Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Awas, Learning Poverty! Begini Saran Mohammad Nuh untuk Mas Nadiem

Mohammad Nuh dan Mas Nadiem. Gambar diolah dari wikipedia.org dan wikimedia.org

Tidak terasa sudah lebih dari 4 bulan bumi Pertiwi berperang melawan pandemi Covid-19. Ngerinya, negeri Indonesia saat ini masih mencatatkan kasus tertinggi di ASEAN dan bersamaan dengan itu kita juga mengalami krisis di berbagai sektor.

Yang paling tampak dari krisis itu adalah di sektor ekonomi. Lihat saja di bulan Ramadan dan Syawal kemarin. THR dipotong, karyawan banyak yang setop kerja, bahkan UMKM juga kesulitan untuk mengembangkan diri. Semua serba susah hingganya kita harus masuk ke New Normal.

Meski demikian, ada sektor lain yang akhir-akhir ini perlu mendapatkan perhatian lebih. Ya, sektor pendidikan dan pembelajaran. 

Mengapa butuh perhatian lebih? 


Seiring dengan dikeluarkannya SKB 4 Menteri tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Tahun Ajaran Baru di Masa Pandemi Covid-19, seiring itu pula muncul kekhawatiran kita kepada dunia pendidikan.

Kekhawatiran itu adalah soal kesehatan dan keselamatan anak didik, belum tersedianya kurikulum darurat, belum efektifnya pembelajaran jarak jauh, hingga belum adanya standardisasi minimum untuk penilaian peserta didik di tahun ajaran baru 2020/2021.

Namun, lebih dari itu ada pula masalah besar yang siap menghantui dunia pendidikan bumi Pertiwi. Masalah itu bernama “Learning Poverty.

Learning Poverty alias kemiskinan dalam pembelajaran bisa saja terjadi karena kesusahan negeri menggelar berbagai sistem pembelajaran. Sistem pembelajaran daring misalnya, apakah ada jaminan bahwa siswa benar-benar mendapat asupan ilmu secara mantap?

Menurut Mohammad Nuh selaku Menteri Pendidikan Nasional Indonesia sejak 22 Oktober 2009 hingga 20 Oktober 2014, bukan tidak mungkin siswa-siswa yang tetap diluluskan selama masa pandemi ini tidak mendapat pembelajaran yang berarti.

Seperti contoh ada siswa yang tidak mengerjakan tugas atau menjalani pembelajaran karena terkendala oleh minimnya fasilitas, tentu saja ada dilema luar biasa yang mengakibatkan para guru mau tidak mau harus memaklumi keadaannya.

"Learning Poverty, kemiskinan dalam pembelajaran akan naik juga. Meskipun dia dicatat tetap tidak drop out, tapi dari sisi pembelajaran dia drop out karena gak lulus sebenarnya. Karena dia tidak mengalami proses pembelajaran itu," ungkap M. Nuh via CNN Indonesia (19/06/2020).

Lebih lanjut, Mendikbud di eranya Pak SBY ini juga mengajak Mas Nadiem untuk memperhatikan sektor-sektor yang bersinggungan langsung dengan pembelajaran di sekolah seperti kantin dan kurikulum.

Keberadaan kantin sekolah sangat berdampak pada pertumbuhan dan stabilitas ekonomi di sekolah, sedangkan kurikulum di era pandemi turut membasmi learning poverty yang selama ini menjadi perhatian besar negeri ini.

Dalam konteks yang lebih luas, World Bank menyebutkan bahwa saat ini, 53 persen anak-anak di negara berpenghasilan rendah dan menengah tidak dapat membaca dan memahami cerita sederhana pada akhir sekolah dasar. 

Di negara-negara miskin, angkanya mencapai 80 persen. Tingkat buta huruf yang tinggi seperti itu merupakan tanda peringatan dini bahwa semua tujuan pendidikan global dan tujuan pembangunan berkelanjutan terkait lainnya dalam bahaya. Lalu, bagaimana dengan Indonesia?

Dokpri

Dilansir dari KOMPAS, pada World Bank Review 2019 di awal bergulirnya tahun 2019 Bank Dunia secara terbuka mengatakan bahwa Indonesia tidak siap menghadapi Revolusi Industri 4.0. Bahkan, untuk 2.0 pun belum siap. 

Sebagai tambahan, Bank Dunia juga menulis bahwa rerata hasil belajar para pelajar di Jakarta lebih buruk dari rerata hasil belajar pelajar di pedesaan di Vietnam. Padahal secara kuantitas dan sumber daya Indonesia unggul jauh, tapi kalau sudah disindir tentang kualitas, entahlah.

Terlebih lagi hari ini pendidikan kita mendapat tantangan luar biasa yang bernama pandemi Covid-19. Bukan tidak mungkin kemiskinan dalam pembelajaran di beberapa waktu ke depan akan datang dan memperkeruh keadaan di era Merdeka Belajar.

Maka dari itulah kita merasa cukup beruntung karena memiliki Mendikbud Milenial yang bernama Mas Nadiem. Meskipun beliau sebelumnya tidak memiliki basis pendidikan secara khusus, tapi negeri ini tetap bisa digenjot maju memanfaatkan digitalisasi pendidikan.

Kebijakan-kebijakan yang tepat sasaran dan langsung ngena sampai ke unsur terbawah dari satuan pendidikan sangat kita nantikan, dan Mas Nadiem punya kapasitas untuk mewujudkan itu.

Memang, tantangan beliau di kursi Kemendikbud tidaklah mudah seiring dengan banyaknya permasalahan-permasalahan pendidikan. Hanya saja kita selalu punya harapan dan wajib ikut serta menggapai harapan tersebut.

Mau bagaimana lagi, untuk mengejar ketertinggalan pendidikan serta menghapus Learning Poverty kita butuh teknologi sebagai akselerasi. Pandemi mengajarkan banyak hal kepada negeri ini dan semoga saja pendidikan kita bisa semakin dewasa.

Salam.
Ditulis Oleh Ozy V. Alandika.


Posting Komentar untuk "Awas, Learning Poverty! Begini Saran Mohammad Nuh untuk Mas Nadiem"