Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Puisi - Hati Bunda

puisi-hati-bunda-ozyalandika-baik-itu-sederhana
Hati Bunda. Foto: Pixabay
Pernah terbesit di hatimu tentang letihnya perjuangan seseorang? Sesosok malaikat yang mempertaruhkan segalanya untukmu.

Bilamana dingin menyentuh, kehangatan yang melindungimu tiada tersaingi. Kamu yang menyapa kehancuran, dia yang khawatir akan kesengsaraan.

Tak ada yang menyaingi, bening permata di hatinya. Tiada yang bisa menggantikan. Senyum manisnya menghangatkan.

Tertawa, kau!
Tertawa batinku!
Terkoyak hatiku! 

Kau!
Pernah kau melihat perjuangan nya?
Pernahkah sedikit pun ada belas kasih kau kepadanya?
Pernah kau memikirkan keadaannya?
Jangan hanya memikirkan, menoleh pun kau tidak.

Tak ingatkah kau?
Bagaimana lembutnya sentuhan membelaimu?
Hangatnya pelukan melindungimu?
Peluhnya keringat membesarkanmu?

Hingga tega kau sekarang tak menorehkan sebuah pembalasan untuknya.
Di mana hatimu? 

Kau sibuk beralasan.
"Ada seseorang yang harus ku jaga"
Siapa, siapa yang kau jaga? 

Ibumu, kau jadikan terlantar di ujung senja. Ibumu, kau lupakan bersama redupnya rembulan. Lantas, siapa yang kau jaga? 

Jika ibumu tak kau hiraukan, Bagaimana bisa kau peduli kepada orang lain?

Hei!
Di mana hati nuranimu! 

Hatinya rapuh. Kau tahu, tapi tak pernah terucap sepatah kata darimu, "Bu, aku rindu!" 

Tergores hatinya, Saat kau mengacuhkannya. Terluka batinnya, saat kau meninggalkannya tanpa jejak.

Tak pernah dapat terucap dari bibirnya, Namun hati rapuhnya selalu berkata "Ibu rindu, kapan kau datang? Tak rindukah kau pada ku?" 

Berteriak hatinya, bercucuran peluh air mata, Tak kuasa menahan isak tangis. Tak kuasa lagi bibir ini terucap. Dia menunggumu jauh di perantauan. 

Menunggu engkau kembali, hingga terhapus sepercik rindu mematikan. Bersama hati rapuh yang susah diobati. Dengan ujung senja yang kian menemani. Dan redupnya rembulan yang menunggu hatinya pergi.

Puisi Karya:    Khairia Nurlita.

Posting Komentar untuk "Puisi - Hati Bunda"