Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Apa yang Terjadi Hari Ini, Akan Ada Syukur atau Sesal di Masa Depan

Apa yang Terjadi Hari Ini, Akan Ada Syukur atau Sesal di Masa Depan_www.ozyalandika.com
Gambar oleh Michal Jarmoluk dari Pixabay.

Menyesalkah Anda karena masih hidup hari ini?

Menyesalkah Anda atas kehidupan yang terjadi hari ini?

Syukur atau sesal, mana rasa yang semakin menguat di hati Anda?

Apa yang terjadi hari ini, kita semua selalu yakin bahwa selalu ada takdir yang mengiringi kejadian. Ada yang sudah menikah, itulah takdirnya hari ini. Ada yang sudah meninggal, itu juga takdirnya hari ini.

Setiap orang memiliki jalan dan takdirnya masing-masing dan tidak bisa disama-samakan dengan orang lain. 

Tentang rezeki misalnya, ada yang rezekinya selalu lancar dan secara materi ia kaya, ada pula orang-orang yang mengalami nasib sebaliknya. Rezeki hari demi hari berasa macet, dan secara materi saat dihitung-hitung selalu kekurangan.

Apakah ini merupakan bagian dari takdir? Soal rezeki, tentu saja kita tak bisa menolak bahwa itu adalah takdir. Rezeki adalah takdir yang bahkan sudah diatur oleh Allah semenjak kita belum dilahirkan ke dunia. Tiap-tiap orang belum akan meninggal, kecuali rezekinya sudah tercukupkan.

Lalu, apakah orang-orang yang hari ini dianggap kaya merupakan bagian dari takdir Tuhan untuknya?

Untuk persoalan rezeki, kita tetap setuju 100% bahwa itu adalah urusan takdir. Tapi apakah rezeki itu sama dengan kekayaan? Agaknya tidak, beda sekali malahan. 

Secara, semua orang bisa kaya andai mereka mau berusaha dan bekerja sungguh-sungguh. Sebaliknya, rezeki akan didapat oleh semua orang walaupun dirinya tak beribadah dan bekerja --dalam catatan, ini bukan sekadar materi, ya!--

Apa yang Terjadi Hari Ini, Akan Ada Syukur atau Sesal di Masa Depan_www.ozyalandika.com
Gambar oleh Sasin Tipchai dari Pixabay 

Bedanya, orang-orang yang menjemput rezeki dengan cara beribadah dan bekerja, rezekinya akan lebih berkah bahkan mendapatkan pahala. Maka dari itulah, ada rezeki yang perlu kita dapatkan dengan cara berusaha, dan ada pula rezeki yang sudah dijamin oleh Allah.

Meski demikian, tantangan yang sering kita hadapi dalam menjemput rezeki adalah tentang syukur, sesal, dan kesungguhan dalam berusaha. 

Ada kalanya kita merasa lelah, sehingga memilih untuk banyak-banyak beristirahat daripada berusaha. Ada kalanya kita merasa kurang, sehingga lupa bagaimana caranya bersyukur. Kedua perasaan ini, efeknya baru akan kita rasakan di masa depan.

Apa yang Terjadi Hari Ini, Akan Ada Syukur atau Sesal di Masa Depan

Syukur atau sesal? Syukur hari ini pasti akan berefek besar di masa depan. Berusaha sungguh-sungguh di hari ini, pasti akan bebuah manfaat di masa depan. Dan sesal di hari ini juga akan membuka jalan tentang seperti apa kita di masa depan.

Contoh sederhana, misalnya kita menancapkan batang ubi kayu di tanah hari ini. Harapan kita, dalam beberapa bulan kemudian ubi kayu bisa dipanen dan kita nikmati. Terlepas dari banyak atau sedikitnya hasil panen, tetap saja apa yang kita tanam hari ini akan kita tuai di masa depan.

Kalau hasilnya banyak, apakah kita akan bersyukur? Tentu saja. Tapi, bagaimana jika hasilnya sedikit dan ubi kayu banyak dimakan hama tikus? Apakah kita akan kecewa? 

Bisa jadi. Ada penyesalan dan kekecewaan yang kita tujukan kepada hama yang berimbas kepada kerugian. Mungkin dulu kita kurang memperhatikan tumbuh kembang ubi kayu. Mungkin dulu kita hanya menanam lalu kemudian ditinggalkan. Dan, mungkin juga ini bagian dari ujian.

Berarti, apa yang kita kerjakan hari ini akan ada petikan sesal dan syukur di masa depan, kan? Yupp, beruntunglah bagi mereka yang telah memulainya hari ini. Terlepas bagus, cukup atau kurangnya hasil di masa depan, tetap saja mereka lebih baik daripada tidak sama sekali.

Apa yang Terjadi Hari Ini, Akan Ada Syukur atau Sesal di Masa Depan_www.ozyalandika.com
Gambar oleh falco dari Pixabay.

Maksudnya? Oke, kita kembalikan lagi ke kisah ubi kayu tadi. Anggaplah kita punya harapan bahwa dalam beberapa bulan ke depan kita akan memanen 100 kg ubi kayu. Tapi, karena harapan ini tidak dibarengi dengan usaha menanam ubi, akhirnya di masa depan kita tidak dapat apa-apa.

Jadi, menyesalkah kita? Barangkali ada penyesalan yang luar biasa bahwa mengapa dulu tidak kita tanam saja ubi kayu tersebut. Tapi, apakah penyesalan ini pantas? Rasanya tidak, ya! Terang saja, untuk apa menyesali harapan yang sejatinya tidak pernah mau kita usahakan.

Tanpa adanya usaha, jelas-jelas itu harapan hampa.

Akhirnya, rugilah mereka yang menyesali harapan-harapan masa lalu yang sejatinya tidak pernah diusahakan. Harapan apa pun, andai tak ada ikhtiar dan kesungguhan untuk mencapainya, maka tiada akan mungkin bisa berbuah manis. Jangankan mau berbuah, tumbuh pun tidak.

Maka dari itulah, bersyukurlah kita yang hari ini sudah memetik hasil usaha. Entah itu untung, entah itu rugi, tetap saja kita perlu meninggikan syukur dan menenggelamkan sesal. Setidaknya kita lebih baik daripada mereka yang hanya sekadar berharap kosong.

Jika memang mau menyesal, agaknya tidaklah perlu berlebihan. Hasil yang kita dapatkan hari ini bisa jadi merupakan bagian dari takdir Tuhan. Kita terima dahulu dengan syukur dan lapang dada, barulah kemudian kita evaluasi dan kita jadikan pengalaman berharga untuk ke depannya.

Jadi, jika kita ingin mengurangi banyaknya sesal di masa depan, mendingan kita maksimalkan syukur dan ikhtiar di hari ini. Semoga hidup kita di masa depan lebih cerah.

Salam.
Ditulis oleh Ozy V. Alandika

Baca Juga:

Posting Komentar untuk "Apa yang Terjadi Hari Ini, Akan Ada Syukur atau Sesal di Masa Depan"