Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Rapuh, Kata yang (mungkin) Salah untuk Disematkan Kepada Perempuan

Ilustrasi perempuan. Gambar oleh valentinus ardo dari Pixabay

“Aku Rapuh!”
“Perasaanku Rapuh!”
“Jiwaku Rapuh!”
“Aku Lemah, Gelisah, dan Mudah Rapuh!”

Begitulah kiranya temuan ungkapan-ungkapan ambyar kaum perempuan yang sering kita temui di postingan media sosial. Dari sana, sebagian orang yang tidak terlalu banyak menggunakan perasaan kemudian menilainya sebagai perempuan yang lebay, baperan, bahkan lemah.

Apakah para perempuan setuju dengan sematan ini?

Agaknya, tidak mungkin perempuan segera mengangguk tanda setuju. Yang ada, malahan mereka akan membela diri dengan menyebut bahwa kaum perempuan memang lebih banyak menggunakan perasaan daripada logika. Dari sanalah kemudian muncul perbedaan emosi.

Kaum perempuan sangat mudah berlinang air mata saat mereka dibentak, dimarahi dan dikasari. Sebagian orang mungkin memandangnya lemah atau bahkan rapuh, tapi?

Kenyataannya tidak selalu demikian. Kesedihan tadi hanyalah pewujudan dari emosi yang tak tertahan. Coba kita bandingan, mendingan menghadapi perempuan yang mudah menangis, atau perempuan yang mudah sakit hati dan menyimpan dendam?

Tentu saja pilihannya jatuh kepada menenangkan perempuan yang mudah menangis. Inilah sesungguhnya kunci hati seorang perempuan. Dari tangisan dan kesedihan, sebenarnya mereka ingin mendapat perhatian lebih serta tak mau ditinggal sendiri dalam kesepian.

Sebaliknya juga demikian. Jangan heran dengan perempuan yang mudah emosional dan menangis. Selain itu karena kecenderungan perasaannya, juga ada bukti ilmiah berdasarkan penelitian.

Perempuan. Gambar oleh Milan Permadi dari Pixabay 

Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh peneliti University of Basel di Switzerland. Peneliti mengatakan bahwa tidak ada yang salah juga dengan keadaan perempuan yang lebih emosional daripada laki-laki.

Dari hasil penelitian, mereka menjelaskan bahwa bukan "hati" yang menyebabkan kondisi ini, melainkan adanya perbedaan struktur otak antara seorang perempuan dengan seorang laki-laki.

Seiring perkembangan, perbedaan struktur otak ini kemudian membuka peluang terjadinya antipati, abai terhadap perasaan orang lain, dan tanda lain seperti kurangnya rasa penyesalan atau rasa bersalah. Meski begitu, tetap saja para perempuan selalu menggunakan pikirannya.

Barangkali gara-gara “kerapuhan” kaum perempuan, muncullah penilaian bahwa mereka banyak menggunakan perasaan dan hati. Namun, yang perlu diluruskan adalah, sejatinya perempuan juga sama-sama mengedepankan pikirannya, meskipun di sisi lain mereka juga perasa.

Buktinya? Jika melulu mengedepankan hati dan perasaan, tidak mungkin lahir seorang Menteri Keuangan perempuan seperti Sri Mulyani, mantan Menteri Perikanan dan Kelautan seperti Susi Pudjiastuti, serta para perempuan hebat lainnya. 


Memang benar bahwa kecenderungan perempuan adalah perasaan, tapi jika dituangkan dalam perilaku yang bijaksana, maka keputusan-keputusan yang diambil olehnya tetap akan berlandaskan dengan realita, logika, ideal, bahkan dari rujukan ilmiah.

Lalu, apakah sematan yang cocok untuk perempuan?

Perempuan Tidaklah Rapuh Melainkan Bengkok

Perempuan. Gambar oleh Milan Permadi dari Pixabay 

Pernah dengar ungkapan bahwa perempuan itu berasal dari tulang rusuk yang bengkok? Jika pernah, maka itulah kebenarannya. Perempuan tidak cocok disebut rapuh, tidak cocok disebut lemah, dan lebih cocok disebut bengkok. Mengapa?

Sejenak, simaklah hadis Rasulullah SAW berikut ini:

“Berbuat baiklah pada para wanita. Karena wanita diciptakan dari tulang rusuk. Yang namanya tulang rusuk, bagian atasnya itu bengkok. Jika engkau mencoba untuk meluruskannya (dengan kasar), engkau akan mematahkannya. Jika engkau membiarkannya, tetap saja tulang tersebut bengkok. Berbuat baiklah pada para wanita.” (HR. Bukhari, no. 3331 dan Muslim, no. 1468)

Hadis di atas mengisyaratkan bahwa sejatinya seorang perempuan itu memang bengkok karena diciptakan dari tulang rusuk. Karena dari awal sudah bengkok, maka tidak jalan lain untuk meluruskannya kecuali dengan memaklumi alias berbuat baik kepada seorang perempuan.

Adapun hadis yang seiras juga mengatakan bahwa:

“Wanita itu diciptakan dari tulang rusuk; jika kamu meluruskannya, maka kamu mematahkannya. Jadi, berlemah lembutlah terhadapnya, maka kamu akan dapat hidup bersamanya." HR. Al-Hakim (IV/174), dan ia menilainya shahih sesuai syarat Muslim, serta disetujui oleh adz-Dzahabi, Ibnu Hibban (no. 1308), dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiihul Jaami’ (III/163).

Ungkapan tulang rusuk, bengkok, dan patah kembali diulang. Isyarat ini seakan menegaskan bahwasannya seorang perempuan itu tidak bisa diperlakukan secara kasar atau pun dipaksa agar ia lurus baik dari sisi perasaan maupun sisi logika.

Begitu pula dengan perempuan yang sejatinya sudah bersuami. Mereka mungkin bisa diperintah, biasa diajak menurut, tapi tetap saja harus ada kelapangan hati, kesabaran, serta pemakluman dari seorang suami.

Bahkan, ada pula hadis lain yang menyebutkan bahwa perempuan itu sama halnya dengan gelas-gelas kaca. Gelas kaca, yang kita ketahui selain mudah pecah, juga rawan hancur. Apalagi kalau sudah pecah, tiada hal apapun yang bisa dilakukan untuk menyusunnya kembali.

Ilustrasi gelas kaca. Gambar oleh S. Hermann & F. Richter dari Pixabay

Lalu, apakah tulang rusuk yang bengkok ataupun sebuah gelas kaca mudah rapuh? Nyatanya tidak semudah itu. Rapuh itu sama halnya dengan sakit-sakitan dan rusak, beda dengan tulang rusuk bengkok maupun gelas kaca.

Dan, yang terpenting adalah, Allah telah memberikan keunggulan kepada kaum perempuan dari sisi kepekaan rasanya. Meski mudah emosi, mudah bawa perasaan, seorang perempuan sejatinya juga cukup mudah untuk memaafkan. Apa syaratnya? Tentu saja kejujuran.

Selain itu, keunggulan lain yang dimiliki oleh perempuan adalah kelembutan hatinya. Bahkan, kelembutan inilah yang mampu menjadi penghias keindahan perempuan itu sendiri. Jadi, perempuan juga kuat, kan?

Salam.
Ditulis oleh Ozy V. Alandika.

2 komentar untuk "Rapuh, Kata yang (mungkin) Salah untuk Disematkan Kepada Perempuan"