Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ungkapan Tolong, Maaf, dan Terima Kasih yang Harus Viral, Bukan Malah Kata-Kata “Kotor”!

 
Ungkapan Tolong, Maaf, dan Terima Kasih yang Harus Viral, Bukan Malah Kata-Kata Kotor
Gambar oleh lisa runnels dari Pixabay 

Entah apa kisruh dan pergolakan kata-kata yang sedang terjadi di bumi Indonesia sekarang ini. Semakin bertambah hari, semakin banyak orang-orang yang dengan mudahnya mengucapkan kata-kata “kotor” sesuka hati.

Makna “kotor” di sini ialah kata-kata yang tidak pantas alias tidak sopan diucapkan karena melanggar adab berbicara.

Secara bahasa, berarti tidak melanggar, kan? Tentu saja tidak. Malahan, dengan mudahnya kata-kata kotor bisa dimasukkan ke dalam bahasa gaul, saking seringnya disebut-sebut. Contohnya? Kalian tahu sendiri lah, aku males sebut-sebut di sini! Hemm

Ya, kata-kata yang kotor yang dipoles sedemikian rupa mudah saja viral jika sering diucapkan. Entah itu lewat media sosial, lewat obrolan santai sesama geng main, atau pun lewat cerita orang-orang semuanya sungguh risih.

Terang saja, hadirnya kata-kata kotor itu ibarat virus baru yang mudah menyebar dan merajalela hingga menjadi budaya. Bayangkan saja bila kemudian budaya kita dalam berbahasa mulai tidak beradab, makin rusaklah akhlak, ya kan?

Dan mirisnya, plesetan kata-kata yang sesungguhnya memiliki makna kotor tersebut sering di-ngelesin dan diterangkan sebagai kata yang bermakna positif menurut daerah-daerah tertentu. Padahal, itu hanya ngeles-nya mereka saja. Hiks! Sedih aku.

Bagaimana tidak sedih coba! Kalaulah kata-kata kotor berkembang menjadi budaya baik di alam nyata maupun di dunia maya, anak-anak kita yang sejatinya masih unyu-unyu bin imut-imut mudah sekali tertular dan ikut-ikutan tren “tidak pantas” tersebut.

Orang-orang yang pandai alias ahli dalam berbahasa mungkin saja bisa ngeles dan menjelaskan teori bahwa kata-kata tidak pantas tersebut memiliki makna lain. Tapi, kalau anak-anak yang dijelaskan, apakah mereka bisa memahami dan memaknainya dari berbagai sudut pandang?

Tidak semudah itu, bro!

Maka dari itulah, kiranya wajar bila Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) mengeluarkan seruan penghentian penggunaan kata " anj*y". Seruan itu disampaikan melalui keterangan resmi yang dirilis, Sabtu (29/8/2020).

" Anj*y" yang digunakan dalam suatu kalimat bermakna merendahkan martabat seseorang dianggap Komnas PA termasuk dalam kekerasan verbal dan dapat dipidanakan. Ya, kebanyakan orang tahunya bahwa ucapan ini adalah plesetan dari nama salah satu hewan, kan?

Silakan bila kemudian para ahli bahasa mencoba mengambil sisi positif dari kata tersebut. Tapi, menurut saya kebijakan Komnas PA malah bagus. Logikanya seperti ini. Kalau memang kata yang dimaksud memiliki dua makna, mengapa tidak kita pakai saja kata asli?

Misalnya, kalau anj*y punya arti anjing sekaligus ungkapan pujian. Mengapa tidak disebut langsung tanpa diplesetin. Sebut saja “anjing” sebagai nama hewan. Ketika diucapkan “salah alamat”, tetap saja bermakna kotor, kan? Tapi, mayoritas kita tetap berbaik sangka memandangnya sebagai hewan ciptaan Tuhan.

Ungkapan Tolong, Maaf, dan Terima Kasih yang Harus Viral, Bukan Malah Kata-Kata “Kotor”!

Sangat disayangkan bila kata-kata kotor yang mudah viral. Adalah alamat bahaya bila kata-kata yang tidak pantas sering diucapkan. Secara, lisan adalah salah satu media yang mampu menjatuhkan harkat, martabat, hingga akhlak seseorang.

Kita ambil contoh. Misalnya ada pejabat publik atau ulama menyebut kata-kata kotor dalam sambutan acara. Pasti runtuh kan anggapan positif publik terhadapnya? Jangankan mengucap, tidak sengaja keceplosan saja bisa viral dan dianggap ucapan yang tidak pantas.

Maka dari itulah, daripada sibuk mengurusi kata-kata kotor yang sejatinya bisa “menyampahkan” hati, ada baiknya kita memviralkan ungkapan kebaikan seperti ucapan “tolong, maaf, dan terima kasih”.

Ungkapan Tolong, Maaf, dan Terima Kasih yang Harus Viral, Bukan Malah Kata-Kata Kotor
Gambar oleh kropekk_pl dari Pixabay 

Ketiga ungkapan inilah budaya kita, dan gara-gara ungkapan ini pula Indonesia dicap sebagai negara yang ramah bin sopan. Semestinya, kita perlu berbangga hidup di Indonesia bersama ungkapan tolong, maaf, dan terima kasih.

Ketiga ungkapan baik ini bukanlah hal yang memalukan.

“Ketika ada teman minta tolong, bukan berarti mereka hina.”

“Ketika ada pejabat minta maaf, bukan berarti mereka tak punya malu.”

“Dan Ketika orang-orang sering mengucapkan terima kasih, bukan berarti mereka selalu mendapat banyak bantuan.”

Baik ungkapan tolong, maaf maupun terima kasih, ketiganya merupakan perwujudan dari perilaku mulia sebagai seorang insan. Jadi, perilaku-perilaku seperti inilah yang perlu diviralkan!

Salam.
Ditulis oleh Ozy V. Alandika

 

Baca juga:


4 komentar untuk "Ungkapan Tolong, Maaf, dan Terima Kasih yang Harus Viral, Bukan Malah Kata-Kata “Kotor”!"

  1. Begitulah, saya sendiri sebenarnya juga kurang srek dengan kata kata itu apapun alasannya hehe

    BalasHapus
  2. Bagus deh mbak. Kukira akan ngeles jg. Hahaha makasih ya.

    BalasHapus
  3. Pembiasaan sejak dini. Membumikan karakter positip. Mantap....

    Salam Blogger Mas Ozy.

    BalasHapus
  4. Siap mantab. Makasih pak Arief.
    Salam Blogger
    Josss

    BalasHapus