Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Contoh Penerapan Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berpikir (SPPKB) Materi Demokrasi

contoh-penerapan-strategi-pembelajaran-peningkatan-kemampuan-berpikir-sppkb-materi-demokrasi
Ilustrasi SPPKB. Foto: Pexels

Hai Sobat Guru. Kali ini saya akan kembali membagikan cerita pendek yang berkenaan dengan penerapan Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berpikir (SPPKB). Langsung disimak saja, ya.

*

Bel masuk pertama sudah bunyi, yang menjadi pertanda bahwa siswa kelas VIII A harus masuk kelas untuk menerima pelajaran pertama. Pelajaran pertama hari ini adalah Pendidikan Kewarnegaraan dengan Ibu Firda.

Ibu Firda hari ini akan mengajarkan materi tentang Penerapan Budaya Demokrasi dalam Berbagai Lingkungan Kehidupan. Tepat jam 07.30 Ibu Firda sudah berada di depan kelas VIII D.

“Assalamualaikum Wr. Wb”

“Walaikumussalam Wr. Wb”

“Sudah mandi kalian semua kan??” Ujar Ibu Firda

Siswa Menjawab sambil tersenyum, “Sudah, Bu.”

“Nah, sekarang mari kita mulai pelajaran hari ini. Mari kita sama-sama membaca bismillahirrohmanirrohim”

Semua siswa menjawab, “Bismillahirrohmanirrohim”

Sambil berjalan mendekati tempat duduk siswanya Ibu Firda sedikit mengulangi pelajaran.

“Mengapa kita mesti membaca basmalah untuk memulai sesuatu?”

“Agar diberi kelancaran oleh Allah dalam belajar Bu”

“Apa lagi?”

“Biar kita lebih tenang, di beri kemudahan oleh Allah, dan fokus dalam belajar, Bu”

“Ya, kalian benar semuanya. Dengan mengawali semua pekerjaan dan perbuatan dengan membaca basmalah, insya Allah kita akan senantiasa berharap untuk mendapat berkah, mendapat ridha dari Allah.”

“Aamiin yaa Robbal Aalamiin” Jawab siswa serentak.

 

“Baik, hari ini kita akan melanjutkan materi pelajaran tentang demokrasi yang pada minggu kemarin tertunda”.

“Ya, Bu.....”

Sambil memegang pundak salah satu siswa yang agaknya mengantuk, Ibu Firda bertanya. “Emm, kamu belum mandi ya? Ibu tanya apa itu pengertian Demokrasi?”

Siswa menjawab dengan semangat, “Sudah Bu saya mandi.. emmmm. Demokrasi adalah pemerintahan yang berasal dari rakyat, untuk rakyat dan oleh rakyat, Bu”.

Ibu Firda menanggapi, “Ya , benar. Itu adalah pendapatnya Abraham Lincoln. Nah, sekarang Ibu tanya lagi yaaaa. Demokrasi itu ada di mana saja?”

Siswa masih terdiam. Ibu Firda mengulangi lagi pertanyaannya, “Demokrasi itu ada di mana saja?”

Ada salah seorang siswa menjawab, “Ada di mana saja Bu, di sekitar kita juga ada”

Ibu Firda pun tersenyum, dan segera mengambil cokelat yang kebetulan masih ada di dalam tasnya seraya meminta siswa tadi untuk maju ke depan.

“Sini, nak, maju ke depan... siapa namanya?” Tanya Ibu Firda

“Anton, Bu”

Ibu Firda langsung memberikannya cokelat, “Ini untuk Anton, tapi jangan di makan sekarang yaa?”

Anton menjawab, “Iya Bu.”

“Ok, sebentar Anton,, Ibu mau minta Anton sedikit bercerita tentang pekerjaan Anton, Ibu, ayah, dan adik Anton di rumah.. Anton bersedia, ya?”

“Ya, bersedia Bu. Ayah saya bekerja sebagai petani padi. Ayah meminta Ibu saya untuk membawakannya makan siang ke sawah, dan jika pekerjaaan di sawah sedang banyak maka Ayah meminta saya dan adik agar sepulang sekolah langsung ganti baju di rumah, kemudian bergegas membantu ayah di sawah...... Sudah. Bu.”

“Sip Sip, Bagus-Bagus Anton. Nah, sekarang Anton Boleh duduk.” Anton pun segera duduk dan menyimpan cokelatnya ke dalam tas.

“Anton, nanti bolehlah bagi-bagi tuh cokelatnya” Ujar siswa lain.

“Oke deh, aman. Wkwk”

“Eh, kalo mau cokelat sini maju ke depan . .” Kata Ibu Firda, sambil melirik kepada siswa yang meminta cokelat Anton.

“Waduhh, tidak Bu.. tidak jadi.”

Ibu Firda pun kembali duduk, seraya bertanya, “Nah, setelah kalian mendengar cerita dari teman kalian tadi, apa kira-kira budaya demokrasi yang ada di sana?”

Siswa sejenak terdiam dan merasa bingung. Namun ada satu siswa yang ingin coba-coba menjawab, “Bekerja Bu”

Ibu Firda memainkan jari telunjuknya, “Emmmm,, no no no. Kata bekerja nya sudah benar, tapi perlu ditambahkan. Ayo apa anak-anak?”

Siswa masih terdiam, padahal masih pagi.

“Hayo Anak-anak VIII A. Mana semangatnya. Kepala kalian sudah mulai berasap rupanya? hahahaha”.

Siswa tertawa, “Haha, emangnya otak kami kebakaran apa Bu... mmmm, Jelaskan lagi Bu...”

Ibu Firda tersenyum dan lekas berdiri mendekati siswa, “Hehe. Ya ya. Dengarkan ya. Tadi telah dikatakan oleh Anton, bahwa Ayahnya meminta ibunya untuk mengantarkan makan siang, serta meminta Anton dan adiknya untuk membantu Ayahnya di sawah. Itu namanya apa?”

Anton menjawab, “Pembagian kerja Bu”

“Nah, benar itu. Pembagian kerja yang bagaimana itu?”

“Pembagian kerja didalam keluarga Bu”

“Josss, Jadi Pembagian kerja di dalam keluarga itu apa?”

“Budaya demokrasi di dalam keluarga Bu” Ujar salah seorang siswa

“Sip deh, benar. Benar. Sekarang Ibu mau bertanya lagi. Presiden secara demokrasi yang memilih siapa?”

“Rakyat Bu” Jawab siswa serentak

“Nah, kalo contoh penerapan budaya demokrasi di sekolah apa contohnya?”

“Bergaul dengan temann tidak membedakan status dan agama, Bu”

“Menghormati Guru, teman, dan menghargai pendapat teman, Bu”

Ibu Firda tersenyum, “okeh-okeh boleh lah. Kalo di dalam kelas, yang mirip dengan presiden, apa hayoo?”

Siswa tampaknya masih bingung.

“Lah, kok diam,, itu loh. Coba lihat” Kata Ibu Firda seraya menunjukkan ke arah struktur organisasi kelas.

“Ohhhh.. Pemilihan ketua kelas Bu” Jawab siswa dengan adu cepat

“Nah itu yang Ibu mau dari tadi... jadi, Pemilihan ketu kelas itu merupakan contoh apa tadi?”

Siswa secara serentak menjawab, “Contoh penerapan budaya demokrasi di sekolah Bu”

Ibu Firda seraya mengancungkan jempol, “Josss Josss. Benar-benar”

Ibu Firda pun kembali duduk, “Em,  Ibu masih mau tanya. Coba kalian beri contoh penerapan budaya demokrasi di dalam masyarakat?”

“Pemilihan kepala desa, Bu” Jawab Siswa

“Boleh Boleh, coba yang lebih sederhana dan sering dilakukan di masyarakat apa? ”

“Gotong royong Bu” Ujar siswa

Ibu Firda kembali memainkan pemikiran siswa, “Begini anak-anak. Misalnya ada dua orang tetangga yang sedang ribut dan berkelahi, apa yang dilakukan masyarakat?”

“Melerainya Bu?”

“Lapor kepada kepala desa Bu?” Jawab beberapa siswa

“Nah, terus cara menyelesaikan masalahnya bagaimana. Apakah mesti di pukuli?” Ujar Ibu Firda seraya tertawa

“Tidak, Bu. Diselesaikan dengan baik-baik, dengan musyawarah, Bu.”

“Nah, jadi, contoh penerapan budaya demokrasi di masyarakat adalah.....”

“Musyawarah antar sesama warga Bu”

“Sip. Bagus Bagus.”

Bel pun berbunyi tanda usai pelajaran. Ibu Firda pun segera menutup pembelajaran. Pelajaran hari ini telah selesai dan Ibu Firda pun memberitahu siswa tentang tema materi minggu depan. Setelah itu Ibu Firda segera keluar kelas dan kembali ke ruang guru.

*Selesai*

Strategi yang digunakan penulis dalam cerita di atas adalah STRATEGI PEMBELAJARAN PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR (SPPKB). Strategi ini kiranya merupakan rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus yaitu terhadap peningakatan kemampuan berpikir siswa.

contoh-penerapan-strategi-pembelajaran-peningkatan-kemampuan-berpikir-sppkb-materi-demokrasi (2)
Ilustrasi berpikir. Foto: Pexels

Mengapa dikatakan sebagai SPPKB, karena cerita di atas sebagian besar merupakan uraian dialog/percakapan  antara guru dan siswa.

Dialog ini berlangsung secara bertahap mengenai budaya demokrasi dan contoh konkretnya di lapangan, yang dimulai dari tahap terendah hingga tahap tertinggi di mana itu merupakan tujuan akhir guru dalam menerapkan strategi ini.

Dalam SPPKB, yang sangat berperan penting adalah kreativitas gurunya dalam mengkondisikan dialog yang interaktif dan komunikatif dengan siswa.

Jika dialog dapat berlangsung secara komunikatif, maka tujuan dari materi pembelajaran otomatis bisa tercapai tentu dengan melalui tahapan-tahapan dialog.

Sebaliknya, jika dialog tidak komunikatif dan guru kurang bisa mengkondisikan siswanya untuk berperan aktif di dalam dialog, otomatis pembelajaran dengan strategi ini akan terhambat dalam perihal mencapai tujuan yang telah ditetapkan di dalam rencana pembelajaran.

Mengenai pendekatan, pada cerita di atas digunakan pendekatan sebagai berikut:

Pendekatan Keagamaan: Yaitu dengan menyelipkan nilai-nilai keagamaan. Di awal cerita disampaikan oleh guru mata pelajaran. Ini akan membawa pengaruh yang baik bagi kebiasaan siswa dan akan berdampak positif terhadap perkembangan akhlaknya.

Pendekatan Individual: Yaitu dengan mengikutsertakan salah seorang murid secara individual untuk ikut berperan sebagai alat simulasi dalam proses pembelajaran. Pada cerita di atas, terlihat seorang siswa di minta untuk bercerita, yang ceritanya mendukung proses pembelajaran.

Pendekatan Keterampilan Proses: Pendekatan ini terlihat dari proses dialog guru dengan siswa. Guru lebih mementingkan proses peningkatan berpikir siswa untuk mencapai tahapan tertinggi yang sifatnya abstrak.

Guru lebih menghargai proses berpikir daripada hasilnya. Hal ini terlihat pada cerita bahwa guru tidak pernah menentang jawaban siswa itu salah, melainkan berusaha untuk meningkatkan pemikiran siswa tersebut.

Pendekatan Rasional: Melihat cerita di atas, guru memberikan contoh-contoh yang rasional dan konkrit terhadap materi pembelajaran yang ia sampaikan. Seperti pemilihan ketua kelas, pemilihan kepala desa, dan musyawarah antar warga. Ini semua merupakan aktivitas rutin yang memang di terapkan didalam sekolah dan masyarakat.

Semoga Bermanfaat.

2 komentar untuk "Contoh Penerapan Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berpikir (SPPKB) Materi Demokrasi"

  1. Wah ketemu Bu Firda lagi nih, asik keknya diajar beliau hehe 🤭

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asik kayaknya mbak. Kan Bu gurunya jomblowati 🤭

      Hapus