Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tagar “Indonesia Terserah” Harusnya Sudah Cukup untuk Menyadarkan Kita

Viral tagar Indonesia Terserah. Foto dari Twitter @itsmeeyd via grid.id

Sedih dan bingung, barangkali dua sikap ini bisa kita lontarkan untuk menjelaskan keadaan Indonesia yang masih berperang melawan corona. Kita sedih karena hari demi hari kasusnya selalu bertambah, dan kita bingung mengapa banyak orang sudah tidak peduli dengan virus.

Padahal mulai dari Februari 2020 hinggalah hari ini, virus corona masih sama berbahayanya. Sudah tak terhitung lagi berapa jumlah anggaran yang digelontorkan pemerintah. Semoga saja negeri ini tidak terpuruk.

Kata “Terserah” yang kita tahu selama ini adalah dengungan putus asa sekaligus bentuk kekecewaan dari seseorang. Seiras dengan sikap masa bodoh, tak lagi bergantung, serta menyerahkan segala sesuatunya kepada yang Kuasa.

Berdasarkan tagar “Indonesia Terserah” yang sempat trending pada Senin (18/05/2020), terlihat ada tenaga medis yang masih berseragam APD menuliskan kalimat terserah dalam sebuah rumah sakit. Sedih kita, jangan sampai malah tenaga medis yang berputus asa.

Memang, negeri ini masih sulit menghindar dari fakta-fakta tentang keramaian di tengah PSBB. Pasar-pasar yang terus beroperasi masih menjadikan warga berkumpul. Begitu pula dengan rumah ibadah, sebagian besar jamaah masih memberanikan diri melawan corona.

Atas viralnya tagar “Indonesia Terserah” Dokter spesialis penyakit dalam Dr Andi Khomeini Takdir Haruni, SpPD(K) merasa bersyukur karena tagar tersebut dinilai merupakan respons kesadaran masyarakat atas bahayanya wabah Covid-19.

"Kami bersyukur kalau tagar itu ternyata membuat orang-orang terhentak dan kembali disiplin dan menerapkan protokol kesehatan," kata dokter Andi  pada Senin (18/5/2020).

Semestinya memang demikian. Kata terserah menghadirkan kita dua pilihan, mau bersikap masa bodoh atau mau menata ulang kembali kedisiplinan. Masalahnya hari ini kita masih dalam pandemi sehingga tidak ada alasan apapun untuk bersikap masa bodoh.

Terang saja, dari rumah dan dari kejauhan harusnya kita sebagai warga mulai berpikir panjang dan melambungkan empati kepada para perawat, dokter serta tenaga medis. Mereka berjuang berhari-hari dan berbulan-bulan di saat kita diperintahkan untuk WFH.

Saya yakin, petugas medis juga rindu dengan rumah. Mereka rindu dengan istirahat, dan mereka sangat ingin mendapat kebebasan. Tapi, kalau setiap hari kasus demi kasus terus bertambah, apakah mereka tidak tambah kesusahan dan bersemak hati?

Sejadinya, kita sebagai warga tidak cukup hanya sadar dan merenung saja. Mau sampai kita berdiam terus di rumah dan dikurung oleh virus corona. Maka dari itulah, kita sangat berharap agar para dokter dan tenaga medis tidak putus asa dan kecewa.

"Kemudian untuk video Indonesia Terserah, kami jelaskan bahwa kita sangat tidak berharap kalangan dokter menjadi kecewa, sejak awal kami selalu mengedepankan bahwa ujung tombak kita adalah masyarakat,"

Begitulah ungkapan Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo baru-baru ini.

Bersama kita lawan corona. Ilustrasi dari kabar24.bisnis.com
Sebenarnya, baik paramedis maupun kita semua pasti punya rasa kekecewaan atas terus bertambahnya kasus pasien positif Covid-19 setiap harinya. Terlebih saat kita membandingkan kasus dengan negara tetangga, semakin menimbulkan tanya apa saja kerja pemerintah.

Maka dari itulah, baik warga, aparat keamanan, hingga pemerintah semuanya tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Warga di sini sudah patuh dengan kebijakan sementara warga di sana asyik-asyik keluyuran, harus ada ketegasan.

Begitu pula dengan pemerintah. Tarik ulur kebijakan tidak akan menyelesaikan masalah. Kita sama-sama tahu bahwa saat ini pemerintah merupakan pihak yang terus menjadi sorotan. Tapi, memang begitulah semestinya kerja pemerintah. Menjadi pemandu untuk perang.

Akhirnya, semoga saja semangat untuk mengusir corona bisa terus digaungkan sampai akhir. Viralnya tagar “Indonesia Terserah” hanyalah bagian dari perwujudan kesadaran. Berarti, masih banyak warga yang peduli dengan keselamatan semuanya, kan?

Tentu saja, dan itulah kepastiannya. Semoga saja wabah ganas ini segera berlalu. Mari kita sama-sama berusaha dan berdoa.

Salam.

Posting Komentar untuk "Tagar “Indonesia Terserah” Harusnya Sudah Cukup untuk Menyadarkan Kita"