Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Membangun Pendidikan yang Sehat, Kompetitif, dan Berperadaban

Kiat Membangun Pendidikan yang Sehat, Kompetitif, dan Berperadaban
Membangun Pendidikan. Foto: jcomp via freepik.com 

Objek atau sasaran pendidikan adalah manusia, yaitu bagaimana seorang manusia itu dapat mempunyai kualitas, kuantitas, objektivitas, dan subjektivitas dalam pendidikan.

Jika kita hubungkan dengan pembangunan, maka sasaran pendidikan adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Sejatinya, dapat dikatakan bahwa, tujuan akhir pembangunan adalah manusianya, yaitu dapat dipenuhinya hajat hidup, jasmaniah dan rohaniah, sebagai makhluk individu, makhluk sosial, dan makhluk religius, agar dapat meningkatkan martabatnya selaku makhluk.

Jika ditanyakan siapa pembangun dan apa yang dibangun dalam peradaban pendidikan, maka jawabannya juga manusia.

Bagaimana manusia dapat membentuk sikap diri, sikap sosial, sikap terhadap lingkungannya, tekad hidup yang positif serta keterampilan kerja.

Jadi, jelas bahwa hasil pendidikan kita itu dapat menunjang pembangunan. Sebaliknya, hasil pembangunan dapat menunjang usaha-usaha pendidikan, maksudnya, suatu masyarakat yang makmur akan dapat membiayai penyelenggaraan pendidikan kearah yang lebih bermutu.

Kita membangun pendidikan sama saja dengan kita menunjang pembangunan pendidikan tersebut. Pendidikan menghasilkan suatu sumber daya tenaga yang menunjang pembangunan dan hasilnya akan dapat menunjang pendidikan.

Dalam membangun peradaban pendidikan, berarti digiatkan usaha-usaha untuk memfungsikan dan mendinamisasikan peranan pranata-pranata kependidikan itu secara terpadu dan berkelanjutan.

Membangun Pendidikan yang Sehat, Kompetitif, dan Berperadaban
Membangun Pendidikan. Gambar: freepik.com

Pranata itu mencakup banyak hal seperti institusi, guru, lembaga-lembaga pendidikan, pusat-pusat keilmuan, pusat-pusat pendidikan, dan pusat-pusat seni dan budaya. 

Misalnya guru, kita tahu bahwa guru adalah kunci terlaksananya berbagai bentuk dan jenis kegiatan, baik itu formal, informal, maupun nonformal.

Dapat dikatakan bahwa guru adalah orang yang paling mengetahui dan merasakan betapa beratnya misi dan tanggung jawab dalam mencerdaskan dan memajukan peserta didiknya menjadi seorang individu maupun warga yang modern dan berkeadaban.

Membangun Peradaban Pendidikan yang Sehat

Membangun Pendidikan yang Sehat, Kompetitif, dan Berperadaban
Membangun Pendidikan. Foto: h9images via freepik.com

Peradaban dapat diartikan sebagai perbaikan pemikiran, kemajuan, tata krama atau rasa. Peradaban berkaitan dengan nilai-nilai kesopanan dan budi pekerti, manifestasi-manifestasi kemajuan mekanis dan teknologis.

Peradaban biasanya digunakan untuk menyatakan kebudayaan yang memiliki sistem teknologi, seni bangunan, seni rupa, sistem kenegaraan, dan sistem ilmu pengetahuan yang kompleks.

Peradaban erat kaitannya dengan budaya yang nantinya akan berhubungan dengan kebiasaan, adat, nilai, dan tradisi dalam masyarakat.

Sedangkan pendidikan adalah suatu proses pembelajaran dimana terdapat penyaluran ilmu pengetahuan, keterampilan, dan karakter bangsa dalam suatu keadaan, baik itu dalam formalitas, informalitas maupun nonformalitas.

Jadi, menurut penulis, peradaban pendidikan adalah perbaikan pemikiran, nilai, kebiasaan, dan sistem dalam proses pembelajaran baik bagi pendidik maupun peserta didik.

Mulai dari kebiasaan penyaluran ilmu pengetahuan, penyaluran nilai-nilai, karakter dalam ilmu pengetahuan, hingga tradisi dalam masyarakat dalam mengamalkan ilmu pengetahuan tersebut.

Peradaban pendidikan yang sehat adalah peradaban pendidikan yang tersalurkan seutuhnya, tersalurkan nilai-nilai, kebiasaan, pemikiran, dari teori hingga praktiknya.

Jadi, kemajuan pendidikan yang sesuai dengan makna peradaban adalah kemajuan pendidikan yang berkarakter  singkatnya. 

Mengapa saya katakan begitu?

Karena di dalam karakter terkandung nilai-nilai, baik itu tentang tata krama maupun nilai-nilai kesopanan, budi pekerti, maupun watak yang menjadi perbedaan suatu negara dengan negara lainnya.

Untuk membentuk peradaban pendidikan yang sehat, maka kiat-kiat yang harus dilakukan, Pertama, di dalam pendidik harus ditanamkan karakter yang sesuai dengan karakter bangsa Indonesia pada umumnya, dan karakter yang sesuai dengan agama pada khususnya.

Jadi, seorang pendidik itu harus mencerminkan nilai-nilai kesopanan, budi pekerti, serta jiwa nasionalisme dan patriotisme.

Karena, pendidik adalah panutan dan menjadi tiruan oleh peserta didiknya. Maka dari itu, pendidiknya harus sehat, agar peserta didiknya sehat pula.

Kedua, Pendidik tentunya harus menjunjung tinggi asas profesionalismenya sebagai pendidik.

Artinya seorang pendidik harus bekerja dan mengajar sesuai dengan bidangnya masing-masing. Sebagai pendidik, sudah tentu harus lebih pintar dari peserta didiknya. Maka dari itu harus sesuai dengan bidangnya.

Jika tidak sesuai, bagaimana peserta didik dapat menjadikannya sebagai panutan, sedangkan apa yang disampaikan oleh pendidik bukan bidangnya.

Ketiga, pendidik juga harus dapat melihat perkembangan dunia global.

Mirip seperti profesionalisme, pendidik, khususnya guru harus memiliki kemampuan dalam menyesuaikan kurikulum pendidikan yang sering berubah  dengan infrastruktur, sarana dan prasarana yang ada di sekolahnya.

Singkatnya, seorang pendidik tidak gagap teknologi.

Membangun Peradaban Pendidikan yang Kompetitif

Membangun Pendidikan yang Sehat, Kompetitif, dan Berperadaban
Membangun Pendidikan. Foto: jcomp via freepik.com

Kompetitif artinya bisa bersaing. Peradaban pendidikan yang bagus juga berarti peradaban pendidikan yang bisa bersaing.

Bersaing tentunya bukan hanya sebatas sesama organisasi atau instansi-instansi pendidikan saja, namun bersaing dalam kaitan mendunia, jadi bersaing dengan negara-negara lain.

Ada tiga perspektif dakam konsep pendidikan yang mendunia.

Pertama, kita mengikuti arus pendidikan yang sedang terjadi didunia.

Kedua, kita menjadi pemuka dalam pendidikan yang mendunia, artinya kita jadi pemimpin.

Ketiga, bersama dengan negara lain, kita melakukan pendidikan yang bermanfaat bagi semuanya, dengan modal yang sama-sama kita miliki untuk semuanya.

Perspektif pertama sudah kita jalani saat ini, karena Indonesia mengacu kepada global, hasilnya sepertinya adanya sekolah bertaraf internasional.

Di situ ditingkatkan kualitas yang lebih baik. Setidaknya bisa mengimbangi pendidikan di kawasan Asia Tenggara saja sudah baik.

Dalam hal kompetitif, diperlukan adanya paradigma pemikiran yang bisa dijadikan prioritas pendidikan, seperti pemantapan jati diri, termasuk pendidikan pergaulan yang mendunia.

Pendidikan yang kompetitif perlu disikapi dengan benar, yaitu kita tidak menolak kecenderungan perkembangan dunia, dan juga tidak menerima seutuhnya perkembangan dunia tersebut.

Larinya ke kurikulum, kurikulum pendidikan perlu diseleksi kualitasnya secara nasional, namun bukan berarti harus diganti setiap satu tahun sekali.

Itu membuat galau para guru, karena mereka harus berpikir ekstra keras dalam meramu sistem pendidikan yang sesuai dengan perubahan kurikulum tersebut.

Dalam membentuk peradaban pendidikan yang kompetitif, ada beberapa kiat untuk mewujudkannya, yaitu:

Pertama, Pemerintah perlu meningkatkan pengiriman-pengiriman pelajar untuk belajar di negara-negara hebat seperti Finlandia, karena di sanalah pusat kemajuan pendidikan sekarang.

Untuk menjadi baik, kita harus belajar dari yang terbaik, bukan dari yang baik saja. Dengan begitu, apa yang didapat para pelajar nantinya bisa difilterisasi untuk diterapkan di Indonesia.

Kedua, Albert Einstein pernah mengatakan  imagination is more important than knowledge (imajinasi lebih penting dari sekedar pengetahuan).

Dibutuhkan kreativitas di negara kita, baik itu dari para cendekiawan, tokoh-tokoh pendidikan, ataupun para professor.

Jadi  terhadap  ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang, kita ikut berpartisipasi terhadapnya.

Di samping itu kita juga harus mempunyai imajinasi, kreativitas, sehingga bisa memunculkan hal yang baru yang nantinya berguna bagi kemajuan pendidikan di negara kita.

Membangun Pendidikan yang Berperadaban

Membangun Pendidikan yang Sehat, Kompetitif, dan Berperadaban
Membangun Pendidikan. Ilustrasi: Yusuf Demirci via Freepik.com

Berperadaban artinya bertaraf hidup, kaitannya adalah tentang mutu, jadi, semakin berperadaban suatu pendidikan, semakin tinggi taraf hidup dari pendidikan tersebut.

Dalam memajukan langkah peradaban peradaban pendidikan, ada dua karakter bangsa yang perlu dikembangkan, yaitu:

Pertama, Karakter linier bangsa, adalah karakter  yang sedang diciptakan oleh sistem pendidikan sekarang ini, seperti cerdas, rajin, pekerja keras, hemat, menghormati sesama.

Karakter ini penting untuk menyusun elemen-elemen bangsa yang tugasnya lebih bersifat pelaksana.

Kedua, Karakter nonlinier pertumbuhan bangsa, adalah karakter pembangun keunggulan peradaban,berupa kualitas moral, suka rukun dan bekerja sama, pemupukan jiwa kebangsaaan, berjati diri, memiliki visi dan mimpi bangsa, sesuai dengan budaya, adat, dan tatanan nilai sesuai dengan kebutuhan di masyarakat.

Karakter ini sangat diperlukan sebagai penyusun elemen-elemen bangsa yang memerlukan kepemimpinan seperti kebijakan, pengambil keputusan, dan pembaharuan.

Dalam membangun pendidikan yang berperadaban, diperlukan kiat-kiat untuk mewujudkannya.

Pertama, perlu dibentuk program-program dalam latihan pembentukkan karakter bangsa, peningkatan moral, dan pembentukan perilaku dan kebiasaan untuk suka dan rukun dalam bekerja sama yang sesuai dan selaras dengan kebutuhan dan lingkungan masyarakat.

Kedua, pendidikan harus ditekankan pada peningkatan kualitas para pendidik yang dicetak.

Artinya kembali ke profesionalisme, seorang pendidik itu harus punya kualitas yang setidaknya mendapat cap nasional agar kedalaman pengetahuan dalam disampaikan kepada para pendidik.

Karena seperti tujuannya, pendidikan pada dasarnya menghindari kemiskinan dan jauh dari lingkaran setan, maka dari itu diperlukan yang namanya kualitas.

Ketiga, peningkatan pendidikan nilai juga harus ditekankan untuk membentuk pendidikan yang berperadaban.

Karena nilai itu nantinya kana mencerminkan watak/karakter bangsa Indonesia dan dijadikan bahan pembicaraan bagi negara-negara lain.

Misalnya Indonesia terkenal dengan sopan santun dan keramahannya. Itu sebaiknya dijaga, jangan sampai negara lain menelah ludah kembali setelah mengatakan hal itu.

Jadi, pada dasar dan pada umumnya, untuk membentuk peradaban pendidikan yang sehat, kompetitif, dan berperadaban diperlukan adanya penguatan karakter bangsa disamping pemupukan pendidikan nilai.

Dengan karakter yang kuat dan pendidikan nilai yang lebih berakar pendidikan bisa berkembang sesuai dengan perkembangan dunia global saat ini, setidaknya menghindar dari ketertinggalan yang menyesatkan dan membawa negara kita ke kemiskinan.

Semoga bermanfaat.
Salam.

Baca juga:

Posting Komentar untuk "Membangun Pendidikan yang Sehat, Kompetitif, dan Berperadaban"