Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

“New Normal” Indonesia, Tahap 1 Dimulai dengan Menyambung Nafas Ekonomi

Fase 1 New Normal Akan Dimulai. Foto diolah dari jes2ufoto via freepik.com

Akhir-akhir ini, kita cukup dihebohkan dengan pemberitaan dan penyebutan “New Normal” Indonesia. Ya, tidak mungkin rasanya negeri ini akan diam saja sembari menunggu keberadaan pandemi Covid-19 lenyap. Pemerintah harus gerak cepat untuk melawan krisis.

“New Normal” atau yang kita kenal dengan “Normal Baru” sebenarnya bukanlah istilah baru.
Normal Baru adalah sebuah istilah dalam bisnis dan ekonomi yang merujuk kepada kondisi-kondisi keuangan usai krisis keuangan 2007-2008 serta resesi global 2008–2012.

Karena sekarang kita juga sedang dilanda krisis akibat jajahan pandemi, maka negeri ini juga butuh “New Normal” untuk menyambung nafas ekonomi yang sudah direnggut oleh Covid-19. Tapi, semuanya harus tetap disandarkan pada protokol kesehatan yang berlaku.

Rasanya masing-masing dari kita sudah merasakan sendiri bagaimana terengah-engahnya nafas untuk mempertahankan isi dompet kita. Yang saat ini berprofesi sebagai pegawai dengan gaji tetap, mungkin enak. Tapi, bagaiamana dengan mereka yang sudah di-PHK?

Sedih dan prihatin sebenarnya. Tambah lagi dengan kas keuangan negara yang seakan sudah jebol demi mengusir pandemi dari negeri tercinta. Belum sempat ditambal dengan UMKM, pajak, serta investasi, kantong APBN sudah dijebol dengan Bansos dan pengeluaran lainnya.
 
Maka dari itulah, kalau negeri ini hanya menanti pandemi Covid-19 baru kemudian memperbaiki stabilitas ekonomi, maka entah sampai kapan kita bisa bertahan.

Saat ini kita serba kesusahan. PSBB diterapkan, tapi banyak masyarakat yang berkeliaran. Mudik dilarang, tapi banyak masyarakat yang pulang kampung. Masjid diberhentikan sementara, tapi masih banyak umat yang nekat menyebarkan virus kepada jamaah.

Jika kejadiannya terus seperti ini, bagaimana wabah jahat ini bisa pergi? Sudah hampir 3 bulan Covid-19 menjajah, mau tidak mau kita harus melakukan perubahan dan meningkatkan kemandirian. Salah satunya adalah dengan menjalankan skenario “New Normal.”

Tahap 1 New Normal: Menyambung Nafas Ekonomi Negeri


New Normal. Kita Sudah Siap? Foto dari tongstocker1987 via freepik.com

1 Juni 2020, ini adalah tanggal dimulainya fase pertama New Normal Indonesia. Tujuannya adalah untuk menyambung nafas ekonomi dengan mengaktifkan kembali industri dan jasa menurut protokol kesehatan Covid-19.


Dalam rencana itu, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengatakan bahwa jumlah pengunjung mal dan restoran akan dibatasi pada tahap pertama pemberlakuan tatanan kehidupan baru atau new normal selama masa pandemi Covid-19.

Hal itu disampaikan sang Marsekal setelah mendampingi Presiden Joko Widodo meninjau kesiapan prosedur standar new normal di Stasiun MRT Bundaran HI, Jakarta, Selasa (26/5/2020).

"Tahap pertama akan kita atur. Mal kapasitasnya 1.000 (orang) mungkin kita akan izinkan untuk 500 saja dan kita awasi. Kemudian tempat makan harusnya 500 hanya 200 saja," ujar Hadi saat memberikan keterangan, dikutip dari Kompas TV.

Rencananya, Rencananya, pemberlakuan New Normal dimulai di empat Provinsi, yakni DKI Jakarta, Sumatera Barat, Gorontalo, Jawa Barat plus 25 kabupaten kota.

Sebagai salah satu pusat pembelanjaan, Mal memang punya pengaruh besar dalam menyambung nafas ekonomi. Apalagi di kota-kota besar, kehadiran Mal seakan sudah membantu banyak masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Hanya saja, yang jadi pertanyaan sekarang adalah, bagaimana cara mendisiplinkan masyarakat agar Mal tidak menjadi tempat penularan virus? Inilah yang rasanya cukup berat untuk dijawab. Jangankan soal Mal, mematuhi PSSB saja tidak semua masyarakat mau ikut aturan.

Lagi-lagi ini merupakan sesuatu yang wajar. Jika Covid-19 kita ibaratkan sebuah badai, nyatanya kita tidak berada di perahu yang sama. Semua orang butuh uang untuk menyambung kehidupannya, dan jalan yang ditempuh juga berbeda-beda.

Maka dari itulah Jokowi memutuskan untuk menerjunkan aparat TNI dan Polri di titik titik keramaian. Hal itu untuk mendisiplinkan masyarakat di lapangan untuk mencegah terinfeksi corona.

"Pagi hari ini saya datang ke stasiun MRT dalam rangka untuk memastikan mulai hari ini akan digelar oleh TNI dan Polri pasukan untuk berada di titik-titik keramaian dalam rangka mendisiplinkan, lebih mendisiplinkan masyarakat agar mengikuti program kesehatan sesuai dengan PSBB," kata Jokowi pada Selasa (26/05/2020).

Memang, dari awal corona melanda hinggalah hari ini, pendisiplinan menjadi sesuatu yang cukup berat untuk diwujudkan. Alasan utamanya sudah pasti masalah ekonomi. Terang saja, jika perut masyarakat kosong, bagaimana mereka mau taat.

Baca Juga: Tagar “Indonesia Terserah” Harusnya Sudah Cukup untuk Menyadarkan Kita

Jadi, perwujudan fase 1 dari New Normal secara perlahan akan bisa menjawab keterpurukan ekonomi negeri. Ini adalah harapan kita bersama. Bagaimanapun keadaan negeri, ekonomi memang harus terus diupayakan untuk stabil. Semoga saja kita lebih dewasa menyikapinya.

Salam.
Ditulis oleh Admin Baik Itu Sederhana.

Posting Komentar untuk "“New Normal” Indonesia, Tahap 1 Dimulai dengan Menyambung Nafas Ekonomi"