Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengulik Pertanda Kiamat Sugra Bag.5: Tentang Waktu yang Berjalan Begitu Cepat

tentang-waktu-yang-berjalan-kiamat-sugra-begitu-cepat-ozyalandika
Waktu yang Berjalan Begitu Cepat. Foto: Pixabay

“Hari Kiamat tidak akan terjadi sebelum zaman semakin berdekatan (pendek); setahun seperti sebulan, sebulan seperti se-Jum’at (seminggu), se-Jum’at seperti sehari, dan sehari seperti sesaat. Satu saat yang dimaksud adalah nyala api yang membakar ranting kering.” HR. Ahmad. Dishahihkan oleh Al-Albani.

Bismillaahirrohmaanirrohiim.

Tak terasa, waktu berjalan begitu cepat, ya. Kita yang dulunya masih ingusan, tiba-tiba hari ini sudah dewasa. Kita yang dulunya masih imut-imut, tiba-tiba hari ini sudah beruban. Keluarga, sahabat, hingga tetangga juga demikian.

Bahkan, banyak dari mereka yang sudah lebih dahulu meninggalkan kita. Alhasil, beruntunglah kita dan keluarga yang hingga hari ini masih diberi kesempatan untuk bernafas. Yang berarti bahwa, pintu taubat masih terbuka lebar untuk memudahkan jalan kita menuju jannah. Aamiin.

Kembali mengulik soal waktu, sejatinya waktu yang tampak berjalan begitu cepat ini bukanlah perkara yang terjadi tanpa dasar. Kita sama-sama tahu bahwasannya segala peristiwa merupakan tanda-tanda, dan berbagai tanda itu bisa kita petik hikmahnya.

Tak terkecuali tentang jalannya waktu. Berdasarkan hadis yang telah penulis sajikan di atas, indikasi waktu berjalan begitu cepat ditandai dengan kalimat “zaman berdekatan” yang merupakan salah satu tanda kiamat sugra (kecil).

Mengenai waktu tercepat, Rasulullah SAW mengibaratkan satu hari seperti nyala api yang membakar ranting kering. 

Kalau boleh kita kalkulasikan pengibaratan ini, berarti satu hari yang dimaksud hanya berlangsung beberapa menit saja. secara pengibaratan, sungguh ini begitu cepat.

tentang-waktu-yang-berjalan-kiamat-sugra-begitu-cepat-ozyalandika--
Rotasi Bumi. Foto: Pixabay

Tidak bisa dipungkiri memang, di era serba canggih seperti hari ini perasaan bahwa peralihan waktu begitu cepat benar-benar terasa. Bukan tidak mungkin bahwa sehari itu benar-benar berasa seperti beberapa menit, apalagi ketika kita sedang sibuk menyelesaikan pekerjaan.

Rasanya, kesibukan hidup di dunia tak pernah tuntas dan tak pernah cukup bila disandingkan dengan perjalanan waktu. Atas dasar ini, teranglah kalam Nabi bahwa waktu cepat sekali berlalu.

Namun, kurang lengkap rasanya kalau tidak kita hadirkan ilmu eksak sebagai pendukungnya. Secara, yang namanya percepatan peralihan waktu seringkali berhubungan dengan rotasi alias perputaran bumi. Artinya, makin cepat bumi berputar, makin cepat pula waktu berlalu.

Menilik laporan dari “Nature” pada pertengahan tahun 2019 kemarin, terkuak informasi bahwa ilmuwan geomagnetik memutuskan untuk membuat pembaruan mendesak pada model geomagnetik dunia yang digunakan sebagai landasan sistem navigasi modern.

tentang-waktu-yang-berjalan-kiamat-sugra-begitu-cepat-ozyalandika--
Magnetic Motion. Dok. Sindonews.com

Alasannya, rotasi alias perputaran bumi di setiap tahunnya selalu bertambah. Bahkan, berdasarkan ulikan jurnal ilmiah ‘Nature’, beberapa hal aneh sedang terjadi jauh di bawah permukaan Bumi.

Geomagnetik kutub utara Bumi sedang mengalami pergeseran yang abnormal, alias bergerak dengan cepat dari Kanada menuju Siberia, Rusia. Maka dari itulah geolokasi jadi kurang akurat.

Kendatipun demikian, meskipun diksi yang tertuang dalam kalam Nabi adalah pengibaratan waktu mulai dari setahun seperti sebulan, sebulan seperti se-jum’at, se-sejum’at seperti sehari, hingga sehari seperti sesaat, belum tentu pula makna yang dikandungnya adalah hakiki.

Terang saja, ketika kita menyandingkan percepatan peralihan waktu sebagai pertanda kiamat sugra dengan peristiwa kedatangan Dajjal, maka peristiwa berlalunya waktu secara cepat itu bisa dimaknai secara majasi alias tidak sebenarnya.

Di hadis riwayat Muslim yang tertuang dalam kitab Al-Fitan, diterangkan bahwa dalam 40 hari kedatangan Dajjal, satu hari pertamanya serasa setahun, satu hari keduanya serasa sebulan, sehari ketiganya serasa sepekan, dan sisanya adalah hari-hari sebagaimana biasanya.

Namun, meskipun keterangan waktu ini lebih lambat karena merupakan kebalikan dari hadis pertama tadi, lagi-lagi detail waktu ini masih bermakna majasi.

Mengapa demikian? Adalah karena Rasulullah ingin menggambarkan betapa dahsyatnya peristiwa di hari itu. Manusia begitu disibukkan dengan urusan duniawi serta hari-hari yang berat, dan sekaligus menguatkan gagasan bahwa bumi memang sudah jelang kiamat.

Belum selesai di sana, dalam buku Ensiklopedi Akhir Zaman karya Muhammad. Ahmad Al-Mubayyadh, ada beberapa penafsiran lain tentang “waktu yang berjalan begitu cepat” menurut sebagian ulama.

Ada yang menganggap percepatan waktu itu sebagai hilangnya keberkahan dari waktu, ada yang menerangkan bahwa waktu jalannya begitu cepat sebagai imbas dari banyaknya kejahatan, kerusakan, dan kebodohan, serta ada juga yang mengartikannya berdasarkan jarak antar wilayah yang semakin dekat karena teknologi transportasi.

Meski demikian adanya, perbedaan tetaplah rahmat dan semoga berbagai perbedaan ini bisa membuat kita lebih dekat dengan Allah. Mengulik pertanda kiamat semestinya bisa membuat kita lebih takut karena kurang bekal dan amal.

tentang-waktu-yang-berjalan-kiamat-sugra-begitu-cepat-ozyalandika
Siapkan bekal menuju akhirat. Foto: Freepik

Simpulan umum yang bisa kita petik adalah, maksud dari cepatnya perjalanan waktu adalah kesempatan hidup kita di dunia yang sungguh cuma sebentar saja. Jadi, manfaatkanlah kesempatan bernafas ini dengan sebaik-baiknya.

Wallahua’lam bissawab.

Taman baca:

Ensiklopedi Akhir Zaman karya Muhammad Ahmad Al-Mubayyadh dengan judul asli Al-Mausu’ah fi Al-Fitan wa Al-Malahim wa Asyrath As-Sa’ah, Surakarta: Granada Mediatama.
Sindonews.com

8 komentar untuk "Mengulik Pertanda Kiamat Sugra Bag.5: Tentang Waktu yang Berjalan Begitu Cepat"

  1. Terima kasih untuk artikelnya Bang, Bermanfaat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kembali, pak War. 😊🙏

      Hapus
  2. Agama dan sains memang sbnrnya tak pernah bertentangan ya, Bang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju, Bu. Hanya sains saja yg "telat" mengungkapkan kalam. Hehe
      Makasih Bu😊🙏

      Hapus
  3. Bisa jadi kiasan, manusia demikian sibuknya sehingga waktu mampat. Ibadah tak sempat atau terburu-buru. Dua puluh empat jam sehari tidak cukup.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar juga, pak. Tidak pernah cukup ya pak, padahal hanya sekejap saja waktu tersisa 🙏

      Hapus
  4. Iya kesempatan hidup di dunia hanya sebentar 😊 terimakasih diingatkan 🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siap Bu. Terima kasih juga Bu😊🙏

      Hapus