Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerpen - Sosok yang Aneh

cerpen-sosok-yang-aneh-ozyalandika-baik-itu-sederhana
Sosok yang Aneh. Foto: Pixabay

Ketika wajah bumi mulai basah kuyup bersama desa-desir wajah malam. Sosok itu masih terkenang dalam benak ku. Dia aneh dan super aneh. Dengan raut wajah cemberut yang selalu berdiam diri bersama selimut kabut.

Dia seorang wanita yang bernama Mayang. Dalam kesahariannya ia terkenal aneh. Suka menari-nari kayak orang gila. Akan tetapi di balik kegilaannya itu iya selalu bersyair entah apa maknanya. 

Sungguh wanita aneh.

”Dia emang aneh.?” sahut seseorang lelaki yang sudah berusia 50 tahun. 

“Maksud Bapak.?” tanyaku kemudian.

“Udahlah itu bukan urusanmu.” jawab lelaki tua tersebut sambil berlalu dari hadapanku. 

Sedangkan wanita itu terus bersyair dengan bait-bait syair yang aneh. Akan tetapi maksud syair yang diucap itu mengandung sesuatu rasa rindu yang amat dalam. 

Perlahanku lihat jam di tanganku sudah menunjukkan pukul 07:30 Wib. Secepat mungkin aku menuju kekelas karena sebentar lagi Dosen akan masuk. 

Selama mengikuti perkuliahan, pikiranku terus melayang ke mana-mana. Seakan-akan teringat dengan wanita tadi bersama syairnya sehingga membuat aku tambah penasaran dengan wanita itu.

Pukul 10:30 jam perkuliahan telah berakhir. Semua teman-teman pada pulang. Ada yang ke kantin, ada yang ke ujung kulon, dan banyak lagi. Sedangkan aku? Hanya termenung. Entah apa yang dipikirkan.

Syahdan, angan-anganku terbawa oleh bayang-bayang waktu, seperti tangan menulis rahasia bunga. 

Seperti melukiskan napas yang tertidur, hanya sebutir cahaya menyapa para embun pagi yang selalu menetes begitu syahdu. Yang selalu mengharapkan harapan yang tertunda. 

“apakah aku seperti embun.?”

“Tidak..”

“Mungkin saja.?” 

“Heeh, Anton napa lue bengong aja.?” tegur salah satu temanku, sehingga aku kagetnya mintak ampun.

“Eehh kamu tok. Bikin orang jantungan aja.” sergahku sambil mengelus dada.

“Sory dech kalau udah bikin kaget, habis kamu sich engalamun aja.,” tambah Si Tok.

“Iya udah enggak apa-apa.” jawabku lesu.

“Aku pulang duluannya.?” katanya seraya pergi dari hadapanku.

“Oke..”.

Kini tabir garis pantai telah membentangkan sayapnya hanya lukisan kehidupan tergambar dalam hati yang gundah. Hanya cahaya sang surya yang menyapa jagat raya. Bukti bola-bola kristal telah pudar.

Menebarkan cahaya penuh arti. Sehingga aku hanya melamun dalam lamunan yang indah merindukan kisah-kisah yang akan datang.

Pukul 11:30 Wib. Aku segera siap-siap untuk pulang. Setelah aku langkahkan kaki untuk beberapa langkah, aku melihat sosok wanita yang kutemui pagi tadi. Tapi kali ini dia hanya berdiam diri. Aku semakin heran apa yang sedang ia perbuat. Perlahan aku mendekatinya walau pun ada sedikit keragauan dalam hati ini.

“Mau apa kamu.?” tanyanya tiba-tiba di saat aku mulai hampir mendekatinya.

“Oh tidak ada apa-apa.” jawabku gugup.

“Cuiiii.!” spontan wajahku diludahinya. Spontan itu juga aku kaget sambil menahan emosi.

“Kenapa Anda meludahiku.?” tanyaku sambil menghapus air ludah di wajahku. Sedangkan wanita tersebut hanya menghela napas panjang.

“Kekasihku yang menyuruhku untuk meludahimu.” jawabnya singkat sehingga membuat aku semakin bingung. Sedangkan wanita tersebut begitu asik dengan syairnya.

“Emangnya ada apa dengan kekasihmu sehingga ia menyuruhmu untuk meludahiku.? aku kembali bertanya kepadanya. 

Wanita tersebut bangkit dari tempat duduknya kemudian pergi meninggalkanku seraya tidak menghiraukan pertanyaanku tadi. Sejenak aku merenungi apa yang dikatakan tadi bahwa kekasihnyalah yang menyuruh untuk meludahiku. 

Ternyata yang dimaksudnya adalah Allah, sejenak kemudian sosok wanita tersebut telah menghilang dari hadapanku. “Sungguh wanita aneh.?” bisik hatiku.  

Cerpen Karya:  Toni Iskandar, S.Pd

Posting Komentar untuk "Cerpen - Sosok yang Aneh"