Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Contoh Penerapan SPI Menggunakan Pendekatan Keagamaan, Individual, dan Pengalaman

Contoh Penerapan SPI Menggunakan Pendekatan Keagamaan, Individual, dan Pengalaman-ozyalandika.com
Strategi Pembelajaran Inkuiri. Dok. Ozy V. Alandika

Hai sobat Guru, apa kabar? Baiklah, kali ini saya akan kembali menyajikan cerita singkat tentang proses belajar-mengajar di kelas.

Nah, strategi yang akan saya pakai ialah Strategi Pembelajaran Inkuiri (SPI) dengan menggunakan Pendekatan Keagamaan, Pendekatan Individual, dan Pendekatan Pengalaman. Langsung saja disimak, ya.

***

Hari ini cukup panas, dan banyak siswa yang mulai menyeka keringatnya. Sepertinya fokus belajar kami akan terganggu. Namun, melihat waktu, sepertinya sebentar lagi pelajaran dengan Pak Alandika akan dimulai.

Biasanya belajar dengan Pak Alandika menyenangkan. Jadi kami sebagai siswa kelas VII C tetap semangat belajar.

Berselang beberapa waktu, terdengarlah detak sepatu Guru dan kemudian masuklah Pak Alandika yang selalu rapi dan bergaya rambut keren. Pak Alandika hari ini akan mengupas materi tentang air.

“Semua berdiri. Beri salam kepada Bapak Guru....  Assalamualaikum Wr. Wb.” Teriak Ketua Kelas.

“Walaikumussalam. Apa kabarnya hari ini anak-anak?”

“Alhamdulillah sehat Pak..... Waduh, kabar buruk Pak, sekarang panas sekali.”

“Haha, tetap syukuri, ini semua adalah nikmat Allah. Kalian tahu mengapa Allah hadirkan panas saat ini?”

“Tidak Pak. . . .  kemarin juga panas Pak”

“Ia, banyak petani yang sedang memanen padi mendoakan agar siang ini panas, begitupun dengan ibu kalian dirumah yang sedang menjemur pakaian.       Maka dari itu mari kita syukuri.”

“Alhamdulillahirabbil’alamin.”

Pak Alandika kemudian kembali duduk. Anak-anak bergegas menyiapkan buku dan pena mereka masing-masing. Ada yang penanya hilang, sehingga meminjam pena temannya. Tiba-tiba Pak Alandika berdiri kembali.

“Anak-anak, buku dan penanya disimpan saja di dalam tas yaaa.”

“Kenapa Pak, kita tidak belajar ya hari ini? Pulang cepat?”

“Kita belajar, nanti Bapak kasih tahu. Doni, kamu tolong carikan Bapak bekas botol Plastik dan Gelas Plastik yaa. Dan Tia, kamu tolong pinjamkan ember di ruang guru.”

“Ya, Pak.”

Doni dan Tia segera bergegas melaksanakan Perintah Pak Alandika. Selang beberapa menit mereka pun kembali lagi ke kelas.

“Hmm, Ember dan botol plastiknya taruh di halaman kelas saja ya. Nah, anak-anak sekarang kita pulang.”

“Hahh (siswa kaget kegirangan) kita Pulang Pak ???? Horeeeeeeee.”

“Haha kalian salah dengar itu. Maksud Bapak, kita keluar kelas gitu.”

“Walah, itu Bapak yang salah bilang tadi.”

Dengan perasaan sedikit kesal, siswa bergegas keluar menuju ke halaman depan kelas di dekat ember dan botol plastik tadi.

“Ya, sekarang, siapa yang mau bantu Bapak mengambil air dengan ember ini?”

“Saya saja, Pak.”

“Tidak perlu penuh-penuh. Cukup setengah saja yaaa.”

“Baik, Pak.”

Andi segera mengambil air di samping kelas. Sepertinya siswa kepanasan di sini.

“Panas yaa, ayo  kita pindah ke bawah pohon. Bawakan botol plastiknya.”

“Ok Pak. . . Sipp tidak kepanasan lagi kita.”

Andi pun sudah datang sembari membawa air.

“Oh iya, Wahyu, tolong ambilkan plastik di meja Bapak. Hati-hati Ada isinya.”

“Iya, Pak..”

“Nah, Andi, tolong tuangkan Air ke dalam gelas plastik ini ya. 3 gelas.”

Andi pun menuangkan air ke masing-masing gelas plastik. Selang beberapa waktu, datanglah Wahyu dengan membawa kantong plastik yang sepertinya berisikan pewarna.

“Ok, terimakasih. Sekarang Bapak tanya. Warna air ini apa?”

Strategi Pembelajaran Inkuiri.ozyalandika.com
Media belajar. Foto: Pixabay

“Bening, Pak.”

“Coba kalian campurkan ketiga pewarna ini pada masing-masing gelas.”

Pak Alandika lalu membagikan tiga buah pewarna/gincu kepada siswa. Terlihat gelas pertama berwarna merah, gelas kedua berwarna ungu, dan gelas ketiga berwarna cokelat.

“Nah, sekarang warna air apa?”

“Merah, Ungu, dan cokelat, Pak.”

“Walah, tadi kata kalian bening. Kok kini beda lagi?”

“Karena dicampur dengan pewarna, jadinya berubah, Pak?”

“Nah, jadi air itu seperti apa?”

"Dapat berubah sesuai dengan apa yang dicampurkan, Pak.”

“Yaa, benar. Nah, sekarang coba isi air di botol plastik ini dan tuangkan juga di tanah sedikit.”

Andi segera menuangkan air kedalam botol plastik dan juga di tanah.

“Sudah ya. Coba kalian lihat air di ember, gelas, botol, dan tanah. Sama tidak?”

“Tidak, Pak.”

“Mengapa kok tidak sama?”

Siswa terdiam tidak bisa menjawab. Lalu Pak Alandika mengambil pena di saku bajunya.

“Nah, kalian lihat ini, ya.” Pak Alandika memasukkan pena ke dalam ember.

“Penanya berubah, tidak?”

“Tidak, Pak.”

Pak Alandika segera memasukkan penanya kedalam gelas plastik.

“Kalo ini?”

“Tidak juga, Pak.”

“Kenapa air berubah bentuknya, tapi pena tidak berubah?”

“Karena pena bukan benda cair Pak.”

“Lantas, kenapa air berubah bentuknya?”

“Tergantung apa yang ditempati air pak. Kalo di ember ya seperti ember, kalo di botol seperti botol, dan kalo di tanah tidak berbentuk, Pak.”

“Nah, jadi air itu berubah dan menempati apa?”

“Menempati bendanya, Pak.”

“Tapi kok di dalam pena tidak ditempati air? Yang ditempati air itu loh, apa namanya?”   

“Air menempati Ruang, Pak.”

“Sip, iya benar itu. Ingat yaa.”

“Ingat, Pak.”

“Nah, sekarang Doni, coba kamu  miringkan daun kering itu?”

“Sudah, Pak, lalu bagaimana, Pak?”

“Tuangkan air dari atas daun itu, ya.”

Strategi Pembelajaran Inkuiri.ozyalandika.com
Daun dan air. Foto: Pixabay

Doni pun menuangkan air dari atas daun kering tadi.

“Sudah. Sekarang daunnya di luruskan kembali, dan tuang lagi airnya.”

Semua siswa memperhatikan dengan fokus apa yang dilakukan Doni dan seraya berpikir apa maksud perintah Pak Alandika.

“Nah, sekarang Bapak tanya. Apa bedanya air di daun yang miring dan di daun yang dirobohkan? Ada yang tahu?”

“Tidak ada bedanya, Pak.”

“Masa, sih? Coba kamu Tia Praktikkan lagi seperti yang dilakukan Doni tadi”

Tia pun mempraktikkan kembali apa yang dilakukan Doni. Tampaknya suasana belajar di bawah pohon semakin terkesan hikmat dan serius.

Pak Alandika  : Nah, hayo anak-anak apa bedanya?

“Oh iya, Pak. Air yang pertama mengalir, sedangkan yang kedua tidak. Hanya membentuk kolam dan airnya diam Pak.”

“Mengapa air yang pertama mengalir, sedangkan yang kedua tidak mengalir?”

“Karena posisi daun yang pertama miring, sedangkan yang kedua roboh, Pak”

“Nah, jadi air akan mengalir jika bagaimana?”

“Jika jalannya miring, Pak.”

“Sedikit lagi. . . .  Hampir benar. . . Hayo-hayo.”

“Karena tempatnya lebih tinggi, Pak, jadi airnya bisa mengalir.”

“Jadi, air itu bagaimana mengalirnya?”

“Air mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah, Pak.”

“Sip deh,, kalian memang cerdas.”

“Aamiin . . . . hehe”

Terlihat dari raut wajahnya, semua siswa agaknya sudah mengerti dengan pelajaran yang disampaikan Pak Alandika. Sejenak mereka tertawa ria, bel waktu pulang pun berbunyi. Pak Alandika segera menutup pelajaran dan meminta siswa untuk kembali ke kelas mereka.

----Selesai----

 

Terlihat dari uraian cerita diatas, strategi yang digunakan penulis adalah Strategi Pembelajaran Inkuiri (SPI). Strategi ini merupakan bentuk pembelajaran yang menuntun siswa agar dapat menemukan sendiri sebuah gagasan dengan bimbingan guru.

Namun, di sini seorang guru bertindak sebagai pembimbing dan tidak memberikan pelajaran secara langsung. Guru hanya memberikan beberapa contoh nyata guna mempengaruhi pemikiran siswa.

Mengapa demikian?

Karena seyogyanya strategi ini lebih menekankan kepada proses mencari dan menemukan dari siswa. Pada akhinya, memang penerapan strategi ini akan meningkatkan keterampilan berpikir siswa dalam belajar.

Strategi Pembelajaran Inkuiri.ozyalandika.com
Strategi Pembelajaran Inkuiri. Ilustrasi by Pixabay

Sedangkan Pendekatan yang digunakan penulis dalam cerita di atas adalah Pendekatan Keagamaan, Pendekatan Individual, dan Pendekatan Pengalaman.

Pendekatan Keagamaan: Di awal cerita guru menggunakan pendekatan keagamaan dengan mengaitkan keadaan  panas dengan karunia Allah.

Hal ini kiranya merupakan bahan pembelajaran pembuka yang baik bagi pemikiran siswa, yaitu agar siswa dapat senantiasa mensyukuri apa-apa yang didapatnya dan apa-apa yang diberikan oleh Allah SWT kepadanya.

Pendekatan ini penting kiranya bagi guru untuk dapat diselipkan ke dalam mata pelajaran mereka. Jadi, tidak hanya terbatas oleh mata pelajaran agama saja.

Pendekatan Individual: Pada cerita di atas, guru menggunakan pendekatan individual dengan meminta anak secara individual untuk kelancaran proses pembelajaran.

Setidaknya ini akan membangkitkan jiwa solidaritas anak untuk senantiasa dapat membantu dengan ikhlas, dimulai dari hal yang sederhana.

Pendekatan Pengalaman: Melihat cerita di atas, tampak bahwa siswa diminta untuk mempraktikkan beberapa proses pembelajaran.

Pembelajaran dengan pendekatan seperti ini tentunya akan lebih melekat ke dalam pikiran siswa, karena ia sendiri yang melakukan. Alhasil, jalan ini lebih memudahkan mereka untuk mengingat dan memahami materi pelajaran.

Demikian. Semoga bermanfaat.                       


4 komentar untuk "Contoh Penerapan SPI Menggunakan Pendekatan Keagamaan, Individual, dan Pengalaman"