Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerpen - Istanaku Berdebu

cerpen-istanaku-berdebu-ozyalandika-baik-itu-sederhana
Istanaku Berdebu. Foto: Pixabay

Rasanya ingin aku pergi dari kota ini. Tak ada gunanya aku hidup di kota ini setiap pulang kerja selalau ribut dengan istri. Alasannya, penghasilan dari kerjaku tidak mencukupi kebutuhan. Sedangkan aku hanya kuli bangunan di pasar.

Sudah enggan bagiku untuk pulang ke rumah karena hanya mendapatkan omelan-omelan yang tak tahu ujung pangkalnya.

“Baru pulang Mas.?” tanya istri Pak Dadang seketika sehingga langkah kaki Pak Dadang tiba-tiba berhenti.

“Iya.” jawab Pak Dadang dengan nada lesu.

“Buk tolong bikinkan bapak kopi, ya.?” pinta Pak Dadang kepadanya istrinya.

“Iya.” jawab Bu Yati dengan mimik wajah asam.

Dengan perasaan yang hampa Pak Dadang berusaha untuk melepaskan penat yang dialaminya selama bekerja jadi kuli bangunan. 

Perlahan Pak Dadang rebahkan tubuhnya di atas kursi yang terbuat dari banbu matanya mererawang entah kemana seakan-akan tubuhnya terhempas oleh ombak laut yang amat besar

“Ini mas kopinya.?” kata Bu Yati tiba-tiba dengan wajah yang cemberut.

Tanpa tanya lagi kepada istrinya Pak Dadang langsung menikmati kopi yang dibuat oleh istrinya. Sedangkan Bu Yati telah berlalu dari hadapannya.

“Mas aku ingin kerja.?” kata Bu Yati tiba-tiba di balik pintu.

“Mau kerja apaan.?” tanyaku yang masih penasaran.

“Kerja apa aja yang penting kerja.” jawab Bu Yati.

“Kenapa kamu mesti kerja. Biar aku aja yang kerja untuk mencari nafkah.?” sambung Pak Dadang agar istrinya enggak kerja.

“Tapi aku udah bosan mas, hidup selalu kekurangan sedangkan penghasilan mas aja tidak pernah mencukupi kebutuhan rumah tangga.” jelas Bu Yati dengan nada mengeluh. Sedangkan Pak Dadang hanya terdiam seribu bahasa. 

Pak Dadang bingung. Entah langkah apa yang mesti dilakukan, sedangkan pekerjaannya hanyalah seorang kuli bangunan yang penghasilannya yang tidak pernah mencukupi.

 Mau cari kerjaan yang lebih layak tidak akan pernah dapat karena skill tidak ada. Sedangkan sekolah saja tidak tamat SD. Ke manakah aku harus mengadu. Bisikku pada diriku sendiri.

Pukul 08:00 Wib. Pak Dadang telah siap-siap untuk berangkat kerja sebagai kuli bangunan sedangkan istriya tidak kelihatan dari tadi. 

Dengan hati yang sedikit berat, Pak Dadang melangkahkan kakinya dengan angan-angan yang tak menentu yang ada di dalam hatinya terdapat seribu pertanyaan.

“Napa dengan dirimu Dadang, ko’ pagi-pagi gini udah bengong aja.?” tergur Pardi, salah satu rekan kerjaku. 

“Biasalah Par, setiap pulang kerja selalu ribut melulu dengan orang rumah....!!” jawabku dengan nada lesu. Pardi hanya anggukkan kepala sepertinya dia sudah paham apa yang aku alami.

“Sabar aja, Dang.?” kata Pardi sambil mengelus pundakku.

“Terima kasih, Par.!” jawabku singkat. 

Sesaat kemudian aku segera berbagung dengan yang lainnya untuk menyesaikan bangunan yang telah kami kontak. 

Terlihat begitu terjalinnya kerja sama di antara kami dalam berkerja sehingga penat yang aku alami hilang begitu saja.

Pukul 16:00 wib, aku dan rekan-rekan semua telah siap-siap untuk pulang ke rumah masing-masing. Akan tetapi dalam benakku masih terbayang-bayang apa yang akan terjadi dengan rumah tanggaku. 

Istriku mau kerja, sedangkan kerjaan yang ia inginkan aku tidak tahu sama sekali. Bisik hatiku.

“Santi, ibumu kemana ko’ tidak kelihatan dari tadi.?” tanya Pak Dadang kepada anak semata wayangnya.

“Kurang tahu juga ayah, kata ibu mau cari kerjaan.” jawab santi singkat. Sedangkan Pak Dadang hanya mengela nafas panjang sambil mengelus dada.

Seakan-akan tubuhnya lemas tanpa daya sama sekali sehingga ia terjatuh di atas kursi. Matanya hanya menerawang seakan-akan ruh pergi meninggalkan jasadnya. Yang dapat dilakukan hanya pasrah, dan pasrah.

Sekian lama Pak Dadang menunggu kedatangan istrinya yang katanya pergi untuk kerja, tapi kunjung hari, tak ada kabar dan beritanya sama sekali.

“Ayah ibu ko’ tidak pulang-pulang sich.?” tanya Santi kepada ayahnya sehingga lamunan Pak Dadang buyar.

“Entahlah, Nak, Ayah juga enggak tau.?” jawab Pak Dadang lesu.

Suasana semakin hening dan bisu hanya bayang-bayang hitam yang selalu bertengger dalam pelupuk hati yang duka.

Bersama desa-desir wajah malam yang melantunkan nada-nada bisu, Pak Dadang dengan anaknya, Santi selalu menunggu kedatangan Bu Yati yang tak kunjung datang. Bahkan, tak pernah datang untuk selama-lamanya.

Cerpen Karya:   Toni Iskandar, S.Pd


Posting Komentar untuk "Cerpen - Istanaku Berdebu"