Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerpen - Andai Aku Gapai Dunia

cerpen-andai-aku-gapai-dunia-ozyalandika-baik-itu-sederhana
Cerpen - Andai Aku Gapai Dunia. Foto: DarkmoonArt_de dari Pixabay 

Wajah bumi masih basah kuyup di saat butiran air yang turun dari langit beriringan hembusan angin yang begitu dingin. Terlihat, di balik awan tergambar lukisan kelam. Bukti sinar matahari telah berangsur-angsur meninggalkan wajah bumi yang penuh dengan krikil tajam. 

Sedangkan aku, hanya duduk termenung. Mataku menerawang entah ke mana. Seakan-akan ruh pergi dari jasadku. Ingin rasanya aku lari dari dunia yang fana ini. 

Di saat aku dipecundangi oleh permainan dunia, aku tak sanggup melihat wajah malaikatku sayu dengan uraian air mata.

Dunia ini kejam di saat aku bertanya kepada yang Maha Kasih. Di kala ribuan laba-laba merentangkan jaringnya. 

Rasanya kali ini aku tidak bakalan bisa kuliah lagi, sedangkan uang untuk semesteran aja belum ada. Aku melihat dari raut wajah kedua orang tuaku penuh dengan putus asa. Apa lagi harga karet tahun ini turun drastis sehingga pendapatannya tidak seberapa. Kedua adik ku juga sekolah.

“Duh alangke sulitnya yari duit.?” kata Bapakku tiba-tiba.

“Entahlah ke mana lagi mesti nyari duit.” sahut Ibuku dngan nada lesu, sedangkan aku dan adik-adikku hanya terdiam serIbu kata. Sehingga suasana menjadi hening terkantung dalam harapan yang hampir sirna.

“Kalau seandainya terlambat bayar SPP bulan ini maka akan di keluarkan.?” kataku pelan tapi tegas, sehingga kedua orang tuaku menoleh ke arahku.

“Ya kami tau. Tapi saat ini belum dapat, bukan mudah nyari duit itu.” kata Bapakku sedikit emosi, sehingga kami semua terdiam tanpa kata. 

Langit dan bumi tetap seperti dulu, tapi lukisan wajah kian hari kian terlalut dalam kisah kelabu. Perlahan kurebahkan tubuhku di atas kasur beralaskan dentingan kayu rapu, di mana terdengar suara malam seakan-akan mentertawakan aku. 

Dalam sudut malam hening aku rajut wajah datar bersama helaian angin mati. Hingga aku terlelap dalam malam kelam di saat dunia terlelap, bukti wajah kabut telah pergi meninggalkan lapisan asam kehidupan tajam.

Pukul 06:30 wib, wajah bumi mulai terbangun dari tidur panjang, dengan raut wajah basah kuyup. 

Terlihat wajah matahari mulai menampakkan wajahnya dari bilik awan yang sedikit kelam. Sedangkan aku hanya termenung tanpa arah, tatapan mataku hanya kosong sendi-sendiku terasa nyeri. 

Perlahan mataku tertuju ke arah jam dinding yang telah menunjukkan angka 07:00 wib. Banyak orang yang telah sIbuk dengan akivitas masing-masing. Sedangkan Ibuku sibuk di dapur, adik-adikku pada sibuk nyuci baju sekolah. Kebetulan hari ini hari libur, jadi kampung terlihat agak ramai.

Sejenak aku hanya berfikir. Dunia begitu kejam sehingga aku sedikit sulit untuk menyelami berbagai makna dan arti hidup ini. Sampai-sampai, jasadku tanpa jiwa. Semua menertawakan aku, semua memalingkan wajahnya jauh dari kenyataan. 

Sedangkan Bapakku tak hentinya menyadab getah karet. Tak perduli badannya meriang kesakitan. Telinganya begitu panas di saat orang-orang mencemooh dirinya. 

Aku melihat butiran air matanya mengalir begitu saja, di saat dia bercerita padaku. Dengan adanya mereka, terdoronglah hatiku untuk kuliah.

“Ton Ibuk kau ada.?” tanya Mamangku, di saat lamunanku buyar.

“Ada mang di dapur.” jawabku singkat. Sedangkan Mamang Amun telah berlalu dari hadapanku, menuju ke dapur. Aku hanya melihat dari balik gorden yang hampir tak kelihatan warananya, mereka berbincang.

Sedangkan aku tak tahu apa yang dibincangkan. Aku hanya melihat Ibuku tersenyum. Aku tidak tau apa penyebabnya.

“Aku balik dulu, Yuk.?” kata Mang Mun setelah mengakhiri pembicaraannya.

“Iya.!” jawab Ibuku singkat.

Waktu begitu cepat berlalu, sehingga banyak sekali perubahan. Sedangkan aku hanya termenung tanpa tahu apa yang akan aku lakukan. Di sudut lain, kedua orang tua hanya duduk dengan tenang tanpa beban sama sekali. Sehingga membuat aku sedikit heran.

“Aman, Ton kita selamat.” kata Bapakku tiba-tiba, sehingga membuat aku dan adik-adik ku sedikit tercengang.

“Aman apanya, Pak.?” tanyaku heran.

“Kita udah dapat duit untuk bayar SPP-mu semester ini..” jelas Ibu dengan girang, sedangkan Bapakku hanya tersenyum lega. Usaha yang dilakukan selama ini telah mendapatkan solusinya. 

Tapi sebelumnya aku dan Bapakku telah berusaha untuk mencari uang semester tahun ini. Dengan cara pinjam sini, pinjam sana, gadai ini, gadai itu. Tapi tetap aja hasilnya nihil.

“Tadi Mamangmu kasih pinjam kopinya.” kata Bapakku dengan sedikit terharu.

Jujur aku saat itu, aku bingung mesti bilang apa. Dengan ucapan terima kasih atau apa.?’

Sesaat kemudian kami hanya berbincang-berbincang dengan akrab, seakan-akan seperti bangunan yang baru didirikan. Di sana aku melihat wajah malaikatku kembali bersinar tak akan pudar. 

Perlahan aku melihat jam di tanganku telah menunjukkan pukul 10:00. Wib, menandakan waktu telah larut malam. Bulan malam telah menutupi wajahnya dengan lembaran-lembaran kabut mimpi. Di mana semuanya harus kembali ke alam impimnya masing-masing.

Perlahan aku rebahkan tubuhku di atas kasur, untuk mencoba memejamkan mata demi menyongsong senja pagi guna menghadapi dunia.

Cerpen Karya:   Toni Iskandar, S.Pd


Posting Komentar untuk "Cerpen - Andai Aku Gapai Dunia"