Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerpen - Suasana Baru

cerpen-suasana-baru-ozyalandika-baik-itu-sederhana
Ilustrasi sholat berjamaah. Foto: rawpixel.com dari freepik.
Ponpes Mafaza merupakan Lembaga Pendidikan Islam yang cukup ternama di Daerah Lubuklinggau, walaupun termasuk lembaga termuda dibandingkan dengan Ponpes lainnya.

Di sinilah aku memulai hari-hariku untuk mendalami ilmu agama, bahkan banyak sekali nostalgia yang aku alami. Akan tetapi, aku membutuhkan waktu untuk adaptasi dalam lingkungan pesantren yang sangat ketat pendidikannya.

Bahkan dalam urusan waktu, diatur sedemikian rapi sehingga pertama kali aku di pesantren sedikit kalang kabut untuk beradabtasi dengan lingkungan pesantren.

Mulai waktu tidur sampai waktu bangunnya, padahal selama aku di desa orang tuaku tidak pernah usil terhadap waktu tidurku. Biasanya aku bangun jam tujuh pagi atau lebih.

Udara begitu dingin sehingga tak dapat kuhindari rasa dinginnya. Terdengar begitu sayu dalam telinggaku suara para senior membangunkan para calon santri baru yang masih tertidur pulas.

Perlahan aku melihat jam di tangan ku dengan sedikit mata mengantuk, waktu telah menunjukkan pukul 03:40 dini hari.

“Ayo semuanya bangun.....?” teriak salah satu dari santri senior.

“Kalau tidak ada yang bangun akan mendapatkan hukuman yang sangat berat...” teriak yang lainnya, sedangkan aku masih berat untuk bangun.

Tapi akhirnya aku paksakan untuk bangun walaupun kulitku begitu dingin tersengat angin pagi. Tak lama kemudian, aku dan rekan-rekan yang lainnya para calon santri baru telah berkumpul di depan kamar penampungan sementara.

“Sekarang kalian siap-siap pakai baju muslim dan sarung jangan lupa peci....?” kata salah satu ketua MOS yang perawakkannya sedikit seram.

“Setelah ini kalian pergi berwudhu untuk shalat tahajud berjam’ah di masjid.....”. tambahnya kemudian. Sedangkan kami telah bubar dan sudah pada sIbuk dengan diri masing-masing untuk mempersiapkan diri.

“Hai boleh kenalan dak.....?” sapa salah satu dari rekan calon santri baru, sehingga sedikit membuat aku kaget.

“Emzz boleh.....,”. tanggapku singkat.

“Nama aku Arwansyah....!” katanya sambil menjulur tangan kanannya seraya mengajak salaman.

“Nama aku Jaka...!” sambungku kemudian.

“O, ya kayaknya kamu ini orang Jawa, ya..?” tanyanya kemudian seraya menoleh ke arahku.

“Aku bukan orang Jawa.!” Jawabku singkat.

Tapi tampangnya kamu ini persis orang Jawa lo..” komentarnya sedikit penasaran.

“Iya emang nenek moyangku masih keturunan Jawa asli....”. jelasku. Sedangkan Arwansyah hanya anggukkan kepala seakan-akan mengerti dengan penjelasanku.

Perlahan aku melirik jam tanganku yang baru dibelikan oleh Bapakku. Waktu telah menunjukkan pukul 04:00, wib. Suasana pondok begitu ramai dipenuhi santri yang pada mondar-mandir untuk menuju kemasjid guna melaksanakan shalat tahajud secara berjam’ah.

Sesaat kemudian aku dan rekan-rekan calon santri baru sudah berada dalam masjid dengan tertib.

Shalat pun dilaksanakan dengan khitmat dan tenang, sehingga dalam hidupku baru kali ini aku melaksanakan shalat sunnah tahajud. Padahal selama ini aku tidak pernah melaksanakan yang namanya ibadah shalat baik itu yang wajid maupun yang sunnah.

Aku sedikit canggung melaksanakannya. Jangankan yang sunnah, yang wajib aja aku kurang paham, mulai dari bacaannya maupun dari gerak-geraknya. Shalat yang aku pahami hanya shalat Magrib saja. Itu pun masih kasak-kusuk.

Tapi, seiras denganku, semua calon santri begitu khusuk melasksanakan shalat walaupun dengan terpaksa.

“Puuutttt....tusssssssss....puuuusssssssssssssssss.!” Suara yang tak asing lagi di telinga. Suasana begitu gaduh, hanya terdengar dari pojok barisan siapa yang kentut........???!!” tapi tak satu pun yang menjawab, hanya hening dan senyap.

Cerpen Karya:    Toni Iskandar, S.Pd

Posting Komentar untuk "Cerpen - Suasana Baru"