Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Analisis Aspek-Aspek Perkembangan Zakiah Daradjat (Sang Pelopor Psikolog Islam)

zakiah-daradjat-ozyalandika
Prof. Hj. Zakiah Daradjat. Foto: Wikipedia

Siapa yang tak akrab dengan nama Zakiah Daradjat. Kebanyakan dari kita, terutama mahasiswa sering membaca curahan ilmu Psikologi Islam dari buku-buku beliau. 

Berkah dari tulisan-tulisan ilmu jiwa yang bersudut pandang keislaman, akhirnya perempuan pendakwah ini digelari Sang pelopor Psikolog Islam.

Dan dalam kesempatan kali ini, kiranya kita perlu sedikit belajar lebih dalam dan mencoba mengambil hikmah dari perjualan beliau. 

Biografi Tokoh  “Prof. Dr. ZAKIAH DARADJAT”

Zakiah Darajat dilahirkan di Kampung Kotamerapak, Kecamatan Ampek Angkek, Kotamadya Bukittinggi pada tanggal 6 November 1929. Ayahnya bernama H. Daradjat Husain memiliki dua istri.

Dari istrinya tang pertama, Rafi’ah, ia memiliki enam anak, dan Zakiah adalah anak pertama dari keenam bersaudara. Sedangkan dari istrinya yang kedua, Hj. Rasunah, ia dikaruniai lima orang anak.

Dengan demikian dari kedua istri tersebut, Hj. Daradjat memiliki 11 orang anak. Sungguhpun memiliki dua istri, ia kelihatnnya cukup berhasil mengelola keluarganya. Hal ini terlihat dari kerukunan yang tampak dari putra- putrinya itu.

Zakiah memperoleh perhatian yang besar dari ibu tirinya, sebesar kasih sayang ia terima dari ibu kandungnya.

Hj. Daradjat sebagai ayah kandung Zakiah tercatat sebagai aktivis organisasi Muhammadiyah. Sedangkan ibunya aktif di Sarikat Islam.

Kedua organisasi yang berdiri pada akhir penjajahan Belanda ini tercatat sebagai organisasi yang cukup disegani masyarakat karena kiprah dan komitmennya pada perjuangan kemerdekaan Indonesia serta berhasil menangani mengelola pendidikan modern serta mengatasi problema sosial keagamaan dan sebagainya.

Sebagai aktivis yang kental sikap keagamaannya, memberikan dorongan yang kuat untuk memasuki Zakiah ke Sekolah Standars School Muhammadiyah di Bukittinggi.

Di lembaga pendidikan inilah buat pertama kali Zakiah mendapatkan pendidikan agama serta ilmu pengetahuan dan pengalaman intelektual. Semenjak belajar di lembaga pemdidikan ini, Zakiah telah memoerlihatkan minatnya yang cukup besar dlam bidang ilmu pengetahuan.

Hal ini terlihat pada usianya yang baru 12 tahun, Zakiah telah berhasil menyelesaikan pendidikan dasarnya cukup baik, tepatnya pada tahun 1941.

Kecenderungan, bakat dan minat Zakiah ubtuk menjadi ahli agama Islam terlihat pula dalam mengikuti Kuliyatul Mubalighat di Padang Panjang selama hampir enam tahun. Di Lembaga pendidikan ini, Zakiah memperoleh pendidikan agama secara lebih mendalam.

Namun demikian, perhatiannya terhadap bidang studi umum juga tetap besar. Hal ini terlihat pada aktivitas Zakiah dalam memasuki Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) di kota yang sama.

Di dua lembaga pendidikan ini, Zakiah berhasil menyelesaikannya dengan tepat waktu. Pendidikan yang ia dapati dari kedua lembaga ini benar-benar menjadi modal utama untuk melanjutkan pendidikannya di lembaga yang lebih tinggi.

Sementara itu budaya Minang kabau yang memberikan tanggung jawab yang lebih besar pada perempuan dibandingkan dengan perempuan di daerah lain, juga memberikan andil yang cukup besar dalam diri Zakiah.

Setelah selesai menamatkan pendidikan dasar dan sekolah menengah pertama, Zakiah melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas Pemuda Bukittinggi.

Di lembaga pendidikan menengah atas ini Zakiah memilih program B, yaitu program yang mendalami ilmu alam dan selesai sesuai waktu.

Masuknya Zakiah pada Sekolah Menengah Atas (SMU) dengan program B tersebut ternyata bukan merupakan petunjuk bahwa ia akan menjadi ahli ilmu umum, melainkan ilmu umum itu hanya sebagai pengetahuan yang suatu saat dapat digunakan sebagai dasar untuk memahami agama lebih mendalam lagi.

Hal ini terlihat ketika Zakiah memasuki perguruan tingngi ternyata yang ia pilih adalah  Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) Yogyakarta. Bakat dan minat serta dasar pengetahuan agama dan umumyang cukup ternyata menjadi dasar bagi Zakiah untuk menyelesaikan studinya dengan baik dan berprestasi di perguruan tinggi tersebut.

Prestasi yang demikian itu selanjutnya membuka peluang bagi Zakiah untuk mendapatkan tawaran melanjutkan studi di Kairo. Tawaran tersebut tidak disia-siakan oleh Zakiah.

zakiah-daradjat-ozyalandika
Zakiah Daradjat on Twitter. Foto: Twitter Zakiah Daradjat

Ia berangkat ke Kairo untuk endalami bidang yang diminati, yaitu psikologi. Sesampainya di Kairo, Zakiah mendaftarkan diri di Universitas Ain Syam Fakultas Tarbiyah dengan konsentrasi Special Diploma for Education, dan Zakiah diterima tanpa tes.

Dengan bekal pengetahuan dasar yang kuat serta didukung oleh ketekunan, semangat dan bakatnya yang besar, menyebabkan ia berhasil menyelesaikan studinya sesuai dengan waktu yang ditentukan.

Setelah itu Zakiah Daradjat mengikuti program Magister pada Jurusan Spesialisasi kesehatan mental pada Fakultas Tarbiyah di Universitas yang sama.

Program ini diselesaikan dalam waktu yang singkat, yaitu selama dua tahun, dengan tesis yang berjudul Problematika Remaja di Indonesia (Musykilat al-Murhaqah fi Indonesia).

Untuk menuntaskan studi tingkat tingginya Zakiah mengikuti program doktor (Ph.D) pada universitas yang sama dengan mendalami lagi bidang psikologi, khususnya psikoterapi.

Disertasi yang berhasil disusun dan dipertahankannya pada program doktor ini adalah “perawatan jiwa untuk anak-anak” (Dirasah Tarjibiyah li Taghayyur al-Lati Tathrau ala Syakhshiyat al-Athfal al-Musykil Infi’al fi Khilal Fhitrah al-Ilaj al-Nafs Ghair al-Muwajjah an Thariq al-La’b) bimbingan Musthafa Fahmi dan Attia Mahmoud Hanna. Dengan demikian Zakiah Daradjat telah menjadi Doktor Muslimah pertama dibidang psikologi dengan spesialisasi psikoterapi. 

Selanjutnya pada tahun 1984, bersamaan dengan ditetapkannya sebagai Direktur Pascasarjana fi IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Zakiah dikukuhkan sebagai Guru Besar (Profesor) dibidang Ilmu Jiwa Agama di IAIN.

Karena itu secara akademis lengkap sudah ia sebagai ilmuan yang memiliki keahlian handal dibidangnya. Namun demikian, Zakiah tetap seorang yang rendah hati, sabar, lemah lembut, dan tidak tinggi hati.

Melihat kemampuan Zakiah Daradjat, maka pada tahun 1967 Zakiah dipercaya oleh Saifuddin Zuhri selaku Menteri Agama Republik Indonesia untuk menduduki jabatan sebagai Kepala Dinas Penelitian dan Kurikulum Perguruan Tinggi dan Pesantren Luhur Departemen Agama.

Tugas ini berlangsung hingga jabatan Menteri Agama di Pegang oleh A. Mukti Ali. Pada masa kepemimpinan Mukti Ali inilah Zakiah Daradjat dipromosikan untuk menduduki jabatan sebagai Direktur Perguruan Tinggi Agama Islam (Dinpertais) Departemen Agama.

Dengan demikian, ia telah menjadi seorang ilmuan dan sekaligus sebagai birokrat pendidikan.

Analisis Aspek-Aspek Perkembangan Zakiah Daradjat Masa Anak-Anak

Zakiah Daradjat kiranya agak berbeda dengan sebagian besar orang, karena ia sewaktu kecil diasuh oleh dua orang ibu yang sama-sama sangat menyayangi dan memberikan perhatian penuh kepadanya.

Keadaan seperti ini tentunya akan sangat bergantung atas kekompakkan ibunya, baik itu ibu kandung maupun ibu tirinya.

Jika ada perbedaan pandangan dalam soal mendidik anak, bisa saja akan membingungkan anak untuk memilih atau menuruti ibu yang mana, atau malah akan terjadi sikap pilih kasih anak karena lebih menyenangkan salah satu ibu saja.

Sejak kecil dan sejak di sekolah dasar, Zakiah mendapat tiga ilmu pengetahuan sekaligus, yaitu pengetahuan agama, pengetahuan umum, dan pengalaman intelektual.

Bekal seperti ini tentu saja akan meningkatkan sekaligus memaksimalkan perkembangan kognitif seorang anak.

Di samping itu, perkembangan agama pun turut mengimbangi sehingga muaranya akan berdampak positif bagi perkembangan kepribadian dan tingkah laku anak yang baik dan sesuai dengan norma agama yang berlaku.

Hal ini dikarenakan bahwa dalam pengetahuan agama yang lebih diutamakan adalah akhlak.

Jika antara akhlak, pengetahuan umum, serta intelektual dapat berkolaborasi tentu ini akan mendukung sepenuhnya perkembangan anak yang intelek sekaligus agamis.

Bagaimana tidak, karena antara pengetahuan umum dan pendidikan agama masih saja dalam bayang-bayang dikotonomi.

Ketika seseorang bersekolah di sekolah umum, yang diprioritaskan adalah pendidikan atau pengetahuan umum dengan mengecilkan persentase pendidikan agama.

Dan sebaliknya, jika bersekolah di sekolah agama yang diprioritaskan adalah pengetahuan dan pendidikan agama, karena dianggap penting untuk kehidupan akhirat nanti.

Di masa ini Zakiah juga sudah menumbuhkan minatnya kepada pelajaran khususnya bidang ilmu pengetahuan.

Ini kiranya agak sedikit berbeda  dengan minat anak yang kebanyakan prioritasnya adalah bermain dan melakukan hal-hal yang sesuai dengan fantasinya. Seperti masak-masak dengan menggunakan daun dan rerumputan, serta tanah dan sejenisnya.

Alhasil, teranglah kisah bahwa Zakiah menikmati kehidupan sekolahnya dan fokus terhadap materi pembelajaran.

Aspek-Aspek Perkembangan Zakiah Daradjat Masa Remaja

Masa remaja Zakiah mendapat ilmu agama dan ilmu umum yang sama kapasitasnya. Hal ini dikarenakan ia bersekolah di dua lembaga pendidikan yang berbeda.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwasannya pada masa remaja ini penuh dengan pergolakan dan ketidakstabilan emosi.

Namun, di sini penulis tidak mendapati hal-hal yang kiranya mengganjal dan berbeda dari yang dialami remaja pada umumnya.

Hal ini dibuktikan dengan keseriusan tokoh untuk bersekolah dan tamat pada waktunya. Di sini tokoh menunjukkan proses kestabilan emosinya dengan tetap lurus kepada cita-cita dan minatnya.

Sepertinya di sini minat bisa mengurangi perasaan ketidakpercayaan seorang remaja, sehingga remaja itu tetap bisa mulai ada perencanaan terhadap cita-cita yang ingin dicapainya.

Kemudian, konsekuensi tanggung jawab yang diberikan remaja mau tidak mau juga akan memaksa remaja untuk berkepribadian sebagai sosok yang bertanggung jawab.

Artinya lingkungan sekitar, seperti budaya setempat akan mempengaruhi kepribadian remaja dalam kehidupan sehari-harinya. Seperti itu pula yang dialami Zakiah Daradjat dalam kehidupan remajanya.

Budaya Minangkabau yang memberikan tanggung jawab besar kepada perempuan daerahnya secara berangsur-angsur maupun bertahap telah membuat Zakiah memelihara tanggung jawabnya sebagai perempuan Minangkabau yang otomatis teraplikasikan kepada kehidupan sehari-hari dimana ia sedang berada.

Aspek-Aspek Perkembangan Zakiah Daradjat Masa Dewasa

Di sini perkembangan emosi tokoh sedang dihadapkan pada pemilihan dua bidang yang berbeda, yaitu bidang ilmu umum dan ilmu agama.

Pada dasarnya, seorang yang dewasa berpikirnya lebih realistis dan mempertimbangkan pilihannya secara matang. Itulah yang menunjukkan bahwa masa dewasa adalah masanya kematangan emosi.

Begitupun yang dilakukan Zakiah. Ia memilih fokus kepada ilmu agama dan psikologi dengan tidak menyesali pendidikan umum yang ia dapatkan. Ini termasuk sikap emosional yang realistis sekaligus pragmatis bagi seorang dewasa.

Ia tetap menyalurkan cita-citanya sesuai dengan minatnya yang realistis untuk dicapai. Namun demikian, ia tidak melupakan nilai guna dari ilmu pengetahuan umum yang telah ia dapatkan dengan menjadikan ilmu itu sebagai bekalnya untuk mendalami ilmu agama.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwasannya kolaborasi kedua ilmu ini akan menghasilkan pemikiran-pemikiran yang kuat dan logis, karena tidak berat sebelah dalam artian hanya berpijak pada satu kemampuan.

Inilah yang termasuk ciri-ciri kedewasaan, yaitu selain berpikir rasional atau realistis, juga mempertimbangkan sekaligus memperhitungkan nilai guna yang kiranya juga bermanfaat bagi kehidupan dan aktivitasnya.

Minat saja yang di tekuni dengan sungguh-sungguh secara maksimal diusahakan akan menghasilkan hasil yang baik meskipun tidak maksimal.

Apalagi jika minat tersebut didukung oleh bakat dan tidak bertolak belakang keduanya, tentu akan menghasilkan hasil yang maksimal dan memuaskan jika ada usahanya.

Begitulah yang dimiliki tokoh ini. Kemudian ditambah lagi dengan adanya ketekunan dan semangat. Secara otomatis ini akan lebih memudahkan seorang dewasa untuk menggapai cita-citanya.

Kemudian, untuk aspek perkembangan karier kiranya seorang yang dewasa tergantung bagaimana hasil dari usahanya. Seperti yang dialami Zakiah yang telah berhasil menjadi ilmuan berkat penyaluran minat, bakat dengan disertai semangat dan ketekunan itu tentu saja akan mendukung penuh kariernya nanti.

Karena di lapangan, seseorang yang berkompeten tentu akan mudah diterima khalayak apapun bidangnya. Maka dapat dikatakan bahwa perkembangan karier orang dewasa tergantung kepada realisasi pemikiran dan minatnya, meskipun tidak terlepas dari ketekunan dan semangat juang.

Sigmund Freud. Foto: Wikipedia

Sepertinya dalam perkembangannya, Zakiah Daradjat ini menganut teori Psikoseksualnya Sigmund Freud. Hal ini dikarenakan pengalaman awal Zakiah masa kecil mempengaruhi pengalaman berikutnya yang berkembang.

Di awal, Zakiah sudah diberikan ilmu pengetahuan agama, dan pada fase perkembangan selanjutnya beliau malah terkesan dengan ilmu agama dan ingin mendalaminya.

Zakiah juga memiliki motivasi yang sebenarnya ia tidak sadari telah mempengaruhi proses pembentukan mentalnya.

Ia termotivasi untuk segera berpikir realistis dan konkret untuk mencapai hal yang dianggap dapat mendukung minat dan kariernya kedepan.

****

Dari analisis sederhana ini, yang bisa kita pahami adalah, banyaknya pengetahuan yang didapat anak akan meningkatkan sekaligus memaksimalkan perkembangan kognitifnya.

Di samping itu, perkembangan agama pun turut mengimbangi sehingga muaranya akan berdampak positif bagi perkembangan kepribadian dan tingkah laku anak yang baik dan sesuai dengan norma agama yang berlaku.

Konsekuensi tanggung jawab yang diberikan remaja mau tidak mau juga akan memaksa remaja untuk berkepribadian sebagai sosok yang bertanggung jawab.

Artinya lingkungan sekitar, seperti budaya setempat akan mempengaruhi kepribadian remaja dalam kehidupan sehari-harinya.

Di sisi lain, minat yang ditekuni dengan sungguh-sungguh secara maksimal menghasilkan hasil yang baik meskipun tidak maksimal.

Apalagi jika minat tersebut didukung oleh bakat dan tidak bertolak belakang keduanya, tentu akan menghasilkan hasil yang maksimal dan memuaskan jika ada usahanya.

Semoga Bermanfaat. Salam

 

Taman baca:

Hurlock, Elizabeth B. Psikologi Perkembangan, (Jakarta: Erlangga, 2005)
Muhammad Al-Mighwar, Psikologi Remaja, (Bandung: Pustaka Setia, 2006)
Nata, Abuddin. Tokoh-tokoh Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2005
Purnamasari, Dewi. Psikologi Perkembangan III, (Curup: LP2 STAIN Curup, 2013)
Suryabrata, Sumadi. Psikologi Kepribadian, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2008)
Sobur, Alex. Psikologi Umum, (Bandung: Pustaka Setia, 2003)
Wikipedia.


Posting Komentar untuk "Analisis Aspek-Aspek Perkembangan Zakiah Daradjat (Sang Pelopor Psikolog Islam)"