lubang Buaya yang dipajang di Museum Monas, Jakarta Pusat. Foto: KOMPAS/Andra Prabasari.

Kaki melangkah, membawa raga menyusuri lembah kekejaman.  Bibir pucat bergetar tatkala angin sunyi menusuk jiwa. Entahlah. Seram. Mencekam. Dingin. Semua bercampur-aduk menggetarkan kaki. Derap langkah terarah ke lubang yang semakin lama semakin tampak terang.

Menangis hati ini, bergetar hebat raga ini. Langkah terhenti tepat di lubang kematian. Sunyi yang awalnya menjadi teman, tergantikan dengan teriakan-teriakan yang mematikan.

"Apa ini! Kepalaku sakit mendengarnya!"

Ingin rasanya kuberteriak, namun tak sanggup irama ini keluar. Terpejam mata, terputar tradegi kala itu.

Peralihan kekuasaan dengan alibi yang menyakitkan. Tubuh yang menjadi alat kehancuran. Si kecil tak berdosa pun menjadi tumbal kehausan. Tubuh lemah terombang-ambing, dilemparkan dengan tiada rasa ampun.

Malam itu, pembantaian oleh makhluk bengis. 7 Jendral berakhir tragis, ulah tak berhati para iblis.

Tak ada yang menolong
Tak ada yang peduli
Keluarga menangis tiada henti
Tak ada yang bisa dilakukan. Pembelaan atas keadilan. Pertahanan atas perjuangan. Meski darah segar bertumpah di kubangan.

“Lubang tak berhati, menjadi saksi hilangnya bunga Pertiwi.”

Tersadar dari lamun, semerbak anyelir putih menusuk indra. Aura kesedihan semakin  memancar. Lubang kekejaman basah berasama dengan turunnya rintik air Tuhan.

Puisi Karya: Khairia Nurlita.

2 komentar untuk "Puisi - Lubang Kekejaman"

  1. MasyaAllah dek khairia, puisinya bikin tertegun, salam hangat yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Barakalllah. Si Gadis Rejang udah bobok, Mbak. Makasih ya😊

      Hapus