Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengulik Pertanda Kiamat Sugra Bag. 6: Konflik dan Perseteruan Terjadi di Mana-mana

mengulik-pertanda-kiamat-sugra-bag-6-ramainya-konflik-dan-perseteruan-ozyalandika-baik-itu-sederhana
Ramainya Konflik dan Perseteruan. Foto: Pixabay

“Menjelang hari Kiamat nanti, hari-hari banyak dipenuhi oleh al-harj. Saat itu, ilmu menjadi hilang dan kejahilan tersebar di mana-mana. (Abu Musa berkata, Al-Harj artinya pembunuhan menurut dialek orang Habsyi.)” HR. Al-Bukhari nomor 2672.

Sengaja saya hadirkan hadis ini sebagai pengantar ulikan pertanda kiamat Sugra bagian keenam. Soalnya, kita akan mengulas sedikit tentang al-harj yang menurut dialek bangsa Habsyi diartikan sebagai pembunuhan, akan tetapi, makna aslinya adalah pembauran yang disertai oleh konflik.

M. Ahmad Al-Mubayyadh dalam bukunya Ensiklopedi akhir zaman menghadirkan contoh penggunaan al-harj, misalnya pada kalimat “harajan nas idza ikhtalathu wa ikhalafu” yang artinya “manusia menjadi ribut ketika mereka berbaur dan terlibat dalam perseteruan”.

Sebagai tambahan, Ibnu Manzhur memberikan pandangan bahwa al-harj bisa diartikan sebagai pembunuhan yang amat kejam, maraknya pembunuhan, pembauran yang disertai konflik, banyaknya kedustaan, curiga dan tidak percaya terhadap orang atas suatu perkara.

Ketika kita melihat kisah Indonesia hari ini, sekilas, perwujudan al-harj cukup seiras dengan kontroversi RUU Cipta Kerja alias Omnibus Law, kan?

Ya, setidaknya rakyat telah menghadirkan mosi tidak percaya terhadap DPR. Selain itu, pembauran disertai konflik dan seteru juga sempat hadir ketika RUU Cipta kerja ingin disahkan. Alhasil, aksi unjuk rasa mulai digencarkan baik di lingkungan nyata maupun lingkungan maya.

Meski begitu adanya, lagi-lagi makna al-harj yang dimaksud oleh hadis di atas tidak sesederhana itu.

Dalam konteks pertanda kiamat Sugra, pembauran alias pencampuran banyak orang akan menimbulkan konflik yang bisa saja berakhir dengan pembunuhan sebagaimana makna al-harj menurut dialek bangsa Habsyi.

Kalau sudah seperti ini, rasanya dunia waktu itu benar-benar kacau sebagai imbas dari maraknya kebohongan. Secara tidak langsung, akan lebih aman bagi seseorang andai ia tidak bertemu serta berbaur dengan orang lain.

Mengapa pembauran ini bisa berakhir dengan konflik dan berseteru? 

Ketika kita mengulik kembali hadis di atas, maka ada dua hal yang menjadi penyebabnya. Penyebab pertama adalah tersebarnya kebodohan alias kejahiliyahan. Penyebab kedua adalah hilangnya ilmu.

Jadi, cukup “nyambung” rentetan pertanda ini bila kita baca pertanda-pertanda kiamat Sugra yang telah saya tulis sebelumnya. Secara logis, hubungan antara jahiliyah dan fakir ilmu akan berdampak kepada konflik.

Terang saja, tanpa adanya dasar atau pegangan ilmu yang benar dan mendalam, kebenaran maupun kebaikan akan sulit bersinar. Namanya juga jahiliyah-kebodohan, dan gara-gara kebodohan itulah suatu kaum mudah ribut hingga saling bunuh.

mengulik-pertanda-kiamat-sugra-bag-6-ramainya-konflik-dan-perseteruan-ozyalandika-baik-itu-sederhana
Konflik dan perseteruan bisa berakhir dengan pembunuhan. Foto: Pixabay

Nah, ketika suatu kaum sudah dilanda kebodohan dan fakir ilmu, maka jangan semata-mata rakyat bisa menyalahkan pemimpin yang tak adil. Soalnya, Pemimpin yang zalim, pemimpin yang khianat, juga berasal dari rakyat yang zalim dan berkhianat. Nauzubillah!

Dengan hadirnya konflik dan perseteruan, hal lain yang juga bisa terjadi adalah, suatu kaum akan terkotak-kotak. Si A masuk golongan A dan golongan A berteriak bahwa mereka adalah yang paling benar. Padahal? Padahal, golongan tadi hanya mendukung kepentingan pihak tertentu saja.

Maka dari itulah, sangat mungkin bila kemudian ada al-harj alias konflik yang berakhir dengan pembunuhan terhadap sesama teman, tetangga, bahkan saudara. Seakan-akan kematian itu sudah menjadi hal biasa.

Baca jugaMengulik Pertanda Kiamat Sugra Bag.5: Tentang Waktu yang Berjalan Begitu Cepat

Sungguh, alangkah mengerikannya fitnah kiamat itu. Padahal baru pertanda, loh! Berikut penulis hadirkan hadis panjang sebagai penguat ulikan ini:

“Sungguh, di akhir zaman nanti akan terjadi fitnah di mana orang yang tidur lebih baik daripada orang yang duduk, orang yang duduk lebih baik daripada orang yang berdiri, orang yang berdiri lebih baik daripada orang yang berjalan, dan orang yang berjalan lebih baik daripada orang yang berlari. Abu Bakrah bertanya, Apakah yang Anda perintahkan kepadaku jika aku menemui hal semacam itu? Beliau menjawab, Barangsiapa yang mempunyai unta hendaknya dia pergi dengan untanya, barangsiapa yang memiliki kambing hendaknya ia pergi dengan membawa kambingnya, dan barangsiapa yang memiliki tanah hendaknya dia pergi membawa hasil penjualan tanahnya. Namun, bagi mereka yang tidak mempunyai apa-apa hendaknya dia menghantamkan pedangnya pada batu yang keras (agar rusak) kemudian menyelamatkan diri semampunya.” HR. Muslim nomor 2887

Singkatnya, dalam hadis panjang ini Rasulullah menyarankan kepada umatnya agar menghindari yang namanya pembauran. Soalnya, di masa itu pembauran sangat rawan berakhir dengan pembunuhan sebagai imbas dari kejahiliyaan.

Lantas, bukankah sebelum zaman Rasulullah sudah ada masa jahiliyah? 

Tentu saja, tapi, perkara bin prahara yang dimaksud dari dua hadis di atas mengarah kepada kejadian akhir zaman yang ditandai dengan tahapan-tahapan peristiwa (kiamat Sugra).

Terlebih lagi, prahara berupa segunung konflik dan perseteruan ini akan mengarah kepada fitnah duhaima’ hingga fitnah Dajjal. Aduhai! Akhir zaman memang sungguh mengerikan, bahkan tak terbayangkan dalam relung pikir. Semoga kita bisa terus menambah amal di sisa umur ini.

Aamiin Ya Rabbal ‘Aalamiin.

Wallahua’lam bissawab.

Posting Komentar untuk "Mengulik Pertanda Kiamat Sugra Bag. 6: Konflik dan Perseteruan Terjadi di Mana-mana"