Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Refleksi Dark Joke Fizi, "Surga di Telapak Kaki Ibu, Bagaimana Bila Tak Punya Ibu?"

Fizi. Tangkapan Layar Upin Ipin Channel Youtube MalayTV
Ada yang berbeda dari serial Upin Ipin yang sempat tayang pada 25 Mei 2020 kemarin. Serial negeri Jiran yang muncul dengan episode "Syahdunya Syawal" ini memunculkan kritik dari netizen Indonesia.

Kritik ini bermula dari percakapan seru antara Mail, Fizi,Upin dan Ipin. Dalam serial yang telah tayang pukul 17.00 WIB di stasiun televisi nasional ini, Fizi mengutarakan celetukan tentang surga yang mengecilkan hati Upin dan Ipin.

“Harus, karena surga berada di bawah telapak kaki ibu,” Ucap Mail.

“Kalau tak ada ibu?” sahut Upin

“Maka tak ada surga.” Celetuk Fizi

Kalimat “kalau tak ada ibu” sungguh menyakitkan hati Upin dan Ipin. Secara, dalam serial kecintaan anak-anak ini Upin dan Ipin hidup sebagai dua anak kembar yatim piatu. Mereka hanya tinggal bersama Kak Ros dan Opa alias Nenek.

Wajar saja bila kemudian tokoh Mail dalam serial tersebut segera menabok Fizi. Memang peran Fizi dalam animasi yang berkisah di kampung Durian Runtuh suka ceplas-ceplos dalam berbicara.

Tak disangka ceplosnya baru-baru ini mengarah kepada surga. Ya, sepanjang yang kita ketahui, pernyataan Surga di Telapak Kaki Ibu adalah hadis yang cukup populer. Banyak pendakwah yang sering menyampaikan hadis ini. Begitu pula guru, pejabat pemerintah dan kyai.

Hanya saja, sebenarnya hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra sangat lemah bahkan dianggap palsu oleh Syeikh Nashruddin al-Albani. Hadits sangat lemah karena dalam sanadnya ada dua rawi yang tidak dikenal, yaitu Manshûr bin al-Muhajir dan Abu an-Nadhr al-Abbar.

Namun, kita tak perlu khawatir karena masih ada hadis dengan isyarat yang sama namun dicap hasan dan shahih. Artinya, bisa kita amalkan dengan berpijak padanya. Berikut isi hadisnya:
 
Wahai Rasûlullâh! Aku ingin ikut dalam peperangan (berjihad di jalan Allâh Azza wa Jalla ) dan aku datang untuk meminta pendapatmu.” Maka Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kamu mempunyai ibu?” Dia menjawab, “Ya.” Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tetaplah bersamanya! Karena sesungguhnya surga ada di bawah kedua kakinya.”

Hadits ini dinyatakan shahih oleh Imam al-Hakim, disepakati oleh Imam adz-Dzahabi dan al-Mundziri. Juga dikuatkan oleh Imam al-Haitsami, dan dihukumi sebagai hadits hasan oleh Syaikh al-Albani.

“Surga di Telapak Kaki Ibu, Bagaimana Bila Tak Punya Ibu?”

Gambar oleh Sabine van Erp dari Pixabay 
Sedikit merenungi Dark Joke alias candaan Fizi yang sudah terlanjur viral, sebenarnya seperti apa makna “Surga di Telapak Kaki Ibu?” Karena dalam adegan ini Fizi ditabok oleh Mail, berarti sangat jelas bahwa analogi yang disampaikan oleh Fizi itu bertentangan dengan dalil.

Ya, bagaimana mungkin jika ada anak yang hidup dan besar tanpa seorang ibu tidak kebagian surga?

Alangkah kasihannya anak-anak yang dibuang oleh ibunya sebagai imbas dari hubungan haram. Alangkah kasihannya pula mereka yang selama ini hanya “diangkat” sebagai anak. Begitu pula dengan anak di panti asuhan yang sampai saat ini tidak tahu siapa ibu kandungnya.

Maka dari itulah, kiranya kita perlu mengorek makna dari pernyataan “Surga di Telapak Kaki Ibu” berdasarkan tafsir dari hadis yang berjalur shahih dan hasan tadi.

Sejatinya, Allah memerintahkan kita untuk berbakti kepada Ibu. Terang saja, Ibu adalah sosok yang sangat berjasa bagi kita. Dalam QS Luqman:14 dikatakan bahwa “ibu telah mengandung dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapih dalam dua tahun.

Sedangkan menurut hadis di atas, bahwa merendahkan diri di hadapan ibu dan berusaha mencari keridhaannya dalam hal-hal yang tidak melanggar syariat Allâh Azza wa Jalla adalah sebab masuk surga.

Pertanyaannya, bagaimana dengan mereka yang tak punya Ibu?

Sebenarnya, banyak jalan untuk memasuki surga. Tercatat oleh nash, ada 8 pintu surga dan berbakti kepada orang tua termasuk dalam salah satu pintu itu. Namanya adalah babul walid (pintu berbakti pada orang tua).

Dari Abud Darda’ radhiallahu’anhu, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Orang tua adalah pintu surga yang paling tengah. Jika engkau mau menyia-nyiakannya, silakan. Atau jika engkau mau menjaganya, silakan” (HR. Tirmidzi no.1900, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah, no. 914).

Hadis ini menunjukkan isyarat bahwa sebagai seorang anak, kita mesti berbakti kepada orang tua, terutama saat keduanya masih hidup. Kata kuncinya adalah jangan menyia-nyiakan, karena ridha Allah bergantung kepada ridha orang tua.

Namun, bukan berarti pula bakti kepada orang tua berhenti saat keduanya telah meninggal. Meskipun orang tua kita zalim, orang tua berbeda kepercayaan, kita tetap wajib memberikan kebaikan, memberikan kelembutan, dan memperhatikan urusan dunianya.

Gambar oleh Michal Jarmoluk dari Pixabay 
Saat keduanya maupun salah satunya sudah meninggal, kita tetap dapat mengalirkan bakti sekaligus berkirim pahala untuk mereka dengan cara mendoakan, menjalankan wasiat, sedekah, dan menjadi anak shalih/shalilah saat masih hidup.

Sejatinya yang paling penting adalah “ingat” terlebih dahulu dengan orang tua teruama dalam doa, orang tua nomor 1. Doakan keduanya agar senantiasa diampuni oleh Allah, diberikan kasih sayang oleh Allah.

Selain itu, perbuatan yang juga merupakan wujud dari kebaiktian terhadap orang tua yang telah tiada adalah dengan menyambung silaturahmi kepada kerabat, sanak, saudara, serta sahabat yang sebelumnya baik dengan orang tua kita.

Baca Juga: Gara-gara Bicara Surga, Fizi dalam Serial Upin Ipin Jadi Trending

Saudara misalnya, jangan sampai ada kasus berebut harta warisan dari orang tua. Sungguh, dijauhilah hal-hal yang seperti itu.

Jadi, meskipun orang tua telah tiada, kita masih tetap bisa mencapai surga dengan berbakti kepada keduanya. Inilah pernyataan kuat yang bisa membantah ucapan dark joke Fizi yang mengatakan bahwa “tak ada ibu, tak ada surga.”

Yang perlu ditegaskan adalah, sebelum hari penentuan tiba, kita tak akan pernah tahu kebaikan mana yang akan mengantarkan kita ke surga. Jadi, tak ada jaminan bahwa anak yang punya orang tua akan masuk surga, begitu pula sebaliknya.

Akhirnya, bersyukurlah kita yang saat ini masih punya orang tua. Baik dalam suasana kejauhan maupun kedekatan, semoga kita tetap bisa memelihara keduanya dengan baik, berbakti seutuh dan setulusnya. Semoga saja kita dan kedua orang tua bisa bersama-sama tinggal di surga.

4 komentar untuk "Refleksi Dark Joke Fizi, "Surga di Telapak Kaki Ibu, Bagaimana Bila Tak Punya Ibu?""

  1. Awesome and interesting article. Great things you've always shared with us. Thanks. Just continue composing this kind of post. dark web links

    BalasHapus
  2. What a fantabulous post this has been. Never seen this kind of useful post. I am grateful to you and expect more number of posts like these. Thank you very much. dark web sites

    BalasHapus