Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerpen - Di Kala Bulan Kelabu

cerpen-di-kala-bulan-kelabu-ozyalandika-baik-itu-sederhana
Di Kala Bulan Kelabu. Foto: Pixabay

Di hari itu senja pagi begitu cerah, di saat sang surya telah menampakkan wajahnya, malu-malu di balik awan putih di atas sana. 

Hari itu hari senin, saat santri telah melakukan aktivitas yaitu mengikuti sekolah umum yang telah di selenggarakan oleh pihak yayasan pondok pesantren Mafaza. 

Kebetulan waktu itu aku duduk di kelas 1 SMP. Perlahan aku sedikit melirik ke arah jam tanganku yang telah menunjukkan jam 07:00. Wib.

Kini waktunya bel apel pagi telah dibunyikan, menandakan bahwa semua santri harus berkumpul di lapangan guna untuk apel pagi. Paling kegiatannya Muhasyabah Bahasa Arab. 

Ini merupakan program yang ditentukan oleh pihak yayasan, guna untuk membekali para santriawan/wati akan kemampuan berbahasa Arab. 

Jelang berapa menit kemudian semua santri sudah berkumpul di lapangan dengan *badal-nya  masing-masing. Dengan materi bahasa Arab yang sesuai dengan kelas dan kemampuan masing-masing kelompok.

Akhir jam 07:30. Wib, semua santri telah menyelesaikan apel pagi dan kita sudah pada bubar, memasuki kelas masing guna melaksakan sekolah umum. Aku pun tanpa buang waktu langsung menujuh kekelas karena sebentar lagi pelajaran akan segera dilakukan.

“Assalamualaikum, anak-anak.?”, sapa Bu Reni, dari bilik pintu lokal dengan hiasan senyeman khasnya.

“Walaikummussalam.!”, jawab kami dengan ta’zim, menandakan rasa hormat kepada guru, karena tata krama terhadap guru telah ditanamkan sejak dini oleh ustadz kami dalam Kitab Ta’lim Muta’lim. 

“Baik anak-anak hari ini kita akan belajar tentang fisika,” Sebenarnya aku kurang suka dengan pelajaran yang satu ini, apa lagi pelajaran matematika. 

Yang menggunakan metode hitungan seringkali bikin otak berasap persis kayak gepulan asap kereta api kehabisan minyak. 

Biasanya siswa akan girang kesenanagan apa bila guru yang mengajar pada pelajaran yang menggunakan hitung, tidak masuk bahkan tidak jarang guru-guru di bidang ini akan dijuluki si angker atau si mak lampir, dikarenakan pelajarannya sangat sulit dipahami oleh setiap siswa.

“Sebelumnya pelajaran kita sudah sampai di mana.?” tanya Bu Reni dengan senyuman khasnya.

“Baru sampai rumus-rumus fisika dasar bu.!” jawab sebagian siswa, sedangkan yang lainnya sibuk membolak-balikkan buku kayak orang kebingungan. 

“Waduh gawat.” kata Mazako seketika sehingga membuat aku sedikit kaget.

“Gawat apanya, Ko.?” Tanyaku sedikit heran, sedangkan Mazako masih dalam keadaan panik. Buku fisika ku ketinggalan.”. katanya kemudian, dengan nada sedikit putus asa. 

“Lho, kok bisa ketinggal sich ko entar kamu diomelin lho kek ibu Reni.?” tanggap Kahirul Umam. 

“Waduh gemana ya.?”, tanya Mazako pasrah. 

Sesaat kami hanya terdiam seribu bahasa, kalau seandainya ibu Reni tau pasti ia marah akibatnya kami semua kena imbasnya. Kata ku sedikit berbisik.

“Ibu kita belajarnya di alam bebas aja ya, Bu.?” tanggap Lusi dengan tegasnya. 

“Lho napa.?” tanya Bu Reni heran. 

“Kami bosan belajar di lokal terus bu.?”, komentar Ana dengan antusias.

“Bagus juga, ibu setuju.”, kata Bu Reni kemudian. 

“Tapi enaknya di mana, Bu.?” tanya yang lainnaya yang tidak mau kalah dengan yang lainnya. 

“Aku ada usul, Bu.?” kataku sambil ancungkan jempol. 

“Nah, apa usulan mu, Jaka.?” tanya Bu Reni. 

“Bagaimana kita ke kuburan China aja.?” kataku dengan antusias. 

“Setuju.?” jawab yang lainnya dengan girangnya.

Pukul 08:30. Wib, semua siswa kelas satu keluar dari lokal dengan girangnya layaknya seperti burung yang baru bebas dari sangkarnya. 

Sedangkan aku hanya terdiam dalam hembusan angin pagi dalam pesona alam, yang begitu cerah bersama senja pagi, di mana sang surya begitu bersahabat, menyapa para awan dalam serpihan langit buru.

Tak terasa langkah kaki ini berjalan di atas bumi kering, hingga kami semua telah sampai di kuburan China yang begitu megah dan mewah. Lain halnya dengan kuburan orang Islam yang begitu sederhana hanya gundukan tanah kering yang menghiasi setiap pinggiran makam. 

Sehingga siapa saja yang menikmatinya pasti memuji kemegahannya. Sebenarannya semua santri di larang keluar pondok, tanpa seizin pihak yayasan. 

Tapi kali ini kami keluarnya dengan guru, akan tetapi aku sedikit gerah berada di dekat pemakaman china di mana aroma sekitarnya kurang mengenakkan. Apa lagi di dekat rawa-rawa berdiri bangunan kuil, tepat orang Budha membakar jenazah. 

Terkadang, asapnya mengepul yang sangat mengerikan. Seakan-akan memaknai begitu perihnya derita kehidupan. Kemudian di samping kuil tersebut terhampar tumpukan sampah yang tak sedap di pandang oleh mata, yang selalu menghiasi suasana hening.

“Bagaimana anak-anak, sekarang apakah kita lanjutkan pelajaran kita sambil menikmati suasana sekitar.?”, tanya Bu Reni kemudian sehingga para siswa semuanya mengarahkan pandangannya ke wajah Bu Reni.

Dengan tatapan penuh makna agar tidak dilanjutkan. Di samping para siswa semakin terlena akan pesona alam yang begitu sejuk dan gersang. 

“Ai bu tak usah belajarlah.?” tanggap Mazako dengan mimik wajah memelas. 

“Iya Buk sekali ini aja.” komenter Ana dengan antusias, sedangkan yang lain hanya menganggukkan kepala. 

Perlahan aku melihat sosok guru tersebut hanya menahan nafas berat, tapi perlahan nafas tersebut dihelanya dengan terpaksa. 

Masih tersimpan rasa kecewa dari tatapan bola matanya, akan tetapi ia hempas dengan senyuman, walaupun sedikit terpaksa.

“Baiknya untuk sekali ini ajanya.?” kata Bu Reni kemudian. 

“Horeee.” tanggap para siswa dengan girang, sedangkan aku masih bingung apa yang di inginkan.

Aku mencoba untuk menyelami berbagi makna yang akan dibentangkan dalam setiap lembaran alam yang selalu ada dalam kehidupan manusia, tapi kenapa begitu banyak tangan jahil yang merusak kehormatannya, sehingga kehilang akan pamor, bahkan jati dirinya kini telah tercampakkan akan senja tua.

Waktu terus berlalu begitu pun jam ditanganku kini telah menunjukkan jam 09:30. Wib. Beriringan dengan sengatan matarahari yang begitu menyengkatkan kepala, seakan-akan tubuh ini terasa terbakar. 

“Buk kita pulang yuk.?” kataku kemudian.

“Iya, Nak.”, tanggapnya Bu Reni. 

“Anak-anak sekarang waktunya kita pulang, karena waktu sudah siang.?” seru Bu Reni kemudian. 

“Iya, buk.”, dengan lincah Jaka melangkah ringgan, tatapannya masih kosong tertuju kedepan dengan mantapnya, sedangkan rekan-rekannya yang lain masih di belakang. 

Kini hampir memasuki gerbang pesantren, seketika pandanganku menjadi nanar, seluruh badanku terasa kaku, tulang-tulang ku terasa ngilu, saraf-sarafku terasa nyeri. 

“Prakk..” lima jari menempel di wajahku, rasanya sakit sekali, sehingga membuatku sedikit terpental. 

“Dari mana kalian, cepat pulang.” kata Abah Barqi dengan nada tinggi, sehingga membuat kami takut, sambil berlari terpencar, bahkan sebagian temanku banyak yang terkena tamparan yang sangat kuat sekali.

Bahkan, Nur Aini terpental masuk siring akibat tamparan Abah. Baru kali ini aku mendapatkan pengalaman yang sangat pahit dalam hidupku, hingga sepanjang jalan aku hanya merenung, pikiran ku kacau tak beraturan. 

Sejenak aku melihat wajah-wajah teman ku tertuntuk tak berdaya di saat kami di sidang ramai-ramai. 

“Waduh tamatlah riwayat kita, Choy!” kata Mazako sedikit berbisik, sehingga kami hanya terdiam tanpa kata-kata.

*Dalam istilah Pondok kata”badal” yaitu Pembina/Guru

Cerpen Karya: Toni Iskandar, S.Pd



Posting Komentar untuk "Cerpen - Di Kala Bulan Kelabu"