Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Penerapan SPPKB Menggunakan Pendekatan Emosional, Variasi, dan Keterampilan Proses

Penerapan  SPPKB dengan Pendekatan Emosional, Variasi dan Keterampilan Proses
Penerapan SPPKB. Foto: Ozy V. Alandika.

Hai Sobat Guru. Kali ini saya akan mencurahkan sedikit contoh penerapan Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berpikir, atau yang lebih familiar dengan singkatan SPPKB.

Adapun pendekatannya, ada 3 yang akan saya hadirkan. Ada pendekatan emosional, pendekatan variasi, dan pendekatan keterampilan proses. Cuzz, langsung saja disimak contoh penerapannya, ya!

***

Arloji menunjukkan pukul 10.00 WIB. Waktunya Ibu Rina mengajar di kelas 8 Madrasah Tsanawiyah Negeri. Hari ini, seperti yang direncanakan, Ibu Rina akan menyampaikan materi pembelajaran mengenai Bentuk Hubungan Sosial Menurut Tingkat dan Waktunya. 

Dengan menjinjing tas kuning, Ibu Rina masuk ke kelas A. Semua siswa seakan silau melihat Bu Guru cantik yang berkacamata bening itu. Selang beberapa saat, masuklah Ibu Rina, dan waktu belajar pun dimulai.

Semua siswa di kelas pun segera memberi salam kepada Ibu Rina.

“Bagaimana anak-anak Ibu? Sudah kenyang sarapannya?” tanya Ibu Rina.

“Sudah Bu” jawab siswa serentak.

“Ada yang nonton berita pagi hari tadi? Coba tunjuk tangan. . . . ” tanya Ibu Rina

“Ada Bu” jawab siswa. (Ada sekitar 8 siswa yang angkat tangan)

“Kok sedikit sekali? Yang lainnya kenapa? Belum bangun atau masih tidur?” tanya Ibu Rina.

“Nonton spongebob Bu. . .  hehehe” jawab siswa sambil tersenyum.

“Haha, emm, di televisi tadi pagi ada berita orang tua yang membunuh anaknya karena masalah ekonomi dan kemiskinan. Bagaimana perasaan kalian jika itu ada di dekat kalian?”

“Sungguh tidak terpuji sikap orang tua itu Bu... Kasihan anaknya . . . ” jawab Siswa

“Iya.. Nah, nanti kalian jika sudah dewasa dan menjadi orang tua jangan berperilaku seperti itu, ya. . .? Dosa yang besar, dan bisa-bisa kena azab Allah” Ujar Ibu Rina.

“Iya Bu, pastinya” jawab siswa.

“Baik, hari ini kita akan belajar mengenai Bentuk Hubungan Sosial, melanjutkan pelajaran minggu kemarin. . . .  Oh ya, hari ini tanggal berapa anak-anak?” tanya Ibu Rina.

“tanggal 27 Bu . . ” jawab Siswa.

Penerapan  SPPKB dengan Pendekatan Emosional, Variasi dan Keterampilan Proses
SPPKB Materi Hubungan Sosial. Foto: Pixabay

(Ibu Rina segera melihat absen nomor 27) “Nah, sekarang Wahyu, apa itu hubungan sosial?”

Wahyu menjawab dengan nada gemetaran “hubungan timbal balik antara orang yang satu dengan orang yang lain Bu”.

“Yaa. Betul. . . Baik, sekarang kita akan membahas mengenai bentuk hubungan sosial menurut tingkatnya. Dicatat ya? . . . Yang pertama: Hubungan Sosial Horizontal. Ada yang tahu apa maksudnya?” tanya Ibu Rina.

Dengan nada kebingungan “belum tahu Bu”   jawab Siswa.

“Baik, sekarang tanggal 27 kan?” (Ibu Rina kembali melihat nomor absen 2 dan 7 dengan nama Dona dan Gatot) “Dona dan Gatot tolong maju ke depan” pinta Ibu Rina.

“Cie cie cie Dona dan Gatot??  . . . . . .  ” ucap siswa mencairkan suasana tegang.

“Ssst. Kalian ini, masih kecil sudah cie . . . cie . . .  Nah sekarang coba Dona dan Gatot berdialog sedikit saja” pinta Ibu Rina.

(Dona dan Gatot pun berdialog kira-kira satu menit). “Sekarang, silahkan duduk kembali. . . . “Jadi, apa itu hubungan sosial horizontal?” tanya Ibu Rina.

“Hubungan dialog dua orang Bu?” jawab salah satu siswa.

“Sekarang, Dona dan Gatot ini siapa?” tanya Ibu Rina.

“Siswa Bu. . ..  . Oh, jadi Hubungan antar sesama siswa Bu?” jawab siswa.

“Hmmm,, sedikit lagi. Nah, sekarang Ibu tanya, apa bedanya manusia dengan hewan?”

“Manusia bisa berpikir, sedangkan hewan tidak Bu?” Jawab Siswa.

“Jadi, manusia itu lebih apa?” tanya Ibu Rina.

“Lebih tinggi derajatnya daripada hewan Bu?” jawab siswa.

“Nah, kalo manusia dengan manusia derajatnya bagaimana?” tanya Ibu Rina lagi.

“Sama Bu” jawab Siswa kembali

“Jadi, Hubungan Sosial Horizontal itu apa?” tanya Ibu Rina.

“Hubungan manusia yang sederajat Bu” Jawab siswa.

“Dan memiliki kepentingan sama. Nah, jadi, kalo Ibu guru berhubungan sosial Horizontalnya dengan siapa?” tanya Ibu Rina.

“Dengan sesama guru Bu” jawab siswa dengan penuh optimis.

“Benar-benar.. bagus . . . . .  Sekarang catat lagi ya. Yang kedua adalah Hubungan Sosial Vertikal . . . .” (Sembari menunggu siswanya mencatat) “Oh ya. Coba kalian beri salam seperti ketika Ibu baru masuk kelas tadi serentak ya. . . . ” pinta Ibu Rina.

“Beri salam kepada Ibu Guru . . . Assalamualaikum Wr. Wb”

“Walaikumussalam. Nah, kalian barusan berhubungan sosial dengan siapa?” tanya Ibu Rina.

“Dengan Ibu, Bu. . . ” jawab Siswa.

“Nah, sekarang Ibu dengan kalian sama tidak derajatnya?” tanya Ibu Rina.

“Sama Bu . .   . . ”  jawab Siswa.

“Kalo kedudukannya sama juga, kah?” tanya Ibu lagi.

“Tidak Bu. Ibu adalah Guru, sedang kami adalah Siswa” jawab siswa tegas.

“Jadi, apa maksudnya hubungan Sosial Vertikal?” tanya Ibu Rina.

“Hubungan  antar manusia yang berbeda kedudukannya Bu . ..  ” jawab siswa dengan yakin.

“Ok.. Ok Ok Ok Ok. .Nah, kalo Ibu sedang berdialog dengan Bapak Kepsek, itu merupakan contoh Hubungan sosial apa?” tanya Ibu Rina.

“Hubungan Sosial Vertikal Bu.. ” jawab Siswa.

“Kenapa bukan Hubungan Sosial Horizontal?” uji Ibu Rina.

“Karena kedudukannya berbeda Bu. Ibu adalah guru, sedangkan Kepala Sekolah adalah orang yang memimpin sekolah”. Jawab siswa.

“Okeh, selesai yang itu. . .  Sekarang kita berbicara mengenai Hubungan Sosial Menurut Waktunya . . Catat ya. . . yang pertama adalah Hubungan Temporer” (sembari menunggu siswa mencatat, Ibu Rina pun kembali duduk)  . . . .  kalian tahu apa itu Hubungan Temporer?”

“Belum Bu. . .  ” jawab siswa dengan nada pusing.

“Sekarang Ibu tanya. . . Kalian pernah menjenguk orang sakit di rumah sakit?”.

“Pernah Bu  . . . ” jawab siswa.

“Nah, dengan siapa orang sakit itu melakukan hubungan sosial?” tanya Ibu Rina.

“Dengan Dokter. . . . . .  . . . . . .  dengan perawat Bu ” jawab siswa.

“Nah, kalo orang yang sakit sudah sembuh dan keluar dari rumah sakit bagaimana?”

“Tidak melakukan hubungan sosial dengan Dokter lagi donk Bu” jawab siswa.

“Kalo begitu . .  apa itu Hubungan temporer??” tanya Ibu Rina.

“Hubungan individu antara pasien dengan dokter Bu?” jawab siswa ragu.

“Waduhhhhh . . . . .  bukan . . .  .  Apakah setiap orang sakit terus tidak sembuh-sembuh?”

“Tidak Bu. Orang yang sakit akan sembuh, Bu. ..” jawab siswa.

“Jadi sakit itu sifatnya apa anak-anak?” tanya Ibu Rina.

“Bersifat sementara Bu . . ” jawab siswa serentak.

“Nah, lalu apa itu Hubuuuuungaaaan Temporeeeeeeerm, duhai anak-anak?” tanya Ibu Rina lagi

“Hubungan sesama individu yang bersifat sementara Buuuuuuu . . . ..  ” jawab siswa.

“Huhh  . .  Okeh sip” ujar Ibu Rina sambil menghela nafas panjang.

“Sekarang catat lagi ya. . .  Hubungan Permanennnn.  Ayo, siapa yang mau kasih tahu Ibu apa itu hubungan permanen?” tanya Ibu Rina.

Salah satu siswa mengangkat tangan “hubungan individu yang bersifat permanen/tetap Bu?”

“Ok. . . . Boleh Boleh . .  Coba beri contoh . . . “ pinta Ibu Rina.

(Siswa kembali terdiam) “Walah kok malah seperti ayam ompong ini . . Nah, sekarang dengar Ibu ya..  Pohon Apel akan menghasilkan apa?”

“Buah Apel Bu”   . . .  jawab siswa.

Penerapan  SPPKB dengan Pendekatan Emosional, Variasi dan Keterampilan Proses
Photo by Pixabay

“Nah, mulai lapar kan . .  . Hahha. . .  sekarang apa bisa Pohon Apel dan buahnya itu berpisah. Misalnya pohon apel berbuah durian??” tanya Ibu Rina.

“Tidak Bu, pohon Apel ya berbuah Apel Bu. Tidak bisa dipisahkan keduanya” jawab siswa.

“Nah, kalo kita kembali kepada hubungan sosial. Apa hubungan sosial yang sifatnya permanen dan tidak dapat dipisahkan?” tanya Ibu Rina.

“Anak dengan orang tua, Bu?” jawab siswa.

“Nah, jadi contoh hubungan Permanen?”

“Hubungan antara anak dengan orang tuaaa. . .  ” jawab siswa serentak.

Ibu Rina mengacungkan dua jempol dan bahagia, karena siswanya sudah mengerti dengan materi pelajaran yang disampaikannya. Sesuai dengan harapan, siswa bisa memahami bentuk-bentuk hubungan sosial. Tak lama berselang, akhirnya tiba saatnya pelajaran usai. Ibu Rina kemudian menutup pelajaran dan segera kembali ke kantor guru.

Selesai . . . . . . . . . 

***

Dari kisah pembelajaran sederhana di atas, terlihat bahwa strategi yang digunakan adalah Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berpikir, atau yang dikenal dengan SPPKB.

Dengan menerapkan strategi ini, tentu guru akan menerapkan percakapan/dialog dengan siswa secara utuh. Ini terlihat seperti cerita di atas. Guru dan siswa berdialog demi mendalami materi pembelajaran tentang hubungan sosial.

Dengan cara ini, diharapkan siswa dapat menemukan pengertian, makna, serta contoh dari hubungan sosial itu sendiri.

Namun, memang perlu diperhatikan bahwa dalam menjalankan strategi pembelajaran ini, guru menjadi aktor penting. Ini karena yang dituntut adalah komunikasi dua arah. Kalau satu arah? Bisa-bisa gagal total. Salah satu pihak akan pasif. Hemm

Penerapan  SPPKB dengan Pendekatan Emosional, Variasi dan Keterampilan Proses
Penerapan SPPKB. Ilustrasi by Pixabay

Mengenai pendekatan yang digunakan, Pertama, Pendekatan Emosional. Ini dapat kita lihat di awal cerita, bahwa guru meminta siswa untuk menanggapi sikap orang tua yang membunuh anak kandungnya sendiri.

Kedua, Pendekatan Bervariasi. Yaitu kolaborasi antara Pendekatan Individu dan Pendekatan Kelompok.

Pada cerita di atas dapat dilihat bahwa, selain meminta siswa secara individu untuk dijadikan simulator, guru juga meminta siswa secara keseluruhan/berkelompok menjadi simulator terkait dengan materi pelajaran.

Ketiga, Pendekatan Keterampilan Proses. Dapat dilihat pada cerita di atas bahwa guru lebih menekankan kepada aktivitasnya dalam meningkatkan kemampuan berpikir dan menempuh tingkatan-tingkatan dialog hingga akhir pelajaran.

Langkah ini guru lakukan dengan mengaitkan unsur rasional (contoh konkret) dalam peningkatan pemikiran siswa yang sifatnya abstrak tanpa adanya objek yang tampak di depan siswa.

So, maukah Bapak/Ibu Guru terapkan di kelasnya? Mau dong!

Semoga bermanfaat. Salam.


Posting Komentar untuk "Penerapan SPPKB Menggunakan Pendekatan Emosional, Variasi, dan Keterampilan Proses"