Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hargai Dirimu, Hidup Ini Tak Seindah Serial Doraemon!

Hargai Dirimu Hidup Ini Tak Seindah Serial Doraemon
Hidup ini tak seindah Serial Doraemon. Ilustrasi: Unsplash

“Aku ingin begini. Aku ingin begitu. Ingin ini, ingin itu banyak sekali. Semua, semua, semua dapat dikabulkan. Dapat dikabulkan dengan kantong ajaib. Hey! Baling-baling bambu! La, la, la. Aku sayang sekali. Doraemon...”

Begitulah lirik singkat serial kartun Doraemon yang sungguh populer hingga hari ini.

Semua orang baik yang tua, muda, remaja, dewasa, hingga purna seakan tidak pernah bosan menonton aksi Nobita dan kawan-kawan.

Apalagi di zaman bahuela, zaman di mana Android belum terkenal dan televisi masih menjadi primadona. Setiap hari minggu, anak-anak seakan tak mau pindah dan hanya mau duduk di depan televisi. Begitu banyak anime dan serial anak-anak yang disajikan. Duh, nikmatnya!

Salah satu kenikmatan yang kiranya masih bersanad hingga hari ini ialah serial Doraemon. Kartun yang berkisah tentang alat-alat canggih abad-21 penolong kesulitan hidup manusia ini tidak bosan ditonton, walaupun tiap minggu tayangannya selalu diulang-ulang.

Tapi, herannya, Nobita kok enggak gede-gede, ya? Sizuka kok enggak pandai-pandai main biola, ya? Bahkan Giant masih belum kurus! Upps

Serial Doraemon dan Ketergantungan Manusia Terhadap Alat

Kartun Doraemon sangat menghibur? Oke, fix. Kesimpulan awal ini tak dapat diganggu gugat. Hanya saja, bila kita tilik lebih jauh, agaknya serial ini nilai edukasinya kurang mengena di alam nyata.

Secara, Nobita yang sejatinya menjadi pemeran utama film adalah seorang anak SD yang manja, malas belajar, serba sial, dan selalu bergantung dengan alat-alat canggihnya Doraemon.

Hargai Dirimu, Hidup Ini Tak Seindah Serial Doraemon!
Hidup ini tak seindah serial Doraemon. Ilustrasi: Unsplash

Memang benar bahwasannya setiap kali Doraemon meminjamkan alat-alatnya, Nobita selalu dimarahi dan dinasihati terlebih dahulu. Tapi, apakah kemudian nasihat itu mampu menjadi pengubah hidup Nobita?

Sayangnya tidak. Dan di episode-episode selanjutnya, Nobita hanya begitu-begitu saja dan selalu bergantung dengan alat. Nilai ujiannya di sekolah selalu dapat nol, dan Nobita lebih asyik menikmati tidur siangnya.

Aku malah berpikiran begini. Jangan-jangan bukan Nobita yang memakai alat? Ya, seakan-akan alatnya Doraemon yang semakin menghancurkan hidup Nobita karena ketergantungan.

Ketika kita berbicara tentang kehidupan manusia di dunia nyata, hal seperti ini tentu berbahaya dan sama sekali tidak mengajarkan tentang kemandirian. Terang saja, alat-alat canggih yang ditawarkan untuk memudahkan hidup manusia malah berganti fungsi menjadi memperalat diri.

Bukan kita yang menggunakan alat dengan bijak, melainkan alat yang mengatur kebijakan-kebijakan tentang bagaimana seharusnya kita bersikap.

Contoh sederhana, yaitu smartphone. Sebagai alat yang canggih, smartphone tidak bisa lepas dari kehidupan manusia di alam nyata. Bahkan, saking hebatnya smartphone, alam nyata dan alam maya sampai-sampai tiada bedanya lagi.

Manusia sanggup online 24 jam bahkan lebih demi mempertahankan eksistensinya di alam maya. Padahal, di alam nyata? Ia seakan tak berdaya. Smartphone-nya nge-drop sehari saja, mungkin hidup seseorang akan semrawut dan tak tentu arah. Bahaya, bukan?

Hargai Dirimu, Hidup Ini Tak Seindah Serial Doraemon!

Kita adalah manusia, dan sebagai manusia, jangan sampai kita diperalat oleh yang namanya alat. Ketergantungan terhadap alat dan teknologi sesungguhnya hanya menjadikan diri seseorang semakin lemah.

Terkadang, orang rela mengorbankan kejujurannya demi eksistensi, mengorbankan auratnya demi viral, bahkan mengorbankan “reputasi” agar dicap mampu menggunakan alat-alat canggih dengan baik.

Terus terang saja ini alamat bahaya. Bagaimana tidak, andai suatu hari alat tidak mampu menjalankan perannya, maka kita lah yang rugi. Karena selama ini selalu bergantung dengan alat, maka ketika alat itu sudah tidak ada, kita bisa saja kesusahan menjalani hidup.

Nah, mulai sekarang, sebaiknya kita lebih bijak dalam mengonsumsi dan menggunakan alat-alat canggih yang tersebar di dunia ini. Belajarlah untuk lebih menghargai diri karena sesungguhnya penghargaan terhadap dirilah yang akan menuntun kita ke jalan yang lebih mandiri.

Hargai Dirimu, Hidup Ini Tak Seindah Serial Doraemon!
Hargai dirimu! Ilustrasi: rudall30 via Freepik

Semakin mandiri seseorang, maka semakin kuatlah ia untuk melepaskan diri dari ketergantungan. Alhasil, ia akan semakin sadar bahwa dirinya punya potensi yang tak terbatas.

Tapi, bukan berarti alat-alat yang ada di sekitar kita seakan tak punya nilai guna, ya? Semuanya tentu berguna ketika kita mampu memanfaatkan kegunaan itu dengan bijak dan seperlunya. Tinggal bagaimana caranya kita memanajemen diri agar tidak melulu bergantung pada alat.

Toh, kenyataannya hidup ini tak seindah serial Doraemon, kan? Di saat kita susah, belum tentu banyak orang lain yang mau dan mampu menolong. Di saat kita sakit, belum tentu ada banyak orang yang mau menjenguk. Bahkan, di saat kita sukses, masih saja ada orang yang mau menjatuhkan.

Tidak terpungkiri memang, hidup tak semudah apa yang kita pikir dan kita rencanakan. Bumi berputar, dan seiring dengan perputaran bumi, takdir kita juga akan berjalan. Ada takdir yang memang sudah haq ketentuannya, dan ada pula takdir yang bergantung pada diri kita sendiri.

Sebagaimana kalam Allah dalam QS Ar-Ra’d ayat 11:

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

Jadi, hargailah dirimu, maksimalkan potensimu, dan jangan melulu mau hidup dalam ketergantungan layaknya serial Doraemon. Kalaupun dirimu begitu ngebet ingin bergantung, maka hanya Allah lah sebaik-baiknya tempatmu bergantung.

Semoga Bermanfaat.
Salam

 

Baca juga:


Posting Komentar untuk "Hargai Dirimu, Hidup Ini Tak Seindah Serial Doraemon!"