Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerpen - Gerbang Utama

cerpen-gerbang-utama-ozyalandika-baik-itu-sederhana
Gerbang Utama. Foto: Pixabay

Aku sangat menyadari akan kekurangan pada diriku sendiri. Sehingga banyak orang bilang aku ini tidak bakalan jadi orang sukses, bahkan tidak jarang orang yang mencemooh diriku dengan sebutan yong*.  

Sehingga predikat ini lah yang menempel dalam jiwa ku selama aku menempuh pendidikan SD N 90 Sidomuliyo Tran Periang. Sebenarnya aku sedikit risih dengan sebutan itu, tapi aku anggap saja seperti angin lalu. Selama aku meranjak kelas 2 SD.

Aku termasuk siswa yang lumayan nakal sehingga aku lah siswa yang paling banyak mendapatkan hukuman dari dewan guru, bahakan orang tua ku sendiri sudah kalang kabut utuk mendidik aku. 

Dari sinilah aku mengalami pengalaman yang sangat buruk dalam hidupku karena aku dinyatakan tidak naik kelas selama dua tahun berturut-turut. Pada tahun 2006 akhirnya aku telah menyelesaikan pendidikan dasarku.

“Setelah ini kamu mau melanjutkan kemana lagi, An.?” tanya bapakku di suatu malam. 

“Rencananya aku ingin masuk pesantren, Pak.” kataku kemudian. 

“Kenapa kok kamu ingin masuk pesantern sich, An, kan di kampung kita banyak sekolah umum?”, sambung ibuku dari balik pintu, dengan mimik wajah heran. 

“Iya sich cuma tekat ku sudah bulat ingin masuk pesantren saja.”, kataku kemudian. 

“sedangkan kedua orang tua ku hanya menanggapi dengan helian senyuman. Terus kamu mau masuk pesantern mana.?”, tanya ibuku kesekian kalinya. 

“Entahlah bu aku enggak tau pesantren mana.!” jawab ku dengan nada bingung. 

“Ya sudah nanti bapak carikan pesantrennya.” kata Bapakku seraya menepuk pundakku dengan haru. 

Atas perubahan yang sangat drastis pada diriku saat ini pada hal sebelumnya aku termasuk anak yang paling nakal. 

“Ibu senang akan perubahanmu, Nak. Ibu do’a kan semoga nanti kamu betah di pesantren.?”, kata ibuku kemudian seraya memeluk tubuhku, dengan erat. 

“Iya, Bu, aku janji akan belajar dengan giat biar nanti aku bisa jadi seorang Da’i.”, kataku. Dengan nada sedikit sesak. Di sini lain terlihat pancaran sinar begitu cerah diwajah Bapakku di saat aku bilang aku ingin masuk pesantren, mungkin ini adalah pilahan ku yang terbaik untuk mengubah jalan hidupku untuk lebih baik lagi. 

“Endang, kira-kira berapa dana pendaftaran di pesantren kamu itu.?”, tanya Pak Puyadi, kepada Endang salah satu santri dari desa Periang.

“Enggak terlalu mahal Cik.” kata Endang kemudian.

“Kira-kira berapanya.?” tanya pak Suyadi kemudian.

“Sekitar satu juta lah, Cik.!” jawab Endang dengan pasti.

“O, ya apa nama pesantrennya.?” tanyanya sekian kalinya.

“Mafaza..!”, jawabnya kemudian. 

Pesona alam kini telah mulai menampakkan wajah yang begitu cerah. Tiba-tiba sang surya telah pergi meninggalkan wajah bumi yang begitu pana. Perlahan warnanya telah mulai redup sering wajah malam telah menampakkan selimut kabut. Menandakan untuk mengatur hidup penyongsong pagi senja.

Kini jam dinding telah menunjukan pukul 19:20. Wib. Aku hanya terdiam diri tak menentu, hingga pikiranku melayang entah kemana, sedangkan kedua adikku sudah pada berlayar ke pulau kapuk.

“Baru pulang Pak.?” tanya Bu Hasna, ketika melihat suaminya membuka pintu.

“Iya.!” jawabnya dengan nada sedikit lesu. 

O, ya, Bu Anton di mana kok tidak kelihat dari tadi.?” tanya Pak Suyadi kemudian. 

“Ada di kamarnya pak.!” jawab Bu Hasna.

“An, kesini sebentar.?” kata Bapakku seraya menyuruh ke ruang tamu.

“Ya Pak.” kataku seraya mendekati kedua orangku.

Wajah mereka begitu tenang penuh dengan kebanggan yang tiada tara sehingga sulit aku untuk merangkainya dengan kata-kata. Tapi aku sanggat yakin dengan keputusan ku ini akan membuatnya bangga tiada tara.

“Besok Bapak akan daftarkan kamu ke pesantren.” kata Bapakku dengan girang.

“Pesantren mana Pak.?” tanya ku sedikit penasaran. 

“Pesantren Mafaza.” kata Bapakku.

Sejenak aku mencoba untuk memejamkan kedua mataku, yang sedikit sulit untuk di pejamkan. 

Seiringan malam yang begitu sunyi hanya dentingan jam dinding yang terus melantunkan suara yang begitu rincu, sampai-sampai aku mulai terlarut dalam alam mimpi yang telah membawa jiwaku jauh ke alam yang berbeda.

Bayang waktu begitu cepat berlalu seakan-akan hentangan tangan lesu melukiskan sejuta cerita lama, dalam setiap tarikan nafas-nafas yang tertidur pulas di pangkuan rembun. 

Di saat terbangun dari selimut malam, hingga kini sang surya mulai menyapa dari bilik awan kesiangan.

Pukul 07:00. Wib, aku mulai terbangun dari tidurku, sedangkan kedua orang tuaku telah siap-siap segala hal untuk mendaftarkan aku sekaligus mengantarkan aku ke pesantren Mafaza yang terletak di Lubuklinggau. 

“Baru bangun.?” tanya Ibuku, di saat aku bangkit dari tempat tidur. 

“Iya bu.” kataku. 

Tanpa buang waktu aku pun langsung turun dari tempat tidur untuk segera mandi. 

O,ya Bu, Bapak ke mana .?” Kok dari tadi enggak kelihatan.”, kataku kemudian.

“Bapakmu nyari mobil untuk mengantarkan kita nanti.!”, jawab Bu Hasna. Sedangkan Anton masih sibuk untuk persiapan untuk kepesantren.

Pukul 09:00. Wib, aku telah siap-siap segalanya untuk keberangkatanku menuju pesantren Mafaza. Bebelum berangkat, aku segera berpamitan kepada segenap keluarga untuk meminta do’a.

“Akhirnya berubah juga anakmu, di.?”, tanya Nenekku kemudian. 

“Iya aku juga bingung dengan perubahan pada An yang begitu drastis.”, tanggap Pak Suyadi dengan wajah ceria. 

Setelah berpamitan aku dan kedua orang tua, serta adik-adikku langsung berangkat dengan menggunakan mobil taksi yang sering mengantarkan masyarakat setempat berpergian ke kota. Selama dalam perjalanan hatiku dak-dik-duk bercampur haru.

Tak lama kemudian kami telah sampai di terminal Watas, antara perbatasan Lubuklinggau dan Kabupaten Rejang Lebong, sehingga tempat ini menjadi tempat transport umum. Jadi tidaklah heran bila di sini begitu banyak perkumpulan orang.

Ada tukang ojek, taksi umum, dan pedagang kaki lima. 

Tanpa buang waktu kami segera turun dari mobil taksi yang kami tumpang. Setelah Ibuku membayar ongkos, kami langsung menaiki taksi jurusan Lubuklinggau. Sesaat kemudian mobil yang kami tumpangi langsung meluncur begitu gesit.

Pukul 10:30. Wib, aku dan kedua orang tua, serta adik-adikku telah sampai di kota Lubuklinggau. Di sana begitu ramai akan penduduk yang mayoritasnya pedagang. Sejenak kami berhenti untuk membeli perlengkapanku nanti di pondok. 

Mau kemana pak.?” tanya supir taksi berwarna biru. 

“Mau ke jalan Kalianda.!” jawab pak Suyadi. 

“Oh mau ke pon-pes Mafaza, ya.?” tanggap supir taksi dengan tepat. 

“Iya.” kata Pak Suyadi kemudian. 

“Kalau begitu silahkan naik, Pak, biar saya antarkan ke sana.?” tawar supir taksi dengan kalem. 

Tak terasa jam telah menunjukkan pukul 11:00. Wib. Terlihat gerbang Pon-Pes Mafaza yang dihisai oleh kaligarafi indah, sehingga pesona alam yang begitu sejuk dan nyaman. Terlihat pula ada beberapa santri yang hilir-mudik dalam pondok. 

Akhirnya aku telah memasuki perkarangan pesantren Mafaza. 

Ternyata ketika aku dan keluargaku memasuki gerbang pondok, terlihat santriwan/wati telah menyambut kami dengan ta’zim. Seraya mempersilahkan menujuh rumah Pimpiman Pondok. 

Saat memasuki rumah tersebut aku melihat sesosok laki-laki yang begitu tinggi mengenakan pakaian baju muslim dengan rambut sedikit gondrong, tetapi terlihat dari pancaran wajahnya penuh dengan kewibawaan. 

Akhirnya laki-laki tersebut mempersilakan kedua orang tuaku duduk di ruang tamu. 

“Bisa saya bantu Pak.?” katanya dengan lemah lembut. 

“Gini, Pak, maksud saya dan istri saya ke sini untuk mendaftarkan anak kami untuk nyantri di sini.”, kata Pak Suyadi kemudian. 

Laki-laki tersebut menanggapinya dengan senyuman yang arif. 

“Kalau boleh tau nama anak Bapak siapa.?” tanyanya kemudian. 

“Anton, Pak Ustadz.!” jawab Pak Suyadi.

“Oh, kalau begitu anak Bapak saya terima untuk nyantri di sini.”, katanya seraya memandang ke arahku dengan lembut. 

“Kalau begitu kami ucapakan terima kasih banyak, Pak Ustadz.?” tanggap Pak Suyadi dengan girangnya. 

Begitu pun dengan Bu Hasna yang tak kalah senang karena anaknya telah diterima untuk belajar di Pondok Pesantren Mafaza. 

Ponpes ini berada di bawah asuhan KH. Ferry Irawan AM. Beliau sering disapa oleh para santri dengan sebutan Abah Barqi karena beliau begitu arif dan bijaksana. S

Santrinya lumayan banyak, bahkan almuni pesantrennya banyak yang jadi orang sukses, walaupun pesantren tersebut termasuk termuda di wilayah Lubuklinggau. 

Pukul telah menunjukkan jam 12:00. Wib. Setelah aku diterima di Pon-Pes Mafaza, orang tua, dan adik-adikku telah bersiap untuk pulang ke kampung. Kini tinggallah aku sendirian. Jauh dari orang tua, jauh dari kenangan desa. 

“Nak, kami pulang dulu, ya.?” kata Ibuku.

Iya, Bu.”, kataku kemudian. 

“Belajar yang rajin ya, Kak.?” komentar Adikku. 

Iya, Dik.?” tanggapku seraya memuluk mereka dengan erat, sedangkan kedua orang tuaku hanya tersenyum melihat kami begitu akur. Padahal selama ini kami sering ribut. 

“Kami do’akan semoga kakak betah dan nanti jadi Ustadz Kondang di kampung kita.?” kata Adikku kemudian. 

“Iya, terima kasih atas do’anya.”, tanggapku dengan senyuman. 

Kemudian aku mengantarkan kedua orang tua, dan adik-adikku sampai pintu gerbang peasntren. 

Aku hanya mengikuti langkah mereka yang telah berlalu dari hadapanku, hanya lambaian yang aku hanturkan dengan tetesan air mata, yang melukiskan lembaran baruku. 

Sejak itu aku hanya merenung saatnya aku akan merubah jalan hidup ku untuk lebih baik lagi. Iya aku akan berjanji dengan yakinnya. Bisik hatiku.

***

*Yong dalam bahasa lembak (bahasa col) yang mempunyai makna dari sifat yang dimiliki seseorang yang sedikit malas, hidup ingin enak, sedikit dongok, dan malas berkerja.

Cerpen Karya: Toni Iskandar, S.Pd

2 komentar untuk "Cerpen - Gerbang Utama"