Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Duhai Guru, Mari “Maju Serentak” Mencerahkan Masa Depan Pendidikan Indonesia

duhai-guru-mari-maju-serentak-mencerahkan-pendidikan-indonesia-ozyalandika-3
Mencerahkan Masa Depan Pendidikan Indonesia. Designed by Ozy V. Alandika

“Apa Kabar Pendidikan Kita Hari Ini?”
“Apakah Kabarnya Sedang Baik-Baik Saja?”

Mungkin tidak, ya. Kabar wajah pendidikan Indonesia hari ini tidak sedang baik-baik saja. Selain diwarnai dengan sering bergantinya kurikulum dan kebijakan, pendidikan hari ini juga terganjal oleh tantangan berat yang bernama pandemi covid-19.

Mengapa pandemi disebut tantangan berat? Hal yang terang dan tampak oleh kita semua sebagai pelaku pendidikan adalah, sistem dan arah pembelajaran di era pandemi berubah drastis.

Pembelajaran yang dulunya lebih disandarkan kepada sistem tatap muka, sekarang harus dicoba dan terus dikembangkan melalui sistem virtual. Tambah lagi dengan hadirnya Mas Mendikbud Nadiem Makarim, maka arah digitalisasi pendidikan semakin sering digaungkan.

Dengan mempertimbangkan kesehatan dan keselamatan guru maupun siswa, syahdan, diberlakukanlah Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dengan sistem daring (dalam jaringan). Sontak saja, mayoritas guru, siswa, bahkan orang tua terkejut dengan peralihan tren belajar ini.

Lalu, manakah tantangan beratnya?

Kebetulan saya juga merupakan seorang guru yang mengajar di sebuah sekolah dasar. Setelah diberlakukannya PJJ, sebenarnya saya pribadi cukup gusar dan ambyar. Terang saja, di SD tempat saya mengajar, akses internet masih berstatus “fatamorgana” alias tidak ada layanan.

Meski demikian, sebagai seorang guru, saya punya tekad bahwasannya anak-anak di sekolah kami tidak boleh tertinggal dari sisi pembelajaran. Termasuk juga diri saya sendiri, yang harus terus meng-upgrade kompetensi guru agar tidak gagap merancang pembelajaran demi masa depan.

Maka dari itulah saya harus segera membuang rasa gusar dan ambyar serta menjadikan fenomena tersebut sebagai tantangan dalam mengajar. Kalau rasa ini terus dibiarkan, yang ada, nanti guru malah kebanyakan mengeluh daripada berjuang menghadapi kesulitan di lapangan.

Alhasil, saya dapatilah sebuah pola pikir bahwasannya untuk merancang masa depan, kita sebagai seorang guru perlu lebih akrab dengan teknologi. Ya, barangkali ini adalah hikmah dari hadirnya pandemi di Bumi Pertiwi.

Di awal-awal, mungkin ada sebagian guru maupun siswa yang berpikiran bahwa, mengapa kita harus repot-repot mengenal aplikasi pembelajaran seperti Google Classroom, Google Form, Kahoot, Powtoon, Zoom, dan lain sebagainya. Padahal, di era PJJ cukup kasih tugas saja, kan?

Ternyata mindset yang seperti ini “salah besar”. Kalau kita sebagai guru terus menyimpan pola pikir yang seperti ini, mungkin dalam beberapa tahun ke depan kita akan tertinggal jauh oleh guru-guru lain yang ingin maju. Hari ini adalah era Thinking Skill in The 21th Century, Bro!

“Maju Serentak” Mencerahkan Masa Depan Pendidikan Indonesia dengan Menata Mindset Mengajar

Saya yakin semua guru pasti ingin maju serentak dan berkontribusi langsung untuk mewujudkan masa depan pendidikan yang cerah. Tidak ada guru yang tidak ingin maju, selama sang guru itu peduli dengan pendidikan.

Tapi, syarat untuk maju itu cukup berat, ya? Begitulah. Tiap-tiap guru harus keluar dari zona nyaman serta harus terus belajar untuk memperbaharui kompetensi dan kemahiran mengajarnya. Toh, tugas guru bukan hanya mengajar, kan?

Tentu saja. Guru adalah pengajar, pendidik, teladan, fasilitator, penghasil karya inovatif dan kreatif, sekaligus pembelajar yang penuh semangat.

Barangkali banyak orang menganggap bahwa guru itu sosok yang sederhana. Tapi di sebalik kesederhanaan itu, guru punya peran penting dalam mewujudkan masa depan pendidikan yang cerah.

Apapun tantangannya entah itu pandemi, entah itu kesulitan dari segi pemenuhan fasilitas bahkan perubahan kebijakan pendidikan, agaknya guru perlu menganggap fenomena yang ada sebagai tantangan untuk berkemajuan. Anda siap? Pastinya! Kita siap untuk menjadi guru hebat.

Namun, kalau kita merujuk kepada fakta dan data di lapangan pendidikan hari ini, agaknya harapan untuk kecerahan pendidikan belum cukup seimbang dengan usaha maupun perjuangan. Hal ini bisa kita lihat dari skor PISA 2018 yang telah rilis di akhir 2019 kemarin.

Berdasarkan data PISA, kemampuan alias kompetensi siswa Indonesia berada di bawah skor rata-rata negara peserta OECD.

skor-pisa-2018
Skor PISA 2018 Indonesia. Diolah dari sumber OECD.org

Rinciannya, skor literasi, numerasi, dan sains siswa kita secara berturut-turut adalah 371, 379, 396. Sedangkan skor rata-rata negara peserta OECD adalah 487 untuk kompetensi literasi, 489 untuk kompetensi numerasi, juga 489 untuk kompetensi sains.

Lantas, apakah skor yang di bawah rata-rata ini disebabkan oleh guru? Tidak, tidak semua. Kita tahu, pendidikan adalah sebuah sistem dan guru merupakan salah satu komponen dari sistem pendidikan.

Secara umum, kita menyadari bahwa negeri ini begitu luas hingga faktor geografis juga ikut memengaruhi ketercapaian kompetensi siswa. Alasannya? Ada kesenjangan dari sisi fasilitas dan akses pendidikan antara pusat dengan daerah. Di sana banyak sinyal, di sini harus panjat tebing.

Meskipun begitu kenyataannya, secara khusus, cara mengajar guru juga ikut mendukung naik atau turunnya skor PISA. Hal ini bahkan masuk pembahasan utama dalam Peta Jalan Sistem Pendidikan periode 2020-2035 ala Kemendikbud.

duhai-guru-mari-maju-serentak-mencerahkan-pendidikan-indonesia-ozyalandika-1
Diolah dari sumber Peta Jalan Sistem Pendidikan Indonesia 2020-2035 Kemendikbud.

Bisa dibayangkan, bukan? Secara tidak langsung, Kemendikbud telah menaksir bahwa butuh 15 tahun untuk menghapus kesenjangan dalam keefektifan mengajar. Mengapa begitu lama, karena mengubah pola pikir alias mindset mengajar itu tidak mudah.

Para guru selain wajib beradaptasi dengan perubahan zaman juga harus terus mencoba serta mencoba segala sesuatu yang telah mereka pelajari.

Semisal, hari ini guru mengikuti pelatihan pemanfaatan aplikasi Youtube sebagai media pembelajaran. Supaya bisa menghasilkan inovasi, maka setelah guru mengikuti pelatihan tadi dirinya perlu praktik dan memanfaatkan aplikasi Youtube secara kontinu.

Jika tidak? Ya sudah pasti lupa. Barangkali, yang tersisa di ingatan hanyalah di mana file sertifikat pelatihannya. Ciye...Ciye... Mau menghitung angka kredit, ya? Hehehe. Tenang saja, tidak mengapa, kok. Sertifikat pelatihan sejatinya adalah rewards. Nah, ini sebuah mindset, kan?

Kemarin, ketika mengikuti kelas/kursus online berjudul “Pengembangan Profesionalisme Guru di Abad 21” yang diselenggarakan oleh Highly Functioning Education Consulting Services (HAFECS), saya sempat merenungkan mindset yang semestinya jadi prinsip mengajar guru.

Disampaikan oleh Dr. (Cand.) Zulfikar Alimuddin, B.Eng., M.M, setidaknya ada 7 prinsip utama mengajar di era kekinian mulai dari mengajar berdasarkan konteks nyata, fokus kepada kebutuhan siswa, meninggikan empati, menemukan cara cepat belajar, fokus kepada pengembangan diri, menyenangi aksi nyata, hingga menerapkan gaya mengajar yang tidak terikat.

duhai-guru-mari-maju-serentak-mencerahkan-pendidikan-indonesia-ozyalandika-2
7 Persepsi yang bisa jadi mindset mengajar. Diolah dari presentasi Dr. (Cand.) Zulfikar Alimuddin, B.Eng.,M.M.

Saya pun mencoba merenung lebih jauh dan lebih dalam. Ternyata memang iya! Ketujuh prinsip yang dituturkan oleh Direktur Global Islamic Boarding School (GIBS) sekaligus Direktur HAFECS ini memang harus guru tanamkan sebagai mindset mengajar.

Untuk memudahkan penanaman mindset mengajar era kekinian, tentu saja para guru perlu lebih akrab dengan teknologi. Beragam aplikasi digital yang berseliweran di Google Playstore hari ini adalah perantara untuk meningkatkan mutu serta kualitas mengajar guru.

Di sisi lain, kita mungkin tak bisa mengelak bahwa pembelajaran tatap muka tak bisa tergantikan. Tapi, masa iya kita tak butuh dengan yang namanya teknologi pembelajaran? Toh, gunanya juga untuk mempermudah alias mempercepat pencapaian tujuan ajar, kan? Certainly.

Dan, satu prinsip lagi yang juga tidak boleh ketinggalan adalah, seorang guru perlu menerapkan teknologi pembelajaran yang “bisa” diterapkan, bukan malah agar ingin terlihat keren.

Sederhananya seperti ini, karena saking asyiknya ingin menerapkan materi pelatihan tentang LMS (Learning Management System) agar terlihat keren, sang guru malah memaksa kepala sekolah memasang layanan LMS dalam waktu singkat. Kan kasihan, nanti malah ribut!

Daripada memaksakan sesuatu yang tidak sesuai dengan kondisinya, mendingan guru memanfaatkan teknologi pembelajaran yang paling efektif dan sesuai dengan kemampuan siswa, kan?

Semisal, di SD daerah A sinyal internetnya kurang mendukung untuk menggelar pembelajaran menggunakan aplikasi Zoom maupun Microsoft Teams, tetapi untuk berkomunikasi via Whatsapp masih bisa. Nah, mendingan guru racik bahan ajar dalam bentuk infografis dan story Whatsapp, kan?

Begitulah. Sejatinya, hadirnya teknologi pembelajaran bukan untuk ajang “keren-kerenan” melainkan sebagai sandaran menerbitkan inovasi dan kreasi. Tujuan akhirnya? Demi mencerahkan masa depan pendidikan.

Maka dari itulah, sebagai seorang guru, kita perlu terus memperbaharui kompetensi ajar dengan cara mengikuti kegiatan pengembangan diri seperti workshop, webinar, lokakarya, pelatihan kepenulisan ilmiah dan PTK, serta program berbasis hard skills maupun soft skills lainnya.

“Maju Serentak” Mencerahkan Masa Depan Pendidikan Indonesia Bersama GuruInovatif.id

Sampai di sini, ternyata peran penting seorang guru dalam meningkatkan mutu serta kualitas pendidikan semakin terasa, kan? Begitulah. Peningkatan kompetensi mengajar guru akan berbanding lurus dengan peningkatan kompetensi siswa.

Kalau gurunya sering dan terbiasa mengajar dengan tren critical thinking, maka siswanya juga akan terbiasa berpikir secara analisa, evaluasi, hingga sintesa.

Ketika guru mengajar dengan gaya kontekstual, problem solving, dan mengedepankan makna, maka siswanya bisa membaca serta merenungkan sebuah fenomena untuk kemudian memetik hikmah.

Sungguh indah, bukan? Ya, masa depan pendidikan yang cerah sama indahnya seperti kita menatap senja dan swastamita.

Oh, ya. Tadi saya sempat berkisah bahwa saya pernah mengikuti sebuah kelas alias kursus online, kan? Alhamdulillah setelah sekitar beberapa hari yang lalu mendapat informasi dari teman penulis via grup Whatsapp, saya akhirnya tertarik bergabung dengan plaftform online learning bernama GuruInovatif.id.

Hanya saja, karena di daerah saya dalam 3 hari ini sering hujan, alhasil eksistensi sinyal internet jadi meredup dan saya harus menunda kesempatan untuk membuat akun di lembaga divisi yang bergerak di bidang training guru ini.

Tapi, lagi-lagi saya harus berucap syukur Alhamdulillah karena Allah telah izinkan saya untuk membuat akun dan mendaftar salah satu kursus online, tepatnya pada kemarin siang (30/10/2020).

duhai-guru-mari-maju-serentak-mencerahkan-pendidikan-indonesia-ozyalandika-4
Tangkapan Layar laman kursus saya di GuruInovatif.id

Plaftorm yang terus berdedikasi meningkatkan kompetensi metode ajar guru melalui kelas online ISLTF (Innovation School Leaders and Teachers) dan GuruInovatif.id ini dapat diakses secara gratis maupun premium.

Karena penasaran, langsung saja saya coba salah satu kursus online gratis dengan judul berjudul “Pengembangan Profesionalisme Guru di Abad 21”. Ketika saya cek dan ikuti, ternyata para pematerinya adalah orang-orang hebat serta berkompeten di bidang edukasi.

Para pemateri online tersebut terdiri dari guru besar, rektor, dosen, peneliti, tim pakar, dan bahkan pada malam tadi saya pula menyimak pemaparan dari staf ahli Mendikbud RI loh! Secara pribadi, tentu saja saya bangga serta merinding dalam menikmati materi yang disampaikan.

Apakah Pelatihan Guru yang seperti ini asyik bagi seorang guru? Wah, tentu saja sangat asyik. Hafecs dan guru inovatif sangat cerdas mendesain jalannya kursus.

Mereka menyetel waktu presentasi pemateri hanya 30 menit, ditambah 15 menit untuk sesi pertanyaan. Jadi, kita sebagai penyimak materi tidak akan jenuh dan bosan. Selain itu, kita sebagai peserta kursus juga akan mendapatkan modul yang bukan sembarang modul.

Lha, mengapa saya bilang begitu? Karena dari modul maupun penyampaian materi banyak hal baru yang bisa saya dapatkan sebagai guru.

Meskipun dari kursus bertajuk Sertifikasi Guru yang diikuti saya baru menyelesaikan 5 materi pembelajaran berbentuk video, saya mulai tergambar tentang betapa pentingnya Pedagogical Content Knowledge (PCK), pengajaran berbasis Higher Order Thinking Skills, hingga asesmen di zaman kekinian.

Terang saja, untuk meningkatkan insight maupun jelajah daya pikir siswa, gurunya pun mesti pandai-pandai mengarahkan, baik itu sebagai fasilitator hingga motivator pemancing afeksi siswa.

Nah, demi mencapai peningkatan ini, selain harus mengubah mindset, kita juga perlu bahkan sangat perlu untuk menyelami ilmu dan kompetensi di Tempat Belajar Guru.

Banner lomba GuruInovatif.id

Dengan adanya Guru Belajar Mengajar di GuruInovatif.id, saya membayangkan bahwa para guru akan semakit semangat “maju serentak” untuk mencerahkan pendidikan Indonesia.

Tentu saja, kan? Pekerjaan guru itu mulia, dan mana mungkin ada orang yang tak semangat untuk menjemput ilmu baru. Toh, ini juga demi anak-anak bangsa. Pokoknya, semoga menjadi amal jariyah buat kita, ya. Aamiin.

Syahdan, selama mengikuti pelatihan guru bertajuk kursus online dari kemarin hingga hari ini, saya menemukan sesuatu yang “tidak biasa”. Apa itu? Kalian penasaran, kan?

Ya, kelas online Guru Belajar Mengajar di GuruInovatif.id benar-benar serius dalam melatih mutu dan kualitas guru. Mengapa saya katakan demikian?

Setelah saya mengikuti 5 materi pembelajaran berbentuk video, saya baru tahu bahwa kita sebagai peserta pelatihan harus menyimak materi tersebut sampai selesai. Kalau tidak, secara otomatis kita tidak akan bisa menyelesaikan materi kursus dan juga tak mendapatkan sertifikat.

Sederhananya, peserta tidak bisa hanya sekadar mengisi daftar presensi lalu pergi, atau hadir lagi ketika materi ajar mau habis. Lah, kok kedengarannya susah, ya?

Ya, kalau saya boleh mengutip Quote-nya GuruInovatif.id, “kalaulah tugas yang diberikan terasa mudah, lalu apa buktinya kita belajar?” Saya rasa, ini adalah bentuk keseriusan kita maupun GuruInovatif.id dalam mengajak para guru untuk “maju serentak” mencerahkan pendidikan.

Tambah lagi, di platform Pelatihan Guru ini juga sudah tersedia Webinar 32/64 JP, Productivity Courses,  Mini Courses 8/16 JP, Online Certifications 32 JP, hingga Innovation School Leaders and Teachers (ISLTF). Semakin semangatlah kita para guru untuk “maju serentak”.

“Maju serentak” yang saya maksud adalah maju bersama-sama dan mulai menanamkan pikiran bahwa para guru perlu berjuang bersama untuk mencerdaskan bangsa serta menjadi pendidik yang pembelajar.

Terakhir, karena saya adalah guru Pendidikan Agama Islam di SD, saya pun berharap agar kedepannya platform GuruInovatif.id dapat menyediakan kursus yang berfokus kepada muatan pendidikan Agama di tingkat SD.

Saya yakin dan percaya bahwa akan banyak guru di seluruh penjuru bumi Indonesia yang semakin peduli dengan peningkatan kompetensi mengajar. Maka dari itu, hadirnya GuruInovatif.id bisa menjadi wadah bagi semua guru, terutama guru-guru muda untuk memunculkan inovasi.

Salam Guru Inovatif.
Ditulis oleh Ozy Vebry Alandika

 

*Tulisan ini murni karya penulis sendiri. Berikut penulis lampirkan bukti keaslian dari copyscape.

Tangkapan layar copyscape.

12 komentar untuk "Duhai Guru, Mari “Maju Serentak” Mencerahkan Masa Depan Pendidikan Indonesia"

  1. Mantap artikel sangat bermanfaat, sukses pak Guru

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terengkyuh, Bu Dinni. Aamiin ya rabb 😀🤝

      Hapus
  2. Bukan hanya guru, pola pikir orang tua pun harus berubah dng tdk lagi menyerahkan semua pengajaran dan pendidikan anak ke sekolah. Org tua tidak lagi bs hanya tahu beres apapun yg diterima anak di sekolah tapi harus bantu memberikan pengajaran terutama karakter.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahsiyyap mantab, Bu. Kolaborasi dan interaksi antara guru dgn orang tua akan semakin memudahkan proses belajar. Karakter number uno. Siyyap
      Tengkyu, Bu :-)

      Hapus
  3. Hmmf.. saya bukan guru, tapi asyik juga baca artikel ini. Perihal saya juga sering berbagi materi2 kepada adek2 junior saya. Terimakasih mas ganteng atas artikel yang bermanfaat ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, keren. Meski bukan guru, tp punya jiwa guru. Mantab ini Bang
      Tengkyu hadirnya, Bang Le.
      Salam 😊

      Hapus
  4. Terima kasih untuk artikelnya Bang, bermanfaat,☺️👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas hadirnya, Pak. Salam hangat selalu 😀

      Hapus
  5. Terima kasih pak Ozy untuk artikelnya, sangat bermanfaat sekali.. Salam sejahtera, semoga segala hajat terlaksana😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, saya kedatangan pujanggawati dari Lampung nih. :-) Terima kasih kembali, Bu Rani. Aamiin Ya Rabb. Sehat selalu :-)

      Hapus
  6. Wah program GuruInovatif.id ini keren sekali yaa, semoga mampu menjadi jembatan untuk mencerahkan masa depan pendidikan Indonesia, dan guru mau dan bisa untuk diajak jalan "serentak" yaa..
    Terimakasih artikel inspiratifnya, Bang Guru. Semoga segalanya dimudahkan 😇🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hamdulillah keren, Mbak. Aku masih semangat ngikutin nih. Ternyata ilmu di dalamnya hebat-hebat. Nanti kalo sinyal lancar, bakal kuulas di Kompasiana juga. Keren.
      Terima kasih singgahnya, Mbak. Salam hangat dari Pujangga Emas. :-)

      Hapus