Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerpen - Irama Scenery dalam Sesal

Cerpen: Irama Scenery dalam Sesal-ozyalandika.com
Irama Scenery dalam Sesal. Foto: Pixabay

Tatapan sendu dari seorang gadis bersama kursi rodanya, di taman sepi bertabur bunga. Ditemani buku kecil, lengkap dengan penanya. Entahlah. Apa yang sedang dia lakukan.

Dingin angin yang menusuk tulang membuat siapapun lebih memilih bergelut dengan selimut hangat di rumah, dibandingkan beraktivitas sekarang.

Tak terasa, jatuh setetes air dari mata coklat pekat itu, entah apa yang sedang dipikirkan, kesedihan sudah pasti mendominasi. Dari earphone yang tertempel di telinga, terdengar lagu ‘Scenery’ milik Kim Taehyung.

I put my feelings in the garden
(aku meletakkan perasaanku di taman)

Bunyi handphone menghentikan lagunya yang terputar, terlihat nama ‘Bunda’ di layar pipih itu. Seketika tubuh Aya serasa membeku, orang yang sangat dirindukannya selama beberapa bulan terakhir ini. Jemari lentik itu menggeser lambiang hijau, dan mengangkat panggilan itu.

Assalamu’alaikum, Aya.”

Suara yang mampu menggetarkan hati Aya, bibir pucat itu bergetar menahan sesuatu yang menghantam dadanya.

“Wa’alaikumussalam, Bun. Bunda apa kabar? Baik, kan? Aya kangen, Bun.

Kekehan di akhir adalah upaya Aya menutupi rasa sedihnya.

“Bunda baik, baik banget, kamu gimana? Baik, kan?”

Ah, ingin sekali Aya mengatakan Aya ga baik – baik aja, Bun. Bunda gak mau pulang liat Aya?” Namun, situasinya seakan tak mendukung. Lidah Aya begitu kelu untuk mengatakannya.

“Alhamdulillah, Bun, A-Aya baik, hehe. Bun, Aya boleh minta sesuatu, gak?”  Tanya Aya, sedikit berhati – hati.

Tentu, sayang. Aya mau apa? Nanti bunda belikan.” Aya tersenyum kecut mendengar hal itu.

“Aya pengen, bunda pulang dan peluk Aya. Aya mohon.

Setetes air lolos, untuk kesekian kalinya. Sudah tak terhitung betapa banyak kesedihan yang dialami Aya.

Iya, Aya. Minggu depan Bunda pulang. Bunda akan peluk Aya banyak-banyak.

Awalnya senyum terukir di bibirnya, namun mendengar perkataan akhir tadi malah membuat senyum kecut yang mendominasi. Apa lebih penting pekerjaan dibanding anaknya? Pikir Aya.

“Apa ga bisa besok, Bun? Aya mohon. Untuk yang terakhir. A- Aya janji.” Isak Aya.

“Bunda usahain, ya saying. Bunda usahain lusa pulang. Udah dulu, ya. Bunda harus lanjut kerja. Assalamu’alaikum.”

Belum sempat Aya menjawab, telpon sudah terputus secara sepihak. Isakan Aya semakin menjadi-jadi.

I still wonder beautiful story
(Aku masih bertanya tentang kisah indah)

“ Ah, aku selalu ragu tentang sebuah kisah indah yang benar-benar nyata. Namun tetap saja aku menginginkan hal itu terjadi.”

Hembusan kasar napas dari Aya mengisi kesunyian saat ini.

Tap..Tap..Tap…

Derap langkah kaki terdengar di telinga Aya, ditolehkan kepala menghadap ke asal suara. Seorang wanita, dengan baju khusus perawat, mendekat ke gadis cantik itu.

Nona, mari masuk. Udara sudah sangat dingin sekarang.”

Aya hanya menebar angukkan. Suster membawanya masuk ke dalam rumah sakit. Sungguh tak enak rasanya. Baru selangkah masuk ke dalam, bau obat sudah menusuk ke indra penciuman.

Kalau kembali ingin bertanya-tanya tentang penyakit yang dideritanya, sungguh sulit untuk dipercaya. Tapi apa daya, memang itu yang dialami seorang Anaya Anindya.

Kanker otak stadium akhir, penyakit mematikan yang tak segan segan mengambil alih raga sang pemilik dengan ganas dan tiada ampun. Membayangkannya saja kita tak sanggup, bukan? Bagaimana dengan Aya yang mengalaminya.

I ventured into the next story
(Aku berkelana ke kisah selanjutnya)

Masih di tempat yang sama, waktu yang sama, di hari yang berbeda. Terlepas dari kisah menyedihkan, di lampau waktu, akankah hari ini lebih menyedihkan? Entahlah. Tak ada yang bisa mengatur takdir tuhan.

Namun, hey! Ada apa ini! Ada apa dengan wajah perawat-perawat ini! Kenapa mereka panik!

Ada apa di ruangan itu? Pertanyaan pasti terlontar dari orang – orang di rumah sakit.

Ruangan Anaya dipenuhi dengan alat-alat bantu dan dokter. Aya terbaring lemah di tempat tidurnya, masih setia ditemani buku kesayangannya. 

Ada seorang wanita paruh baya duduk di depan kamarnya, terisak sendu tak henti-hentinya melontarkan do’a dan nama Sang Pencipta.

Still wonder best part
( masih bertanya, tentang bagian terbaik)

Mungkinkah ini akan jadi akhir? Ah, memang tak pernah salah, di mana penyesalan selalu datang di akhir. Pria dengan baju khas dokter keluar dari ruangan Aya, melontarkan kalimat yang sangat sangat menyayat hati siapapun yang mendengarnya.

“kami sudah melakukan yang terbaik, Tuhan lebih sayang kepada Anaya. Takdir Tuhan memberikan penyakit menjadi perantaranya. Kami minta maaf yang sebesar-besarnya.”  

Kau pasti tahu rasanya, bukan? Lebih sakit daripada dihantam ribuan pisau? Mungkin. Tapi, itulah yang dirasakan orang tua Anaya.

When You Lose Time
(Ketika kamu kehilangan waktu)

Sekarang, siapa yang harus disalahkan? Terisak-isak Bunda memeluk jasad Anaya. Ia hanya bisa menangis dan menyesal.

“Aya, bangun sayang, ini bunda. Bunda datang sayang. Meluk kamu lho ini. Hiks,, s-sayaang.. hiks hiks bunda minta maaf sayang. Sayang hiks..”

Hey! Untuk apa? Kenapa baru sekarang? Apa kamu tak sadar, betapa menderitanya Anaya selama ini? Bahkan permintaan terakhirnya pun tak dapat kau kabulkan. Bukankah lebih baik seperti ini, kan?

Feel sorry,and hope to get chance
(merasa bersalah, dan berharap mendapat kesempatan)

Mawar merah yang diubah mawar hitam, sekarang dihancurkan menjadi bunga mawar yang layu. Menyedihkan! Bahkan sangat menyedihkan. Berharap bahwa sebuah penyesalan bisa menjadi kesempatan hanyalah omong kosong yang terlampau.

Bu, ini titipan dari nona Anaya,

Ah, buku coklat kesayangan Anaya. Penasaran dengan isinya, kan? Saat dibuka, foto bunda Aya dominan mengisi kosongnya kertas putih. Sebegitu pedulinya Aya? Tentu! Rasanya, banyak hal yang terlewatkan. Tiba di lembar terakhir, tulisan indah Anaya memenuhi lembaran itu.

‘Anaya Anindia’

Aya, gadis kecil Bunda yang tak disadari sekarang telah menjadi gadis dewasa, Bunda. Walau kekecewaan mendominasi hati Aya dan kesedihan menjadi akhir dari kerinduan Aya, tetap saja Aya sayang, Bunda. Aya tahu, Bunda bekerja keras untuk Aya. Tapi, hidupku ini bukan hanya tentang harta. Kasih sayang lebih diharapkan untuk bahagia.

Bunda ga ada waktu untuk Aya. Menjadikan rasa sunyi sebagai teman Akrab Aya. Rintihan hujan yang menggambarkan kepedihan hati, sebagai pengobat di kala sepi. Ah, tak ada yang bisa diceritakan lagi sekarang.

Banyak ungkapan terima kasih, Aya sampaikan kepada Bunda yang mau membesarkan Aya.

Keinginan terakhir Aya, Bunda bisa ada di samping Aya dan meluk Aya walau hanya dalam beberapa hitungan detik.

Dan sepertinya, secerca harapan akan menjadi hal yang mustahil. Aya sayang Bunda, bagaimana pun keadaaannya. Aya bahagia masih bisa denger suara bunda untuk terakhir kalinya.

I love you Bunda

Ahh,, isak tangis menjadi-jadi memenuhi ruang kedukaan. Kolaborasi antara penyesalan, kesedihan, ketakutan, dan kehancuran menguasai wanita itu. Wanita paruh baya yang sedang merutuki kebodohannya sendiri.

Haha, dunia seakan menertawakannya. Angin yang menjadi saksi bisu, seakan ikut bahagia atas penyesalannya. Awan pun tak sudi mengeluarkan tangisan atas kesalahan yang dilakukan. Sang surya mengejek isakan dari bibirnya.

And for this regret, the arises a hope of repeating the past
(Dan untuk penyesalan ini, tebersit secercah harapan pengulangan waktu)

Cerpen Karya: Khairia Nurlita


4 komentar untuk "Cerpen - Irama Scenery dalam Sesal"