Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Puisi - Ikrar di Persimpangan Tua

puisi-ikrar-di-persimpangan-tua
Para pelopor Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Dok. KOMPAS

Tak terhingga waktu yang tiada hentinya menepak di persimpangan tua ini. Detik, menit, jam, dan meniti waktu tentang sebuah, yang entah aku pun tak tahu sanggup atau tidak kulalui.

Berputar di masa lalu, menjelaskan kepada cendrawasih yang senantiasa bertanya: Bagaimana? Bagaimana kerasnya keberanian mereka?

Banyak yang terjejer di garda kehancuran. Semerbak aroma darah bercampur tanah, Yang menusuk indra penciuman. Sangat sangat memabukkan. Berembuk mereka. Di bagian kota yang layaknya tua, mati, dan enggan ditempati.

Mereka! Jong Java, Jong Batak, Jong Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Himpunan Pelajar. Dari Sabang hingga Merauke berlayar di samudra persatuan di atas ikrar yang nyata.

Mereka!, Dengan tekad kuat mengikrarkan sesuatu tentang persatuan tanpa memperdulikan belati diacungkan depan matanya. 

Dengan lantang "Sumpah Pemuda!" Terucap tanpa gemetar. Hanya ada tujuan untuk kemerdekaan. Dengan semangat menyuarakan peringatan seakan tak kenal apa itu mati.

Tepat terngiang di batin pribumi. Kejamnya masa itu. Kelamnya waktu itu. Berkobarnya semangat hati. 

Melodi menyakitkan saat itu. Saat di mana perjuangan baru saja dimulai. Saat di mana terciptanya sebuah pengorbanan. Saat dicmana tercetusnya kenangan tentang 'Dua Puluh Delapan Oktober'.

Puisi Karya:   Khairia Nurlita.

2 komentar untuk "Puisi - Ikrar di Persimpangan Tua"