Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Puisi - Kota Tua

kota-tua-ozyalandika.com
Kota Tua. Ilustrasi by Pixabay

Di kota tua ini, terukir sejarah kelam nan mengharukan. Tertunduk kepala melawan hantaman. Darah segar, merah pekat, sebagai pelega dahaga. Milyaran air mata menjadi lautan. Tanah menjadi saksi bisu akan pertumpahan.

Di kota tua ini, Derap kaki menyusuri kenyataan. Tertoleh kepala ke arah berlawanan. Isakan tangis memenuhi pendengaran. Permohonan akan kebutuhan. Kekejaman akan kekuasaan. Memenuhi lika-liku penjuru jalanan.

Di kota tua ini, tersebar rintihan burung pipit, tertuju pada elang yang berkuasa. Memenuhi pendengaran, dengan ocehan yang sama. Tak terhiraukan, karena kekuasaan yang tak sama.

Di kota tua Ini, awan menangis menatap keadaan. Langit termenung, karena sebukit kerakusan. Sinar mentari redup, ia malu menatap kekuasaan. Tanah pun begitu jua. Tak sanggup menghadapi ketamakan.

Lagi, di kota tua ini harapan telah berbuah ketelantaran. Kebahagiaan ini kosong menjadi kehancuran. Senyuman hancur menjadi isak tangis. Dan pada akhirnya, perjuangan kembali menjadi sebuah pengkhianatan.

Puisi Karya: Khairia Nurlita

Posting Komentar untuk "Puisi - Kota Tua"