Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Certificate-Oriented Sebagai Masalah Rumit Pendidikan Islam

 

Certificate Oriented Sebagai Masalah Rumit Pendidikan Islam
Certificated Oriented. Ilustrasi: Pixabay

Jika kita menatap masa-masa Islam Awal, mencari ilmu diibaratkan sebagai suatu jihad. Hal ini terambil dari manifestasi dari hadis Nabi SAW yang artinya “tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina”.

Penuntutan ilmu tersebut memiliki derajat yng tinggi diantara perbuatan-perbuatan yang saleh. Barang siapa yang mati dalam perjalanan mencari atau menuntut ilmu adalah seperti mereka yang mati syahid di medan perang.

Semangat inilah yang menjadi pola yang diterapkan dan dikembangkan pada masa-masa awal Islam.

Pola ini berkarateristik knowledge oriented, sehingga tidak heran jika pada masa-masa itu banyak lahir tokoh-tokoh besar yang memberi banyak kontribusi berharga terhadap pendidikan Islam, ulama-ulama, serta karya-karya besar sepanjang masa.

Menurut Penulis, karena berkarateristik knowledge oriented, tentu secara logika mereka mengenyampingkan sertifikat (ijazah) dalam hal belajar dan mencari ilmu.

Tingkat penguasaan mereka terhadap ilmu tidaklah bisa dibandingkan dengan nilai “sangat baik”, atau “baik” yang sekiranya tertera di ijazah.

Karena di dalam Islam, jika sudah memiliki ilmu, maka orientasi, manifestasi, atau perwujudannya adalah bagaimana seseorang bisa mengamalkan ilmu itu kepada orang banyak, karena sebaik-baiknya ilmu adalah yang diamalkan.

Pengamalan ilmu ini varian rupanya, bisa dituangkan dalam suatu karya untuk dibaca orang banyak, serta bisa dituangkan melalui ijtihad/penemuan teori baru yang berguna untuk mengembangkan pendidikan Islam.

Lain halnya jika kita kaitkan dengan era milenial sekarang ini. Ijazah sudah menjadi prioritas utama para mahasiswa dalam kuliah.

Certificate Oriented Sebagai Masalah Rumit Pendidikan Islam1
Certificated Oriented. Ilustrasi: Shahid Abdullah dari Pixabay 

Hal ini juga didukung dengan adanya anggapan yang menyebar di masyarakat bahwa ijazah merupakan suatu syarat bahwa mahasiswa itu benar-benar sudah lulus sarjana. Mulailah timbul kesenjangan antara ilmu dan apresiasi dari ilmu itu sendiri.

Penghargaan ilmu tidak sejalan dengan pengamalan ilmunya. Pendidikan berorientasi kepada hasil tanpa memperhatikan proses, sehingga mutu mulai dipertanyakan.

Pola yang ada di masa sekarang dalam mencari ilmu menunjukkan kecenderungan adanya pergeseran dari knowledge oriented menuju certificate-oriented semata.

Mencari ilmu hanya merupakan sebuah proses untuk mendapatkan ijazah atau sertifikat saja, sedangkan semangat dan kualitas keilmuan menempati prioritas berikutnya.

Fenomena ini memunculkan kelompok intelek yang kurang atau bahkan tidak capable, yang pada gilirannya akan berguguran oleh seleksi alam.

Jika kita melihat problema ini dari perspektif filsafat pendidikan Islam, maka manifestasinya adalah pengamalan nilai/aksio dari filsafat pendidikan Islam. Menurut penulis, Certificate Oriented telah mengubah tujuan, target, dan misi pendidikan Islam.

Tujuan pendidikan utamanya adalah humanizing of human, yang berarti berkaitan dengan peningkatan kualitas manusia itu sendiri, baik dari segi kehidupan, pemikiran, pengambilan sikap, serta pengaplikasian pemikiran itu sendiri dalam segala kondisi dan situasi.

Dan tujuan pendidikan Islam adalah membentuk manusia agamis yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, atau yang kita kenal dengan Insan Kamil. Kesemua itu berimplikasi kepada upaya untuk menggapai ridha Allah.

Certificate Oriented tentu tidak bisa kita jauhkan dengan nilai, karena berhubungan dengan penyikapan atau tindakan dari suatu situasi.

Ijazah pada dasarnya adalah suatu seni, karena merupakan apresiasi dari ilmu. Karena merupakan seni, tentu sertifikat bisa kita pandang sebagai estetis (keindahan) dan bisa juga kita pandang sebagai kejelekan.

Ijazah dipandang sebagai nilai keindahan jika kita beranggapan bahwa ijazah itu merupakan perhargaan ilmu.

Artinya, kita mendapat dua kebaikan yaitu ilmu dan ijazah. Dengan demikian, tentu manifestasinya adalah mendahului atau mementingkan ilmu dan mengenyampingkan ijazah.

Beda halnya jika ijazah itu kita pandang sebagai nilai kejelekan. Ijazah dipandang sebagai nilai kejelekan jika kita berorientasi bahwa proses pembelajaran, atau proses mendapatkan ilmu dapat ditukar dengan ijazah.

Dengan demikian, maka dapat dikatakan bahwa ijazah merupakan hasil dari proses pembelajan. Memang, sepintas ini bukanlah hal yang jelek, tetapi jika kita menganggap bahwa hasil itu adalah prioritas maka bisa saja “proses” akan kita tinggalkan.

Mungkin saja akan timbul banyak pemikiran tentang bagaimana cara mendapatkan ijazah tanpa harus melalui proses pembelajaran.

Sebagai contoh, A punya lampu yang sudah rusak dan tidak menyala lagi. Jika A ingin lampunya hidup tentu ia harus punya uang untuk membeli atau memperbaiki lampu yang rusak tersebut.

Namun, bagaimana jika si A menukar lampunya yang rusak dengan lampu punya tetangganya? Hasilnya kan sama saja?

Begitulah kiranya jika kita meng-orientasikan ijazah atau hasil akhir dalam suatu proses. Memang, hasil itu adakalanya penting untuk dinikmati atau dijadikan sebagai syarat formal dalam pekerjaan atau keperluan lainnya.

Certificate Oriented Sebagai Masalah Rumit Pendidikan Islam1
Certificated oriented versus procees. Ilustrasi: mohamed Hassan dari Pixabay

Namun, proses lebih berharga dari sekadar hasil itu. Di dalam suatu proses, terdapat banyak hal penting yang tidak patut kita lupakan seperti usaha, metode, materi, maupun sikap kita dalam menanggapi proses itu sendiri.

Berhasil atau tidaknya tergantung dari selesai atau tidaknya proses tersebut. Maka dari itu, proses untuk mendapatkan ijazah atau sertifikat lebih penting dari sekedar ijazah yang hanya sebuah kertas dengan berbanjir tanda tangan dan cap.

Mengingat ilmu dalam Islam dipengaruhi oleh dimensi spiritual, wahyu, intuisi, dan memiliki orientasi teosentris, maka konsekuensi ilmu salah satunya adalah terikat nilai.

Ini sangat berbeda dengan Sains Barat, karena tradisi ilmu netral atau bebas nilai, tidak boleh terikat nilai tertentu.

Bahkan, menurut pandangan Barat, salah satu syarat keilmiahan ialah bersifat objektif. Sifat objektif ini berarti menyatakan fakta apa adanya da tidak boleh dipengaruhi oleh fakta apapun.

Beberapa Dampak Certificate Oriented Bagi Pendidikan Islam

Jika peserta didik salah dalam memilih prioritas atau menjadikan orientasi, tentu akan salah tujuan dan berpengaruh besar bagi perkembangan Pendidikan Islam secara khusus, dan Pendidikan Nasional secara umum.

Berikut beberapa dampak yang rawan terjadi dan dekat dengan kehidupan kita:

Pertama, Menghancurkan Pembangunan di Bidang Manusia

Hal ini mencakup kualitas, tingkat pendidikan, dan kondisi ekonomi. Dalam Laporan Pembangunan Manusia 2010 yang dikeluarkan oleh United Nation Development Program (UNDP) menunjukkan bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia berada di peringkat 108 dari 169 negara yang tercatat, dengan nilai IPM 0,600.

Di tingkat ASEAN, Indonesia hanya berada diperinngkat 6dari 10 negara. Peringkat ini masih lebih rendah bila dibandingkan dengan Singapura (27), Brunei Darusallam (37), Malaysia (57), Thailand (92), dan Filipina (97). 

Hal ini diduga terjadi karena orientasi pelajar yang beralih kepada ijazah semata, tidak menghargai proses dalam keilmuan, sehingga semangat untuk menciptakan suatu pemikiran baru, khususnya didalam pendidikan Islam sangat minim sekali.

Akhirnya, hal seperti ini akan melemahkan, merendahkan, bahkan menjatuhkan kualitas bangsa Indonesia dimata dunia.

Kedua, Membentuk Generasi Muda yang Sakit

Dalam soal prestasi, anak-anak Indonesia tidak kalah hebat dibandingkan dengan anak-anak dari negara lain.

Buktinya, sering mereka menjadi juara olimpiade Matematika atau Fisika. Mereka juga cukup kreatif, terbukti lagu-lagu dan film-film anak negeri diakui dikancah dunia. Prestasi di bidang olahraga pun begitu.

Namun, di sisi lain, hal yang memprihatinkan dari mereka adalah moralitas yang sudah mencapai titik nadir. Kasus contekan massal dalam Ujian Nasional kemarin sudah menjadi rahasia umum. 

Hal ini bisa jadi terletak pada cara pembelajarannya. Sistem pendidikan lebih diorientasikan untuk mengejar dan menyerap ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya, daripada upaya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan itu sendiri. 

Sistem pendidikan hanya mengejar penyelesaian pembelajaran dengan konsekuensi waktu yang telah ditetapkan, tidak perduli bagaimana respek peserta didik tentang pembelajaran itu.

Bagaimana bisa menjadi calon pendidik jika mutunya dipertanyakan, kualitasnya samar-samar, dan moralnya yang rendah.

Ketiga, Timbulnya Sikap Tunamoral

Sebagai contoh, melihat hal-hal yang terjadi di lembaga eksekutif yang mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk menduduki jabatan tertentu.

Untuk menjadi kepala desa sekarang sajaorang harus mengeluarkan dana puluhan juta hingga ratusan juta rupiah, apalagi menjadi bupati, gubernur, atau presiden.

Begitupun untuk menjabat posisi tertentu dipusat daerah, semua ada tarifnya. Hal ini lambat laun akan menimbulkan perilaku koruptif ketika mereka menduduki jabatannya.

Yang ditakutkan adalah bagaimana jika hal ini terjadi didalam pendidikan, misalnya ada tarif untuk ijazah tertentu sesuai dengan tingkatannya.

Tidak menutup kemungkinan bagi segelintir orang yang terbilang punya banyak uang mau membeli ijazah atau sertifikat, meski sekedar untuk gengsi bergelar sarjana. Itu bisa saja terjadi lambat laun, jika orientasi mereka didalam pendidikan adalah ijazah.

Keempat, Hilangnya Keteladanan Pendidik

Sekadar contoh, kita sering mendengar nasihat atau bahkan tidak jarang ancaman guru kalau muridnya bolos sekolah.

Tetapi data Kementerian Pendidikan Nasional tahun 2010 menyebutkan bahwa dalam sehari ada 500 ribu atau setengah juta guru membolos atau mangkir mengajar tanpa alasan yang jelas.

Fakta ini membuat kita berpikir, jangan-jangan banyaknya siswa yang kepergok membolos sekolah sesungguhnya bukan karena mereka malas belajar, tetapi karena tidak ada yang mengajar di kelas. Tapi, semoga saja tidak, ya.

Hal seperti ini bisa saja terjadi jika orientasinya demikian, karena seorang guru telah mendapatkan hasilnya misalnya menjadi PNS, tidak menutup kemungkinan baginya untuk melepas tangan tanggung jawabnya secara transparan.

Karena ia tidak tahu hakikat proses dalam belajar, sehingga mereka menerapkan pemikiran yang demikian.

Kelima, Mengejar UT (Universitas Terbuka) untuk Menyempurnakan Gelar

Menurut penulis, ini bisa jadi merupakan salah satu dampak dari certificate oriented. Seperti kita ketahui, pembelajaran di UT tidaklah sama efektifnya dengan pembelajaran di Universitas Negeri atau Swasta, katakanlah STAIN.

Pembelajaran di UT biasanya hanya menggunakan modul, tanpa tatap muka dan bertemu saat ujian Mid semester atau ujian akhir semester. Karena belajar sendiri, tentu kualitasnya akan berbeda dengan belajar bersama guru yang lebih menguasai materi.

Maka, di mana letak kualitas dan mutunya? Bisa saja itu hanya semacam cara jalan pintas dan mudah untuk mendapatkan gelar.

Keenam, Perspektif Belajar Hanya Terpaku pada Ijazah dan Pekerjaan

Jika ijazah menjadi orientasi sebagian besar pelajar, maka muaranya adalah pekerjaan. Bagaimana cara cepat kuliah, tamat, dapat ijazah, dan pekerjaan. Dimana pengalaman ilmunya? Dimana semangat keilmuannya?

Kita belum berbicara kualitas disini. Seseorang yang dapat ijazah, kita tidak tahu bagaimana kualitas dan semangat keilmuannya. Bisa saja ia hanya menjadikan ijazah sebagai prioritasnya, sebagai sampul (cover) untuk mendapat pekerjaan saja.

Solusi Problema Certificate Oriented dalam Pendidikan Islam

Certificate Oriented Sebagai Masalah Rumit Pendidikan Islam
Certificated Oriented. Ilustrasi: Pixabay

Problema pendidikan nasional maupun Islam dalam prespektif global tidak mungkin diselesaikan oleh sekelompok masyarakat baik kelompok etnis atau agama tertentu. Karena, masalah utamanya adalah kualitas yang rendah sehingga menghasilkan SDM yang rendah pula.

Di dalam melakukan transformasi pendidikan Islam tidak harus mengubah paradigama ideologinya, tetapi cukup pada tataran strateginya dengan melakukan interpretasi nilai-nilai yang yang terkandung dalam paradigm dalam interpretasi terhadap pemahaman masa lalu.

Perubahan sosial dan tata kehidupan yang mengiringi perjalanan sejarah kehidupan umat manusia merupakan sunnah Allah, sehingga tidak mungkin kita menghentikan perubahan itu.

Yang harus kita lakukan adalah menekan pendidikan agar dapat mengatasi masalah-masalah perubahan sosial dan tata kehidupan. Solusinya, pendidikan harus ditekankan pada:

Pertama, Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM)

Berpijak di era Merdeka Belajar, agenda utama pendidikan tiada lain adalah mengembangkan dan meningkatkan kualitas SDM, terutama nilai insaninya.

Karena, nilai insan ini tercermin dalam watak bangsa, oleh karenanya pembangunan watak bangsa sangat penting. Esensinya adalah peningkatan kesadaran akan tanggung jawab atas eksistensi bangsa.

Kedua, Menggiatkan Gerakan Pendidikan Nilai

Untuk membangun watak bangsa perlu adanya gerakan pendidikan nilai. Asumsinya adalah, semua agama bertemu dalam satu misi yang sama, yaitu menegakkan moralitas dalam kehidupan berdasarkan nilai-nilai universal kemanusiaan.

Certificate Oriented Sebagai Masalah Rumit Pendidikan Islam
Gerakan Pendidikan Nilai. Dok. Ozy V. Alandika

Gerakan pendidikan nilai ini tidak cukup hanya dipikul oleh satu agama, oleh pemerintah saja, atau oleh institusi pendidikan tertentu. Seluruh institusi agama harus mengadakan kegiatan yang sinergis melalui lembaga pendidikan sekolah, keluarga, dan pendidikan diluar sekolah.

Watak dan nilai pendidik sangatlah penting dalam membentuk suatu kualitas. Karena watak akan menimbulkan sebuah kesadaran akan tanggung jawab dalam mengenyam sesuatu, sehingga tidak terbengkalai amanahnya.

Dan nilai, sangat penting implikasinya karena, mencerminkan akhlak dan budi pekerti bagi pendidik dan peserta didiknya.

Ketiga, Mengubah Orientasi Certificate Oriented Menjadi Orientasi Pada Norma dan Etika Agama

Hal ini ditujukan untuk membentuk perilaku sosial dan pemecahan problem sosial. Selaras dengan paradigma inklunsif, prinsip ini menuntut pelaksanaan pembelajaran PAI yang berorientasi pada pencampaian kompetensi sosial peserta didik.

Norma-norma dan nilai-nilai Islam diajarkan bukan dalam kerangka membentuk kesalehan individu semata, yang mana sering ajaran Islam dijadikan doktrin ekslusif yang menafikkan agama atau aliran lain.

Kesalehan individu tetap penting, tetapi harus dibingkai dalam kerangka kesalehan sosial dimana seorang muslim menjadi penyebar rahmat bagi lingkungan  sekitarnya.

Keempat, Menanamkan Norma Agama kepada Peserta Didik sebagai Landasan Berperilaku dan Bertindak di Masyarakat

Konsep ini mengidealkan internisasi nilai-nilai Islam ke dalam diri peserta didik, yang muaranya adalah pembentukan sikap dan perilakunya. Konsep ini juga menekankan sinkorinisaasi antara nilai akademik peserta didik dengan akhlak keseharian yang ditunjukkan dan perilakunya.

Jadi, konsep ini didasarkan pada realitas sosial sehingga norma agama yang diajarkan kepada peserta didik tidak sebatas dimengerti, dihafal, dan dipahami, tetapi lebih dari itu dijadikan sebagai landasan berperilaku dan bertindak di masyarakat.

Kelima, Mengubah Perspektif Pelajar Mengenai Pentingnya Kualitas Keilmuan

“Proses” disini menurut penulis bukan semata bermakna denotasi dan textbook belaka. Proses dimaknai sebagai suatu usaha yang runtut, terangkai, dan sistematis untuk mencapai tujuan.

Secara sederhana, menyuruh pelajar atau mahasiswa untuk tidak mencontek, meng-copy paste pemikiran orang lain, dan berusaha mengerjakan sendiri termasuk upaya penghargaan terhadap sebuah proses.

Jika tertanam pada diri seorang pelajar “proses” yang demikian, tentu akan berdampak baik terhadap mutu dan kualitas pelajar itu sendiri. Dengan demikian, secara otomatis mereka akan menomor duakan ijazah dalam proses pembelajaran.

“Proses” tidaklah hanya sekedar menjawab soal, mendapatkan materi, hafal materi dan sebagainya. Namun proses meliputi cara, usaha, dan sikap kita sehingga bisa menjawab soal, mendapatkan materi.

Artinya, meliputi pemahaman terhadap materi pembelajaran, lebih lagi jika kita mengetahui dan memahami hakikat dari materi pembelajaran itu sendiri.

Keenam, Mengubah Kebiasaan Menghafal Teori dan Materi

Kebiasaaan menghafal teori dan materi merupakan suatu metode klasik yang konvensional sampai sekarang. Bedanya, dahulu menghafal itu identik dengan Al-Qur’an atau Hadis, sedangkan sekarang mulai identik dengan materi pelajaran disaat ujian sudah dekat.

Hal ini tentu akan membuat seseorang mudah lupa, tidak paham, serta menyempitkan pemikirannya sendiri. Hafal belum tentu paham, sedangkan paham tentu sudah pasti hafal, meski tidak secara keseluruhan.

Bentuk pemikiran tradisional yang menghabiskan banyak energi bukan dalam bidang pemikiran yang kreatif, tetapi dalam hal ‘mengingat’ dan ‘mengulang’ itu tidak dapat menghasilkan gerakan yang intelektual.

Certificate Oriented Sebagai Masalah Rumit Pendidikan Islam
Mengubah Kebiasaan Menghafal Teori. Ilustrasi: Pixabay

Padahal, semestinya pendidikan yang baik dan strategis tentu mampu menghasilkan lulusan-lulusan yang berkapasitas intelektual, sebab kaum intelektual adalah anggota-anggota masyarakat yang mengabdikan dirinya pada pengembangan ide-ide orisinal dan terikat dalam pencarian pemikiran-pemikiran kreatif.

Jika kebiasaannya tetap seperti ini, maka hasil dari prosesnya tidaklah menunjukkan penghargaan terhadap ilmu.

Prosesnya menghafal, dan hasilnya adalah hafal dan dapat penghargaan berupa  nilai atau ijazah. Tidak memandang bahwa  mungkin saja besok sudah lupa dengan hafalannya.

Itulah pentingnya belajar untuk memahami daripada menghafal. Dengan memahami sesuatu, kita akan sedikit berfantasi dan bisa saja menemukan metode khusus untuk menghafalnya.

Karena kita paham, cukup dengan satu atau dua kata kunci saja mungkin kita akan mengerti dan hafal 2 paragraf atau malah lebih.

Ketujuh, Meningkatkan Kegigihan dan Jiwa Mujahadah bagi Calon Pendidik

FX Burton mengatakan: ‘bakat yang biasa-biasa dibarengi dengan kegigihan luar biasa akan membuat seseorang mampu mencapai prestasi luar biasa’. Artinya, kegigihan menentukan prestasi.

Tanpa kegigihan, prestasi luar biasa tak akan bisa dicapai dan obsesi besar hanya tinggal dalam mimpi.

Oleh karena itu perlu ditanamkan jiwa mujahadah, yakni ada usaha keras, kreasi, inovasi, dan selalu berusaha untuk mewujudkan prestasi yang lebih tinggi.

Menurut penulis, hal ini merupakan perkara penting agar tidak terjadi kemiskinan kreativitas, dan tidak menjadikan diri asal jadi (instan), tetapi melalui tahapan-tahapan ‘menjadi’.

Artinya, yang diburu bukanlah hasil dengan proses mudah dan simple, melainkan ditantang, diuji kemampuannya dibidang keilmuan tanpa mengenyampingkan moralitasnya.

Kedelapan, Guru Jangan Mendoktrin

Jika guru mendoktrin dalam mengajar, tentu peserta didik tidak berkembang pemahamannya. Peserta didik akan terpaku dengan gurunya sendiri sehingga pemahamannya tentang materi yang diberikan guru itu sempit. Hal ini akan memunculkan inkritisisasi pemikiran pada peserta didik.

Orientasi kepada pengetahuan dan pemahaman merupakan hal penting  untuk pengembangan pemikiran mereka.

Hal ini tentu butuh perluasan jangkauan berpikir dan tidak dibatasi dengan perintah guru saja. Artinya, proses pembelajaran haruslah cermat kita perhatikan.

Dalam pembelajaran dibutuhkan pengawasan, dan evaluasi terhadap kompetensi guru dalam mengajar agar senantiasa dapat diperbaiki.

Dengan demikian, sekolah tidak hanya tahu hasil jumlah peserta didik yang naik kelas atau lulus, namun tahu perkembangan pemikiran peserta didiknya.

Guru juga haruslah objektif dalam menilai peserta didiknya. Jika guru bersifat subjektif kepada salah satu peserta didik, sama saja guru itu membuat anak didiknya melupakan pentingnya prosees dalam mendapatkan ilmu, sehingga merendahkan kualitas anak didik itu sendiri.

Kesembilan, Mengubah Proses Belajar-Mengajar

Jika interaksi manusia, anggaplah itu  guru lingkungan berjalan dengan baik, tidak akan timbul pertanyaan tentang apa yang harus dikerjakan. Tetapi jika kesulitan berkembang dalam situasi tertentu, manusia dibawa untuk menanyakan apa yang seharusnya diperbuat.

Artinya, ini berkaitan dengan realisasi diri, semakin kepentingan dipuaskan, semakin objek terealisasi.

Semakin objek terealisasi, pelaku mempunyai dasar yang lebih luas untuk bertindak lebih jauh dalam berbuat.

Proses belajar mengajar harus diubah utamanya untuk membuat perspektif peserta didik tentang peningkatan kualitas pemahaman mater pembelajaran.

Pengubahan bisa dilakukan baik dari segi metode penyampaian materi, kebebasan peserta didik dalam menyampaikan pendapatnya, serta menghindari monopoli guru atas peserta didiknya.

Penyampaian materi berupa ceramah, pembacaan materi kurang efektif dalam mengembangkan pemahaman peserta didik terhadap materi pembelajaran.

Hal itu juga akan menyebabkan peserta didik bersikap pasif dalam proses pembelajaran. Penting kiranya dalam pembelajaran peserta didik bisa ikut aktif, partisipatif, dan kritis dalam pembelajaran.

Dengan demikian, kebiasaan anak untuk berpikir bisa di asah, sehingga meng-aktifkan sel-sel kecerdasan otak yang belum berfungsi.

Kesepuluh, Meningkatkan Kompetensi Calon Guru

Hal ini penting karena substansi kajian dan konteks pembelajaran selalu berkembang dan berubah menurut dimensi ruang dan waktu, guru dituntut berkompetensi dan meningkatkan kompetensinya.

Demikian juga jika melihat kondisi objektif saat ini yang meliputi perkembangan iptek, persaingan global bagi lulusan pendidikan, otonomi daerah, dan implementasi kurikulum pendidikan.

Bagi penulis, guru ibarat dua mata pisau yang tajam, bisa membawa anak didiknya kearah yang positif dan negatif.

Hal ini tergantung bagaimana kompetensi yang dimiliki guru itu sendiri. Penguasaan materi yang mendalam dan pemahaman yang luas tentang materi itu merupakan unsur yang sangat penting untuk dimiliki oleh seorang guru.

Tentu saja harus dibekali secara matang saat mereka menjalani kuliah agas tidak gagap di lapangan.

Maka dari itu, penting kiranya diadakan uji kompetensi bagi mahasiswa dengan penilaian yang objektif dari penilai yang objektif pula.

Jadi, berhasil atau tidaknya mahasiswa menjadi calon pendidik tergantung bagaimana pemahaman mereka, luas atau sempit, abstrak atau textbook, berapa persentasi kebenarannya, dan bagaimana kualitas keilmuannya.

Kesemuanya akan tampak diwaktu uji kompetensi itu. Jika mahasiswa itu berorientasi kepada ijazah saja tentu nilai uji kompetensinya akan rendah, karena pemikirannya merupakan perwujudan dari hasil akhir saja.

Mungkin hafalan materi akan menjadi prioritasnya dalam menjalani ujian itu, dan sebaliknya.

Maka dari itu, pentingnya penilai yang objektif dan menguasai bidang uji kompetensi itu sendiri penting untuk diklasifikasikan dan dipilih yang terbaik, agar menghasilkan output atau calon guru yang berkompetensi.

Kesebelas, Meng-orientasikan Kerja Sebagai Amal Ibadah

Inti pendidikan agama dapat memberikan motivasi kerja bagi setiap individu masyarakat, yaitu iman amal. Karena hanya itulah menurut sistem kepercayaan Islam dapat memberikan kebahagiaan kepada manusia yang dapat menghindarinya dari kecelakaan dunia dan akhirat.

Kalau pendidikan agama dapat menanamkan keimanan yang teguh, tidak lapuk oleh hujan, dan tidak lekang oleh panas, dan motivasi kerja dalam bentuk amal ibadah dan amal muamalah dalam berbagai aspeknya, maka pendidikan agama akan berjaya  mencapai tujuannya untuk menciptakan masyarakat yang bermotivasi.

Jadi, orientasi baru pendidikan agama ialah iman dan amal kearah pembentukan masyarakat yang  bermotivasi.

Memang, tidak ada salahnya jika berorientasi kepada kerja dalam proses pendidikan, namun motivasi kerja, pengamalannya haruslah diluruskan tabiatnya.

Mendasarinya kepada iman, ibadah, moralitas, serta etika dan mementingkan proses sebagai penghargaan kita terhadap ilmu.

Dengan demikian, hasil bisa didapat melalui tahapan tertentu berdasarkan tingkatannya masing-masing sehingga bisa tercapai, sesuai dengan sistematika, cara, dan jalan yang seperti seharusnya.

Semoga bermanfaat
Salam

Taman baca:

Ahmadi. (2005). Ideologi Pendidikan Islam. Yogyakarta:Pustaka Pelajar
Haniah. (2001). Agama Pragmatis. Magelang: Indonesiatera
Langgulung, Hasan. (2002). Peralihan Paradigma dalam Pendidikan Islam dan Sains Sosial. (Jakarta: Gaya Media Pratama
Muchsin, Bashori dan Abdul Wahid. (2009). Pendidikan Islam Kontemporer. Bandung: Refika Aditama
Qomar, Mujamil. (2005). Epistemologi Pendidikan Islam. Jakarta: Erlangga
Sa’ud, Udin Syaefudin. (2010). Pengembangan Profesi Guru. Bandung: Alfabeta
Sutrisno dan Muhyidin Albarobis. (2012). Pendidikan Islam Berbasis Problem Sosial. Yogyakarta: Ar-ruzz Media
Wahid, Abdul. (2008). Pendidikan Islam Kontemporer. Semarang: Need’s Press

 

Baca juga:


Posting Komentar untuk "Certificate-Oriented Sebagai Masalah Rumit Pendidikan Islam"