Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menerapkan Strategi Pembelajaran Inkuiri di Kelas

Menerapkan Strategi Pembelajaran Inkuiri di Kelas
Inkuiri. Gambar oleh Sasin Tipchai dari Pixabay 

Langsung saja kita ke cerita Strategi Pembelajaran Inkuiri, ya!

***

Bapak Henderson akan mengajarkan mata pelajaran  Biologi. Kebetulan pada hari Rabu ini ia akan mengajar di kelas VII A. Pembelajarannya dimulai setelah istirahat pertama, yaitu pukul 10.00 Kali ini ia akan mengajarkan materi mengenai Jamur.

Pak Kurniawan segera menjelaskan materinya tentang jamur tersebut, mulai dari pengertian jamur dan jenis-jenis jamur.

Untuk membuat siswa mengetahui tentang ciri-ciri jamur, Pak Kurniawan ingin anak didiknya mempraktikkan kegiatan yang berkaitan dengan ciri-ciri jamur.

Pak Henderson segera mengajak siswanya pergi ke taman di depan kelas, didekat lapangan basket. Di sana terdapat banyak sekali tumbuh-tumbuhan mulai dari bunga, hingga tanaman yang berguna untuk obat-obatan.

Sesampainya di taman, Pak Hender segera mencari beberapa jamur sebagai sampel untuk bahan praktik. Pak Hender meminta dua orang siswa untuk mengangkat beberapa batang jamur. Ada Doni dan Dina. Doni pun langsung mencabut  jamurnya.

Menerapkan Strategi Pembelajaran Inkuiri di Kelas
Jamur. Gambar oleh adege dari Pixabay

“Eh, Doni, jangan jamurnya saja yang diambil, sertai juga tanahnya? Ok”

“Kan Bapak bilang tadi Jamurnya”

“Iya, maksud Bapak tanahnya disertai juga. Coba Doni, kalo bawa dompet tapi uangnya ditinggal, kan gak ada gunanya....”

Semua siswa kemudian tersentak tertawa girang mendengar ocehan Pak Henderson. Suasana pembelajaran kian menjadi seru dan menyenangkan. Pak Henderson pun meminta Doni memindahkan jamur itu kedalam pot plastik yang telah disediakannya.

Setelah itu, pot yang berisikan jamur tadi diletakkan di tempat yang terkena panas matahari. Jamur selesai dipindahkan, hatta Pak Henderson meminta Dina segera mencari tanaman cabai.

Menerapkan Strategi Pembelajaran Inkuiri di Kelas
Cabai. Gambar oleh tookapic dari Pixabay 


Tanaman ini juga diletakkan di dalam pot plastik dan dipindahkan di tempat yang panas seperti halnya jamur tadi.

Ada beberapa siswa bertanya:

“Pak, untuk apa kedua tanaman ini diletakkan disini ? Kita kan belajar tentang jamur, kenapa malah bawa tanaman cabai  Pak?”

Siswa tampaknya banyak yang keheranan menanggapi apa yang dipinta oleh Pak Henderson

“Nanti Bapak kasih tahu, kita tunggu saja 10 menit lagi. Ayo sekarang kita makan sebentar di kantin”.

“Ye ye ye, siap Pak, , kita jajan ..... kita jajan . . . . . . . . “

“Tapi jangan lama-lama ya?”

“ok Pak, Bapak traktir yaa” (jawab siswa)

“ok, tapi kapan-kapan saja.. hehe”

“Yaa, masa gitu Pak?”

Sepuluh menit berlalu, siswa sudah jajan dan Pak Henderson kembali mengajak siswa ke taman dimana lokasi praktik tadi dilakukan. Sesampainya disana?

“Lah, kok jamurnya mati Pak?”

“Iya iya, kok cabainya gak mati-mati Pak?”

Ungkap siswa keheranan

“Lah, iya ya? Kok mati jamurnya? Ada ada ya? Coba kalian pikirkan?”

“Kalo tadi ketika Doni mencabutnya jamurnya patah Pak?” (jawab siswa)

“Masa.? Coba Bapak periksa?”

Pak Hender sambil tersenyum segera memeriksa jamurnya

“Tidak pecah kok, jadi kenapa.. ayo siswa bapak kan pintar”

Seluruh siswa pun dibuat kebingungan oleh Pak Henderson, ada yang menggaruk kepala, mengigit-gigit jari, dan mecabut-cabut rumput. Akhirnya inilah kesempatan guru untuk bertindak.

“Ayo semuanya ke sini, mendekat dan membentuk lingkaran ya?”

“Jamur warnanya apa?”

“Coklat pak? ”

“Kalo cabai?”

“Hijau Pak”

“Jadi kenapa  jamur kok langsung mati?”

“Karena tidak ada zat hijau daunnya Pak?

“Wah pintar, nah beginilah yang bapak mau, terus apa lagi?”

Siswa kembali berpikir. Sepertinya akan lama.

“Doni, coba ambil lagi jamur dua buah, nggak usah pakai tanahnya ya?”

Doni langsung mengambil jamur itu dan membawanya kehadapan Pak Hender

“Ini Pak. Mau diapakan Pak?”

“Nah, coba peras jamurnya?”

“Banyak airnya Pak”

“Nah, coba peras cabainya?”

“Tidak ada airnya Pak!”

“Jadi mengapa jamur kok malah mati?”

“Karena tidak ada airnya Pak”

“Kurang tepat, ada yang lain”

“Karena kepanasan oleh matahari Pak, jadi kekeringan dan mati”

“100, betul sekali, coba lihat tempat Doni mengambil Jamur dan cabai tadi. Apa bedanya?”

“Tidak Pak, Jamur tempatnya teduh, sedangkan cabai tempatnya panas”

“Jadi, apa maksudnya itu?”

“Oh, Jamur hidupnya ditempat yang teduh dan lembab Pak sehingga kalo di tempat yang panas dia akan kekeringan dan mati.”

“Bagus, itu  benar.”

Pak Hender lalu mengajak siswa-siswanya untuk kembali ke kelas

Nah, sekarang sudah tahu kan ciri-ciri jamur”

“Tahu Pak”

“Sekarang kalian tulis di kertas selembaran tentang ciri-ciri jamur tadi”

“Ok Pak, ”

Dengan tersenyum siswa-siswa kelas VI mengisi tugas yang diberikan. Sepertinya mereka sudah paham dan mengerti dengan ciri-ciri jamur itu.

***

Sekian cerita di atas. Cerita ini merupakan contoh pembelajaran dengan menggunakan STRATEGI PEMBELAJARAN INKUIRI.

Pada cerita di atas, tampak jelas bahwasannya siswa berperan aktif untuk mencari dan menemukan tentang materi pembelajaran, yaitu ciri-ciri jamur. Inilah yang diharapkan didalam strategi pembelajaran inkuiri.

Menerapkan Strategi Pembelajaran Inkuiri di Kelas
Inkuiri. Gambar dari Pixabay

Siswa diminta untuk menemukan jawaban dari pertanyaan yang disampaikan guru secara tidak langsung. Jadi, seakan-akan siswanya yang menemukan masalah dari pembelajaran dan siswa itu sendiri yang menjawab alias menyelesaikan permasalahan dan pertanyaannya itu.

Di dalam kisah, terlihat guru hanya memberikan alternatif dan menuntun siswa agar mereka mendapatkan masalah yang sesuai dengan pembelajarannya.

Di sini siswa pun mendapat pengalaman sendiri, seperti memeras jamur dan cabai, serta memindahkan kedua tanaman tadi. Siswa juga melihat langsung tempat tumbuhnya jamur dan cabai. Sehingga disini tampak perbedaan keduanya.

Kemudian, pendekatan yang digunakan cerita di atas adalah Pendekatan Keterampilan Proses dan Pendekatan Pengalaman.

Pendekatan keterampilan proses disini terlihat bahwa siswa secara bebas dan aktif mengungkapkan pendapatnya seiring dengan langkah-langkah pratikum pembelajaran yang dilakukan oleh guru.

Siswa mengembangkan pertanyaan mereka, dan siswa pun mengembangkan jawaban mereka. Dari yang awalnya kurang mendekati kebenaran hingga mencapai kebenaran.

Ini sangat didukung dengan penerapan pendekatan yang kedua, yaitu pendekatan pengalaman. Dengan pengalaman anak baik yang praktik maupun yang melihat secara langsung fakta tentang pembelajaran, tentu akan menjadi hal berharga bagi mereka.

Seperti yang kita ketahui bahwasannya pengalaman memang pengetahuan yang paling susah didapat dan jika didapat maka akan teringat dalam waktu yang lama. Inilah yang kita cari dari proses Belajar-Mengajar.

Semoga bermanfaat.

Salam.

Baca juga:

Menerapkan Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berpikir (SPPKB) di Kelas

Posting Komentar untuk "Menerapkan Strategi Pembelajaran Inkuiri di Kelas"