Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Di Ruang Kerja, Terkadang Penjilat Bisa Menyamar Sebagai Malaikat


Gambar oleh Quinton Delmar dari Pixabay 

“Btw, adakah malaikat di ruang kerjamu?”

Di manapun tempat kerja, agaknya semua orang sangat butuh dengan kehadiran orang-orang baik. Entah itu pimpinan, karyawan, serta staf khusus semuanya ingin bekerja di ruangan yang harmonis. Tidak ada pertengkaran, permusuhan, dan juga tidak ada dendam.

Terang saja, suasana ruang kerja yang “rusuh” seringkali mengakibatkan karyawan seisi ruang kerja jenuh. Apalagi jika isinya orang-orang dewasa, makin banyak saja individu-individu yang keras kepala.

Yang tua alias senior merasa benar sendiri serta kenyang pengalaman, sedangkan yang muda alias junior cukup takut untuk melakukan gebrakan. Bayangkan bila terjadi peperangan di dunia kerja, apakah yang akan terjadi dengan penduduknya?

Agaknya, satu demi satu karyawan perlahan akan meninggalkan ruang kerja. Alasannya cukup kekanak-kanakan. Mulai dari jenuh, bosan, kesal, lelah, malas berjabat tangan dengan si A, malas bekerja sama dengan si Z, dan lain sebagainya.

Meski demikian, ada pula hal lain yang lebih mengesalkan di ruang kerja. Ya, hadirnya seorang perjilat yang bisa dengan cerdiknya memanfaatkan situasi “panas ” ruang kerja demi keuntungan pribadinya.

Apa itu karyawan penjilat? Apakah sama dengan seseorang yang suka jilat-jilat biskuit atau selai coklat lumer yang membasahi bibir? Kalau yang dijilat adalah biskuit dan selai coklat lumer sudah pasti enak. Sedangkan ini, atasan yang dijilat. Waduh!


Di depan atasan begitu baik, begitu ramah, begitu sopan dan ceria, sedangkan di belakang atasan malah bertindak sesukanya. Kerja sering telat, kewajiban hanya dilaksanakan sesekali, bahkan dinilai tidak becus oleh rekan sesama karyawan.

Yang lebih parahnya, rekan-rekan karyawan tidak tega dan takut memberitahukan fakta-fakta penjilat kepada sang atasan. Nanti dikira menjelek-jelekkan sang penjilat, nanti malah dituduh balik untuk cari muka, hingga akhirnya karir sang pelapor ikut berada pada zona merah.

Serba salah keadaannya. Jika tidak lapor atasan, rekan-rekan malah sakit hati melihat tindak-tanduk sang penjilat. Tapi kalau dilapor, bisa-bisa karir mereka yang terancam dan mendapat cap buruk dari atasan.

Lalu, bagaimana jika sang penjilat tetap dibiarkan merajalela?

Gambar oleh Pandan dari Pixabay 

Sudah pasti ini adalah alamat bahaya. Ibaratkan tunas mangga, membiarkan para penjilat berlama-lama di ruang kerja sama saja dengan mempersilakan mereka bertumbuh dan meninggi.

Bayangkan bila penjilat itu sama seperti koruptor. Cari muka sedikit demi sedikit, terus bertambah, terus lagi, dan akhirnya menghancurkan kedamaian seisi ruang kerja. Rekan kerja merasa dirugikan, atasan merasa dikecewakan, dan instansi kerja pun ikut mengalami kerugian.

Yang jelas, sebelum kedok sang penjilat terbobol, para rekan kerja akan terus merasa muak, mual, bahkan ingin muntah melihat perjuangan sang penjilat. Mau tidak mau, keberadaannya harus segera “dihapuskan” dari ruang kerja tercinta.

Caranya?


Pertama, jalin komunikasi positif dengan penjilat. Ya, sebagai seorang rekan kerja yang bijaksana, ada baiknya dekati dan lakukan komunikasi terlebih dahulu kepada sang penjilat. Bukan caci maki, bukan marah-marah, melainkan komunikasi positif untuk menyadarkan.

Tegur sang penjilat dengan cara yang baik, sopan, dan jelaskan kepadanya bahwa sikap cari muka alias menjilat itu tidak beretika. Siapa tahu dia segera sadar dan setan-setan yang bersemayam di hatinya segera menyingkir!

Siapa yang berani, coba! Tentu saja peran seorang karyawan senior sangat diharapkan di sini. Bukan untuk menggurui maupun merasa benar sendiri melainkan untuk berbagi pengalaman dan memberikan pengertian. Hitung-hitung, sekalian dakwah. Tidak ada salahnya, kan?

Kedua, tunjukkan bagaimana caranya bekerja secara profesional. Nah, ini juga penting bagi seorang pekerja. Tidak perlu marah-marah dan emosian berlebihan atas hadirnya penjilat. Pekerja hanya perlu bersabar, berkuat hati, dan terus menunjukkan sikap profesional.

Tunjukkan kepada sang penjilat bahwasannya bekerja dengan tekun dan giat juga dapat mendulang prestasi. Tidak perlu cari muka, kalau pekerjaan dan tanggung jawab kita kerjakan dengan sempurna, nanti juga atasan akan memberikan apresiasi.

Maklum saja, yang namanya pekerjaan itu butuh proses. Tidak mungkin seseorang yang baru kerja bisa langsung jadi bos dalam sekejap. Kecuali? Ya, kecuali perusahaan itu miliknya seorang. Hohoho

Dalam proses inilah kehebatan seorang karyawan akan diuji. Kuatkah ia menghadapi tantangan dan tekanan, sabarkah ia menghadapi berbagai macam masalah, serta bijaksanakah ia dalam mengambil keputusan. Bos yang hebat pasti peka dengan perjuangan karyawannya.

Ketiga, lapor atasan. Jika sang penjilat sudah dianggap keterlaluan dan mengesalkan seisi ruang kerja, maka tidak ada salahnya rekan kerja melaporkan kepada atasan. Melapor dengan sebenar-benarnya, dengan fakta yang tidak dipoles-poles, dan kalau perlu disertai dengan bukti.

Sebenarnya pelaporan ini tujuannya bukan untuk menjatuhkan sang penjilat, melainkan untuk mendapatkan solusi terbaik dari atasan. Siapa satu atasan alias pimpinan punya cara dan pendekatan yang berbeda untuk menyadarkan sang penjilat. Sekalian, agar karyawan lega.

Gambar oleh GraphicMama-team dari Pixabay 

Terakhir, daripada jadi penjilat, mendingan jadi malaikat. Barangkali pernyataan ini bisa disebut prinsip dalam bekerja. Ya, tidak bisa dimungkiri bahwasannya godaan jabatan dan uang dalam pekerjaan itu pasti ada. Siapapun bisa terpengaruh andai tidak miliki prinsip.

Maka dari itulah, membiasakan bekerja dengan prinsip menjadi malaikat bisa dijadikan salah satu solusi. Malaikat di sini bukan berarti mau dibodohi melainkan menjadi karyawan yang dibutuhkan dalam ruang kerja. Mau menolong rekan kerja, mau belajar, dan semangat bekerja.

Begitulah sebaiknya. Yang perlu diingat adalah, di manapun kita bekerja sudah sepantasnya kita jaga nama baik dari ruang kerja itu. Barangkali dari sisi gaji, kita masih merasa kurang banyak, tapi ketahuilah bahwa gara-gara ruang kerja itu kita bisa melanjutkan kehidupan.

Salam.
Ditulis oleh Ozy V. Alandika

Posting Komentar untuk "Di Ruang Kerja, Terkadang Penjilat Bisa Menyamar Sebagai Malaikat"